
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Rossa berharap banyak pada mertuanya agar memberi izin.
Tampak segaris senyum terukir di wajah cantik yang perlahan mengeriput termakan usia.
"Kau lupa dengan pesan suamimu?" tanya mami Lusy dengan lembut.
Mami juga tidak ingin mengizinkan walau mami bisa memberikannya.
Rossa terdiam. Ia membuang nafasnya dengan berat lalu memaksakan senyum.
"Jangan membuatnya marah lagi! Bukankah dia sudah tidak lagi sesarkas dulu kan?"
Rossa mengangguk pelan. Meski sebenarnya ia tak bisa menganggap apa-apa dari sikap lembut suaminya akhir-akhir ini. Ia tidak berani mengartikan dan menyimpulkan lebih dari sikap dingin yang samar menghangat.
"Ayo, masuk dan sarapan dulu!" ajak mami Lusy.
"Mami duluan aja, Rossa sebentar lagi nyusul." Ia masih betah di taman.
"Ya sudah, mami tungguin yah." Rossa mengangguk, sedangkan mami Lusy segera berlalu dari sana.
Kapan bisa bebas dengan hidup yang sederhana seperti dulu? Ah, kangen mereka berdua.
"Jangan sedih, Nona! Nyonya dan Tuan seperti itu karena mereka sangat menyayangi Nona." Tukang kebun yang keberadaannya lagi-lagi dilupakan Rossa, pun kembali bersuara.
"Ah iya, Pak! Rossa tau itu." Iya tersenyum. Lama ia memandangi lelaki berusia matang yang berdiri tidak jauh darinya.
"Bapak tinggal di mana? Rossa kok jarang banget liat Bapak di sini?" Keningnya mengerut.
"Saya tinggal tidak jauh dari sini, Nona." jawabnya singkat.
"Kenapa gak di sini saja, Pak?" tanyanya lagi.
Lelaki itu tersenyum sungkan. "Sudah ditawarkan seperti itu sejak awal oleh nyonya dan tuan. Cuman, saya memilih pulang pergi karena masih ada yang harus saya rawat di rumah, selain merawat bunga-bunga ini."
"Siapa, Pak?" Tampak penasaran dan semakin ingin tahu.
"Istri saya, Nona." Rossa kaget. Pikirnya mungkin orang tua lelaki itu.
"Wah, Bapak hebat sekali. Bunga saja dirawat, apalagi istri Bapak? Gak kebayang jadi istrinya, Pak. Bahagia dan beruntung banget," puji Rossa.
Seperti ini yang aku maksud, Tuhan. Gak muluk-muluk, gak harus kaya. Sederhana tapi bisa membahagiakan.
"Saya permisi dulu, yah Nona," pamit sang tukang kebun.
Rossa tersadar dari lamunannya. "Oh iya, Pak!" Baru saja hendak pergi, Rossa kembali menghalanginya dengan pertanyaan. "Pulang dengan apa, Pak?"
__ADS_1
"Pakai motor, Nona." Rossa celingukan. Mana motornya? "Ah, itu di rumah belakang, Nona. Saya dan pelayan lainnya keluar masuk lewat sana." Mengerti gerakan Rossa.
Gadis manis itu mengangguk-anggukan kepalanya. "Mari, Nona!" Tidak ada jawaban dari Rossa. Gadis itu kembali melamun. Saat tukang kebun mulai agak menjauh, ia kembali menahannya lagi.
"Pak! Pak! Sebentar." Berjalan menghampiri orang yang dipanggilnya. "Tolongin Rossa kali ini dong, Pak."
...*****...
Sepuluh menit sudah berlalu, jarum jam sudah berada di angka 8. Di dalam rumah besar, Alvino terlihat baru saja turun dari kamarnya dengan tampilan rapi. Lagi-lagi matanya melirik pintu sebuah kamar yang bercat broken white. Ia akan berdiri di anak tangga terakhir barang sejenak, dan kembali melangkah setelahnya.
"Pagi, Mi, Pi!" sapa Alvino.
"Pagi, Vi!" balas sang mami.
Kali ini mata Alvino menatap kursi kosong di sebelahnya yang tak lagi asing di matanya.
"Gak bosen makan di kamar terus apa?" Duduk dan meraih secangkir kopi yang sudah disiapkan ibunya.
"Siapa, Vin?" Ayahnya pura-pura bertanya. Sementara ibunya sudah menahan tawa.
Kan, kan, hampa? Kangen? Ha-ha-ha ….
"Tau ah," jawabnya kesal lalu menyeruput minumannya.
Mami Lusy senyum-senyum dan memanggil seorang pelayan.
"Tolong panggilkan menantu saya di taman!" Ucapan itu membuat Alvino mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk malas.
"Ngapain dia di sana, Mi?" Gengsi yang mulai terkikis oleh rasa yang belum mau diberikan nama.
"Ya, menghirup udara segar lah. Bosen dikurung terus dia." Sengaja memicu simpati terpendam di hati putranya.
Batin Alvino. Tidak menyadari sama sekali kesalahannya selama ini. Dipikirannya selalu diri yang benar.
"Ada tukang kebun di sana gak, Mi?" tanyanya lagi dan mami Lusy mengangguk. "Ck, kenapa mami biarkan mereka berdua saja? Tukang kebun itu kan laki-laki." Cemburu yang beralaskan tapi tak mau mengakui tuk lebih pantas dibenarkan.
"Emang kenapa? Kenapa kalau laki-laki?" Mami Lusy sengaja mempermainkan perasaan anaknya.
Tidak lama kemudian pelayan yang tadi dimintai untuk memanggil Rossa, berlari masuk tergopoh-gopoh.
Mami Lusy mengernyit melihatnya. Ia lantas menghentikan sarapannya sebentar menunggu apa yang mau dikatakan pelayan tadi.
"Maaf, Nyonya! Ta-tapi tidak ada nona Rossa di sana. Katanya nona se-sedang pergi." Terbata gugup. Pasalnya ia tahu bahwa Nona muda rumah itu tengah mengandung, dan dilarang keluar rumah tanpa ditemani mertuanya sendiri.
Mami Lusy langsung bangkit berdiri. Sedangkan Alvino memutar kepalanya dan menatap tajam pelayan wanita di belakangnya.
"Pergi ke mana? Sama siapa?" tanya mami Lusy.
"Pe-pergi sendiri, Nyonya. Ka-kata tukang kebun itu, nona pergi mengendarai motornya, Nyonya."
"Apa?"
"Oh, sh*it!"
Tidak menunggu detik berikutnya lagi, Alvino bangkit dari duduknya dan langsung berlari ke luar menuju taman secepat kilat. Begitu juga dengan mami Lusy dan suaminya.
__ADS_1
Sampai di sana, tukang kebun langsung gemetar melihat kedatangan majikannya.
"Ke mana istri saya, Pak? Kenapa sampai bisa pakai motor, Bapak?" tanya Alvino tidak sabar.
Pertanyaan itu membuat suasana panik dan cemas berubah kaget.
Apa? Saya tidak salah dengar? Ini Tuan Alvino, kan? Tukang kebun.
Ya, Tuhan, apa aku sedang bermimpi? Mami Lusy.
Dia memang putraku. Aku akan jauh lebih bangga setelah ini. Tuan Dharma.
"Jawab, Pak. Saya sedang bertanya!" pekik Alvino yang hampir saja lost control.
"Maafkan saya, Tuan muda! Tapi saya tidak tahu Nona pergi ke mana. Nona memaksa menggunakan motor butut saya, Tuan." Lelaki itu dibuat semakin panik dari kepanikan yang sebelumnya.
Alvino mendadak seperti orang gila. Ia menyugar rambutnya dengan kasar. Entah dia sadar atau tidak, tapi ini hal terindah dari sikap bekunya selama ini.
"Seharusnya gak dibolehin, Pak! Gimana kalau … arrrrghhh."
Tidak menunggu lagi, Alvino berlari menuju garasi dan mengeluarkan mobilnya, karena Alex belum terlihat menjemputnya sampai sekarang. Tanpa memanaskan mesin, ia langsung menjalankan mobilnya dengan cepat keluar dari halaman rumah mega tersebut.
Sedangkan tukang kebun di sana terkena marah habis-habisan dari mami Lusy.
"Sabar, Mi. Papi udah telpon orang untuk mencarinya. Lagian Vino juga sudah bergerak. Mami tenang dulu yah." Tuan besar Dharmawan menenangkan istrinya.
"Gak bisa, Pi! Dia bawa motor sendiri, mami takut Membayangkannya." Tampak cemas dan khawatir meluap-luap.
Namun, dalam kecemasannya, ada sedikit rasa bahagia yang menguar dari dalam jiwanya.
Maafkan hamba, Tuhan! Tapi hamba bahagia melihat kekhawatiran di wajah putraku. Mungkin dengan begini dia mau mengungkapkan isi hatinya.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Nah, udah 2 bab kan 😁 Sekarang otor mau lemesin jari dulu. 🥰
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan like dan komen 🙏
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗
Ig author : @ag_sweetie0425
___________________
__ADS_1
Sayangku 😘 sambil nungguin bab selanjutnya, mampir di karya teman aku di bawah ini yah 😍 Ceritanya keren banget pokoknya 👍