
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...*...
...*...
...*...
Sejak kepergian Jenn dan Putri, hingga waktu telah menunjukkan pukul 22:00, Alvino belum juga kembali. Hal itu membuat Rossa gelisah setengah mati.
"Mi," sapa Rossa. Mami Lusy menoleh sebentar ke arah menantunya, dengan sedikit anggukan seolah bertanya ada apa. Orang tua itu tidak ingin membangunkan cucunya yang tengah lelap. "Kakak ke mana yah? Kok belum balik." Rossa tampak begitu khawatir.
Mami Lusy tersenyum kecil. "Kangen yah, sama papinya Gian?"
Raut wajah Rossa tak berubah sedikitpun, tetap terpancar kekhawatiran di sana. "Bukan, Mi. Rossa ...."
"Bentar lagi udah balik, Sayang. Dia sedang ada urusan sedikit. Tenanglah," jelas mami Lusy.
"Kok aku gak dikasih tau, Mi? Segitu gak pentingnya aku," keluh Rossa tidak terima.
"Kata siapa? Justru karena kamu begitu penting, makanya Vino gak mau ngasih tau. Semua yang dia lakukan saat ini, hanya untuk kamu dan Gian. Percayalah!" Mami Lusy memberi pengertian. Rossa yang mendengarnya hanya mengangguk meski belum puas sama sekali.
...*****...
Suara tangis baby Gian menggema nyaring memenuhi ruang rawat, pada waktu larut. Rossa dan mami Lusy tampak kewalahan menenangkan bayi itu. Diberikan susu formula maupun ASI, juga tidak mau.
Bayi mungil itu terus menangis membuat Rossa bingung dan bertambah kacau. Memikirkan Alvino yang belum juga kembali, ditambah sang bayi yang tak kunjung mereda tangisnya, gelisah makin besar mengerubungi ibu muda itu.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu ruang rawat terbuka dengan Alvino yang menyelonong masuk langsung mendekat ke arah bayinya.
"Kenapa, Sayangku? Jagoan kok nangis, sini sama papi." Tangan besarnya langsung mengambil baby Gian dari buaian mami Lusy.
Diliriknya sang istri sebentar, dan ia pun mendapati sorot tajam dari wanita cantik satu itu. Alvino hanya tersenyum sembari mengedipkan sebelah matanya, membuat Rossa mendengus kesal.
Selalu saja melemahkan hatiku dengan tingkahnya.
Batin Rossa sembari ingin tersenyum tetapi ditahan, dan hal yang menakjubkan pun disaksikannya. Baby Gian tampak mulai tenang dengan perlahan kembali terlelap dalam buaian sang ayah.
Rossa terbelalak tak percaya, sementara mami Lusy tersenyum melihat itu.
"Oh ... nangis cari Papinya toh rupanya!" ucap mami Lusy yang mendapat teguran dari Alvino untuk tidak berisik.
Wanita berusia senja itu langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Saat makhluk mungil itu telah sepenuhnya terlelap kembali, Alvino menidurkannya ke box dengan sangat hati-hati.
Ia lalu meminta mami Lusy agar tidur kembali, dan ia pun ingin menyelesaikan persoalan kecil dengan wanita cantik yang sedari tadi menyorotnya tanpa lelah.
Belum juga Rossa menjawab, satu kecupan kecil yang lama-lama menjadi luma*tan lembut dan dalam di bibir Rossa. Jemarinya lalu bergerak mengusap basah di bibir mungil sang istri.
"Mau marah? Ayo, marah!" Alvino tersenyum menatap dalam netra teduh Rossa. "Gak bisa yah? Auh ...," ringis Alvino berpura-pura, saat cubitan kecil mendarat di perutnya.
"Peluk," pinta Rossa sembari merentangkan kedua tangannya. Dengan senang hati Alvino mengabulkan permintaan kecil itu.
"Bilang aja kangen, gak usah sok nutupin dengan marah." Alvino memeluk erat sembari mengusap surai legam nan lembut milik istrinya.
"Khawatir Kakak kenapa-kenapa," lirih ibu muda itu dengan mengeratkan pelukannya. Ia menelusup di dada bidang Alvino dengan mata yang terpejam.
"Takut kehilangan aku?" tanya Alvino bercanda. Lelaki terkekeh gemas menemukan tingkah manja wanita luar biasa satu itu.
__ADS_1
Rossa mengangguk pelan. "Sangat takut ... jangan jauh-jauh dari aku dan Gian. Liat 'kan? Gimana dia tenang saat Kakak datang. Sama dengan maminya." Melerai pelukan mereka dan mata mereka "Akan selalu tenang saat Kakak di samping." Tersenyum dan kembali bertanya, "Tadi kalian sempat bertemu?"
Alvino terdiam untuk sesaat sebelum akhirnya mengangguk. "Jangan tanyakan tentang hal itu! Gak penting. Jangan bilang kamu ragu terhadapku, Glyn!" Menyorot tajam. Saat Rossa tertunduk, Alvino mendengus kesal. "Listen, tidak ada lagi perasaan apapun padanya. Aku tidak mau mengatakan apapun yang hanya akan mendapat keraguan, tapi aku akan membuktikan, bahwa hatiku telah sepenuhnya berhenti di kamu, sekarang dan sampai nanti, hanya kamu, Glyn. Entah sebesar apa cintaku sekarang, tapi satu hal yang pasti, di setiap detak jantung dan nafas yang berhembus, aku mencintaimu! Artinya, cintaku hanya akan lenyap saat mata ini tertutup untuk selamanya."
Ayat-ayat cinta itu melambungkan Rossa ke angkasa, menggugurkan keraguan yang sempat membelitnya.
"Terima kasih, Kak!" Satu hadiah di pipi Alvino, membuat lelaki itu ingin mengerang. "No, jangan mesum di sini! Ada mami dan Gian." Menghentikan aksi suami yang ingin berbuat lebih. "Sekarang aku mau tanya, Kakak dari mana saja? Ada urusan apa?" Kembali ke mode serius.
"Dari mana yah, hmm ... kasih tau gak yah?" Alvino menggoda sang istri. Lelaki itu menahan tawa ketika Rossa menggelitiknya. "Ok, ok, stop! Aku baru saja melakukan apa yang seharusnya kulakukan kemarin. Memberi hukuman pada wanita sia*lan itu dan kakaknya," ucapnya santai.
"Ha?" Rossa terbelalak. "Apa yang Kakak lakukan?"
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya .......
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hai, hai 👋
Jangan lupa like dan komen yah 😍
__ADS_1
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗