
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Malam merangkak jauh hingga melewati batas tengah malam. Hampir jam 3 dini hari, Rossa terusik dalam tidurnya. Rasa berat yang menindih perutnya, membuatnya susah bergerak tuk mengganti posisi.
Rasanya ingin bangun dan menghalau sesuatu yang terasa begitu membebaninya. Namun, di samping itu ada gelenyar hangat yang menempel pada punggungnya, menawarkan kenyamanan yang begitu menenangkan. Matanya masih teramat berat tuk terjaga. Kantuk itu masih berkuasa membuainya. Hanya gumaman kecil yang hampir tak terdengar keluar dari mulutnya. Bunga tidur kembali merayu tuk melanjutkan petualangan di taman delusi.
Antara nyaman dan terusik, Rossa kembali terlelap. Kenyamanan itu jauh lebih mendominasi ternyata.
Hari berkemas menggulung gelap begitu fajar dengan semangat mengintip di ufuk timur. Rossa tersadar dari mimpi indahnya. Rasa yang sama semalaman, masih jelas terasa tak berubah sedikitpun. Gadis itu menggeliat lalu membuka matanya dengan perlahan.
Hampir saja ia memekik saat mendapati sebuah lengan kekar berada di atas perut besarnya. Cepat-cepat ia menutup mulutnya kuat sebelum suaranya membangunkan Alvino.
Gadis itu mengangkat pelan tangan Alvino, ia lalu memutar tubuhnya dengan perlahan agar bisa memandangi wajah sang suami.
Seulas senyum tercetak di bibir ranumnya begitu melihat wajah tampan yang diam-diam selalu dipujanya sejak dulu.
Kenapa tidur di sini? Semalam pulang jam berapa? Gak mabuk kan?
Rossa mendekatkan wajahnya ke mulut Alvino lalu mengendus aroma yang terhembus dari sana. Tidak ada alkohol yang terendus, justru terpaan nafas hangat khas yang tercium.
Meskipun pikirannya bertanya-tanya, tetapi tak dipungkiri hatinya begitu bahagia mendapati sosok yang dinantinya semalaman, kini tertidur damai di sisinya.
Dalam waktu enam bulan lebih, ini pagi terindah sepanjang pernikahannya. Terbangun dengan pemandangan yang begitu mendamaikan. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari bangun dan melihat orang yang kita cintai ada di samping.
Kekaguman mendorongnya menggerakkan tangan tuk menyentuh pahatan indah di depannya. Pelan tapi pasti, jemari lentik itu menyentuh dan menyusuri garis wajah Alvino. Mulai dari alis, mata, hidung, rahang kokoh, dan terakhir tangannya terhenti di bibir Alvino.
Bibir ini telah banyak mencumbu wanita-wanita di luar sana. Apakah bibir ini juga yang telah mencumbu Jenn?
Rossa jelas cemburu. Senyum manis yang sedari tadi menghiasi wajah cantiknya mendadak sirna. Cemberut dan kesal sendiri. Ia hendak berbalik dan menarik tangannya, tetapi gagal. Rossa terdiam kaku begitu Alvino menahan tangannya.
"Kenapa berhenti?" Menatap lembut ke dalam netra coklat istrinya. "Teruskan, kamu sudah mengganggu tidurku." Meletakkan jemari Rossa kembali ke bibirnya lalu menggigitnya pelan.
Eh, sejak kapan dia bangun?
Gadis itu kaget. Tidak tahu saja bahwa Alvino sudah terbangun sedari tadi karena pergerakannya.
Tanpa suara, tanpa gerak, Rossa terdiam dengan tatapan lurus ke dalam netra legam suaminya. Meski demikian, debaran di balik dadanya tak bisa lagi terkontrol kinerjanya.
"Apa yang kamu pikirkan, hm?" Alvino menarik tubuh Rossa ke dalam pelukannya, meski tak sepenuhnya bisa mendekap tubuh berisi itu karena terhalang perut Rossa yang membuncit.
Rossa tampak menggeleng kecil dengan gerakan kaku.
"Banyak yang pernah menikmatinya, tapi selama enam bulan terakhir, seterusnya, dan sampai selamanya, hanya kamu yang akan menikmatinya." Alvino tersenyum lalu secepat kilat memagut lembut bibir mungil istrinya. Lagi-lagi Rossa dibuat kaget dan menahan nafas.
__ADS_1
Ah, kan? Dia tahu lagi … fix keturunan cenayang.
"Ke depannya, hanya kamu satu-satunya wanita yang akan bibir ini cumbui. I promise," bisikan Alvino terdengar merdu. Rossa seolah terhempas ke nirwana.
Mentari semakin bergerak naik, baik Rossa maupun Alvino masih betah di kasur. Masih betah menikmati cinta yang tersalurkan lewat ciuman lembut dan penuh mesra keduanya.
Alvino melakukannya begitu lembut dan penuh perasaan. Dia benar-benar menunjukkan rasanya lewat ciuman pagi ini. Sesekali kali ia akan menjeda sejenak, hanya untuk memberi ruang bagi Rossa tuk dapat menghirup oksigen.
"Aku merindukanmu, kerjaku tidak fokus." Menyatukan kening mereka. "Pikiranku selalu tertuju padamu, seolah semua yang kau lakukan adalah sihir." Ibu jarinya mengusap jejak basah di bibir Rossa karena ulahnya.
Rossa memejamkan mata menikmati semua perlakuan suaminya. Menikmati debaran jantung yang tak pernah berhenti berdetak untuk Alvino.
"Look at me." Rossa lantas membuka mata dan menatap suaminya. "Jangan pernah berpikir untuk pergi lagi dari hidupku. Tetaplah disampingku sampai nafas ini tak berhembus lagi. Aku mulai menyadari betapa aku membutuhkanmu. Duniaku mulai terang dan hangat karena hadirmu. Jangan coba tuk beranjak pergi, jika tak ingin melihatku hancur dalam gelap seperti dulu. Aku mencintaimu, dan hanya ingin mencintaimu seorang."
Rossa merasa ia akan mencair seperti garam yang larut dengan hanya tersentuh setetes air. Pernyataan cinta lelaki itu hampir saja menghentikan laju nafasnya.
"Haruskah aku percaya?"
Sebenarnya Rossa takut bersuara, tapi entah kenapa kalimat itu terlontar begitu cepat dan tak bisa ditarik kembali.
"Kau pantas meragukan aku." Alvino mengakui itu. "But no problem. Membuatmu percaya, adalah tantangan bagiku. I'll get it done. Selama itu, jangan coba-coba menjauhiku." Menangkup lembut pipi istrinya. "Sesenti saja jarakmu dariku, hukumannya tak main-main. Lebih ganas dan lama dari yang tadi." Satu kedipan nakal membuat Rossa merona.
Ia mendorong tubuh Alvino supaya bisa terbebas dan bangun, tetapi lagi-lagi Alvino menahannya.
"Mau kemana?"
"Bangun … mau keluar."
Dug!
Belum lagi rasa geli karena ulah Alvino, tendangan kecil di perutnya membuat ia tersentak dalam kegelian. Rossa meringis pelan dan itu terdengar di telinga Alvino.
"Ada apa, Honey?" Mendongak menatap istrinya.
"Di-dia."
"Dia siapa?"
"Dia." Menunjuk perutnya.
"Anakku?" Rossa mengangguk dan Alvino mendadak panik. "Kenapa? Ada apa dengan anakku? Dia kenapa?" Bertanya dengan tak sabar.
"Dia menendang," Tawa Rossa pelan.
Alvino melongo, bingung tak mengerti. Rossa lalu mengambil tangan Alvino dan menempelkan ke perutnya. Sedetik kemudian tendangan kecil itu berhasil menarik perhatian Alvino. Ia dan Rossa saling menatap. Senyum Rossa mengartikan segalanya dengan mudah.
Mata Alvino membulat sempurna penuh binar bahagia dan kagum.
"Di-dia menyapaku? Dia mendengarku?"
Rossa kembali mengangguk dengan senyum yang tak pernah luntur. Rasa haru menyeruak di dadanya, perih di netra legamnya seolah tertancap butiran kristal yang siap meluncur. Benar, butiran-butiran itu luruh seketika bersamaan dengan Alvino yang menenggelamkan wajahnya di perut Rossa.
__ADS_1
Getaran kecil di pundaknya menyadarkan Rossa bahwa lelaki pemarah itu sedang terisak.
"Kak!" panggil Rossa pelan sambil mengelus punggung lebar yang dipujanya.
Alvino mengangkat wajah setelah mencium perut sang istri dan menghapus basah di pipinya.
"Apa dia sering seperti ini?"
Rossa masih tersenyum dan mengangguk. "Dia selalu seperti ini ketika di dekatmu. Dia akan berlonjak girang saat berdekatan denganmu."
"Benarkah? Dia memang anakku! Terima kasih, Honey." Alvino bangun dan menghujani wajah dan perut besar gadis ayu itu dengan ciuman.
Alvino beranjak meraih ponsel yang semalam ia taruh di atas nakas, lalu melakukan panggilan telepon.
"Bawa barang-barang dari kamarku pindahkan ke kamar Rossa. Cepat!"
Panggilan telepon berakhir, Alvino tersenyum cerah sekali pagi ini.
"Sehat selalu di dalam sana, jagoan. Papi menunggumu dengan tak sabar." Kembali memeluk perut besar sang istri.
"Kak, kenapa barang-barang dipindahkan ke sini?"
Alvino tidak menggubris, ia masih larut dengan dunianya sendiri. Ia menemukan satu kebahagiaan yang luar biasa pagi ini.
Rossa tak mau lagi bertanya, membiarkan lelaki itu bermonolog dengan perutnya. Rossa sendiri merasakan kebahagiaan yang tak terkira. Pagi ini hati dan jiwanya dilumuri cinta yang melimpah ruah.
Jika ada alat untuk mengukur kebahagiaan, aku rasa … akulah wanita yang paling berbahagia di dunia ini.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hah, lemes juga jarinya 😅 Gak papah deh, yang penting kalian puas, aku seneng 🥰🤗
Terima kasih buat kalian yang selalu setia menunggu 🙏
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak (like, komen, vote, kembang, maupun kopi. Jangan lupa di favoritkan juga yah 🤭)
Etdah, banyak mauuuu 😅😅 Ah, kan sukarela gak malak 🤭😁
Dah, ah, lunas kan? Sampai jumpa di episode berikutnya besok yah 🤗
__ADS_1
Ig author : @ag_sweetie0425