
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...*...
...*...
...*...
Selama perjalanan menuju ke rumah sakit, Alvino merasakan begitu jauh bermil-mil. Alex yang mengendarai sudah mencapai kecepatan di atas rata-rata, masih saja dianggap Alvino seperti siput. Calon ayah mudah itu sudah seperti orang gila di dalam mobil.
Alex mencoba untuk tidak terpengaruh ketegangan dan kekacauan yang diciptakan lelaki di sampingnya saat itu. Ia tetap fokus mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, menyelip di antara kendaraan lainnya.
Alex berhasil mengendalikan kemudi, hingga mobil terparkir sempurna dengan selamat di depan rumah sakit. Alvino membuka pintu mobil secepat kilat dan berlari sekencang mungkin, masuk di dalam sana. Tidak peduli orang-orang yang melihatnya dengan ragam tatapan yang menjengkelkan.
"Glyn-ku?" tanyanya begitu tiba di depan IGD.
Ibu dan ayahnya seketika bangkit dari kursi tunggu, menatap putra semata wayang mereka dalam diam yang penuh luka dan takut.
"Jawab Vino, Mi! Mami yang jalan-jalan sama dia 'kan? Kenapa dengan istriku? Apa yang terjadi?" Nada-nada itu bukan lagi sebuah hal baru. Semua mereka sudah siap sejak tadi dengan kegilaan Alvino.
"Vin, papi minta maaf. Tenang dulu, Nak. Mami kamu juga sedang panik, kita doakan yang terbaik buat istri dan anakmu. Kita ...."
"Vino gak tau mereka bagaimana di dalam sana dan Papi nyuruh Vino buat tenang? Papi waras hah?" seru Alvino memotong perkataan sang ayah.
Tidak mendapat jawaban, lelaki tampan dengan pesona tiada tanding itu berbalik haluan pada adik sepupunya. Reza sudah pasrah dengan apapun yang akan dilakukan abangnya. Lelaki kalem itu pun siap dengan menunduk dalam diam.
__ADS_1
Tangan besar Alvino tiba-tiba menarik kerah baju lelaki itu dengan cengkeraman yang sangat kuat. "Apa yang Lo lakuin di sana hah?" teriak Alvino penuh amarah.
Bugh!
Satu pukulan keras mengenai rahang Reza, tetapi tidak ada niatan lelaki itu untuk menghindar sama sekali. Dari mimik wajahnya, ia sudah siap untuk itu. Ia bahkan merasa pantas menerimanya.
"Breng*sek, lo! Dia begitu percaya dan ingin jalan-jalan sama lo saking kangennya. Dia mohon-mohon sama gue untuk ngizinin dia pergi sama lo, tapi ini yang lo lakuin buat dia hah? Ngebiarin dia dalam bahaya gitu aja? Breng*sek lo!"
Sekali lagi Hantakan keras di tempat yang sama, hingga tubuh tegap Reza beringsut mundur menempel pada dinding. Darah segar keluar dari ujung bibir lelaki itu.
"Vin! Udah, maafkan adikmu. Ini salah mami, Sayang. Mami yang salah dalam hal ini. Salahin mami saja, Sayang." Mami Lusy langsung bergerak memeluk tubuh Alvino, mencegahnya menyerang Reza lagi.
Alvino yang seperti kesetanan melepas pelukan ibunya dengan kasar. "Ini jelas salah Mami, salah dia juga." Telunjuknya mengarah tepat pada Reza, kemudian ia berbalik menatap ke arah tiga orang pria berbadan kekar, lengkap dengan pakaian berwarna hitam.
Kaki Alvino segera berpindah dari hadapan Reza, menuju ke arah tiga pria yang berbaris di dekat pintu ruang IGD. Tanpa sepatah kata pun, pukulan demi pukulan melayang pada wajah maupun bagian tubuh lain tiga pria itu.
"Vin, Vin! Ini rumah sakit, nanti setelah ini kita bisa memberi hukuman pada mereka, tidak untuk sekarang, Nak. Papi tau ini gak mudah buat kamu, tapi papi minta tenanglah sedikit, marahmu tidak akan membantu istri dan anakmu di dalam sana. Tenang dan berdoalah!" Papi Dharma memberanikan diri menghentikan kegilaan putranya.
Wajah tampan itu masih berkilat penuh amarah, yang sebenarnya tersimpan banyak bongkahan ketakutan dalam dirinya. Khawatir yang berlebihan, membuat Alvino kehilangan kewarasannya.
"Untuk apa mereka dibayar kalau hanya membawa istriku dalam bahaya, Pi?" Nada suaranya mulai direndahkan. Alvino menatap sang ayah dengan tatapan kektakutan.
Sedikit demi sedikit, kemarahan lelaki itu mulai menguap berganti khawatir dan ketakutan yang menggunung. Lelaki pemarah yang terlihat kacau saat itu, membenturkan tubuhnya pada dinding sembari menunduk penuh penyesalan.
"Seharusnya aku tidak membiarkannya pergi, harusnya aku tidak mengikuti kemauannya," sesal Alvino.
Tak sampai berapa menit, pintu ruang instalasi gawat darurat terbuka. Dokter kandungan yang menangani Rossa keluar dari sana, disusul seorang suster di belakangnya. Alvino segara melangakah dan berdiri tepat di hadapan dokter.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, Dokter? Mereka baik-baik saja 'kan?" tanya Alvino tidak sabaran.
"Bagaimana keadaan menantu dan calon cucu saya, Doker?" Begitu juga pertanyaan yang sama dari mami Lusy.
Tanpa berbasa-basi, dokter itu langsung menyampaikan satu hal yang seketika mengguncang pijakan Alvino, mematahakan tulang, meruntuhkan seluruh dunia, serta memporak-porandakan kejiwaan lelaki itu.
Tubuh tinggi tegap dan gagah itu, merosot dan ambruk ke lantai dalam sekejap. Satu kata yang mewakilkan seluruh rasa dalam hatinya yaitu, hancur. Lebih hancur dari hidupnya yang dulu saat kehilangan Jenn. Alvino benar-benar hancur.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya .......
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Holaaaa, AG kambek 😁 double lagi nih 🤭
Jangan lupa like dan komen yah 😍
Penasaran??
__ADS_1
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗