
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Terik matahari yang menyengat, seolah membakar habis emosi dalam diri Alvino. Lelaki tampan satu ini, benar-benar telah kehabisan kesabaran yang tidak seberapa dalam dirinya.
Langkah kakinya yang besar membawa tubuh tegap itu, masuk pada sebuah ruangan yang minim pencahayaan. Ruangan dengan sebuah kursi yang berada di tengah-tengah tepat di bawah pencahayaan lampu. Ruangan yang tanpa jendela dan hanya ventilasi kecil, lebih mirip dengan ruangan interogasi.
Seorang wanita cantik tengah duduk di sana, dengan tangan dan kaki yang terikat. Penampilannya tampak acak-acakan dan terlihat letih.
Melihat dua pria yang baru saja masuk, wanita yang sedari tadi menunduk itu langsung menegakkan kepalanya. Ia menyorot dua pria di hadapannya saat itu dengan tajam dan penuh kebencian.
Tanpa basa-basi, Alvino mendekat dan langsung mencengkram pipi wanita itu dengan sebelah tangannya.
"Berani sekali kau ingin mencelakai istriku?" tanya Alvino dengan cengkeraman yang makin menguat.
Tanpa takut, wanita yang tidak lain adalah Filensya, menatap Alvino dengan sengit. Ia berusaha menggerakan kepalanya agar bisa terlepas dari cengkeraman lelaki yang tengah berdiri di depannya saat itu.
"Dendamku yang memaksa melakukan itu. Kenapa? Kenapa aku tidak boleh melakukan apapun di saat aku tertekan dan tersakiti? Jika Anda bisa melakukan apapun, maka aku pun bisa!" teriak Filen dengan lantang.
Plakkk!!!
"Tu-Tuan!"
__ADS_1
Alex sedikit memekik kaget kala Alvino melayangkan tamparan keras pada Filensya. Di samping itu, Filen meringis perih tetapi tidak dapat melakukan apapun, bahkan untuk menghindar pun tidak.
Alvino kembali bertindak bengis. Dengan kasar ia menarik rambut wanita itu ke belakang. Tidak ada rasa iba sedikitpun.
"Dendammu tidak ada sangkut pautnya dengan istriku. Sudah kukatakan, lakukan apapun yang kau ingin, tetapi jangan pernah menyentuh istriku sedikit saja. Aku selalu siap menunggu serangan darimu dan kakakmu itu." Alvino berkata-kata dengan penuh penekanan.
"Sayangnya dendamku tak mau tahu, apapun yang berhubungan dengan Anda, semuanya dalam target dendamku." Lagi-lagi Filen tidak gentar.
"Kau …."
Cengkramannya pada rambut Filen semakin kuat. Meskipun sakit, Filen masih sempat untuk tersenyum sinis.
"Anda bisa merampas semua kebahagiaanku, membuat aku kehilangan dua orang yang sangat berarti. Kenapa Anda harus takut menghadapi kenyataan yang sama? Bukankah karama …."
Kata-kata Filen terhenti. Sudut bibirnya yang ternyata robek dan berdarah, malah terangkat setengah. Wanita itu tersenyum penuh ejek kala Alvino mencekal lehernya.
"Karma tahu pada siapa dia harus datang. Dengar baik-baik wanita sia*lan! Apa yang terjadi padamu, itulah karma yang sesungguhnya. Aku tidak melakukan apapun, semua itu terjadi begitu saja, dan itu merupakan hasil tuaian yang kalian tabur. Mengambil barang milik orang tanpa sepengetahuan pemiliknya, maka kamu pun akan kehilangan apa yang menjadi milikmu tanpa menunggu persetujuan darimu!"
Wanita itu tampak melemah. Tidak ada tindak perlawanan seperti awal tadi, sementara cekalan Alvino semakin kuat.
Melihat itu, Alex tak bergeming. Sesuatu mendorongnya hingga dengan lancang, ia menghentikan Alvino dari kegilaannya.
"Cukup, Vin! Dia bisa mati," kata Alex. Ia menahan sebelah tangan Alvino yang masih bertandang di leher jenjang Filen.
Alvino belum bereaksi. "Jangan ngotorin tangan lu dengan hal begini. Dia bukan lawan lu, Vin. Kita masih punya banyak cara untuk memberinya pelajaran." Lagi kata Alex.
Tetap saja tidak ada pergerakan sedikit pun dari lelaki berlesung pipi itu. Alvino semakin kalap, sedangkan Filen makin lemah.
"Vin, ingat istri dan calon anak lo. Dia tidak akan mau lo lakuin hal kayak gini. Dia gadis yang baik, Vin! Hal buruk tidak akan mendekat padanya, seperti kata Lo tadi. Karma tahu pada siapa dia harus datangi. Jangan lakukan hal konyol ini untuk mengotori tangan dan Citra diri lo, Vin!"
__ADS_1
Alex pantang menyerah dalam menyadarkan Alvino. Rupanya kali ini ia berhasil. Lelaki itu perlahan melepaskan cengkeramannya dari leher Filen.
Mendengar kata istri, pikiran lelaki itu langsung berlarian ke rumah. Perasaan ingin cepat pulang dan menemui calon ibu dari anaknya itu, serta merta melenyapkan emosi dalam dirinya.
Alvino membuang nafasnya secara kasar, melepas sisa-sisa amarah yang masih menempel di dinding jiwa. Ia menarik tangan dan dengan angkuh merapikan jas yang masih membalut tubuh atletisnya.
"Bereskan dia!"
Usai mengatakan itu, Alvino langsung melangkah keluar begitu saja, meninggalkan Alex dalam kebingungan.
Gue harus apa? Nganter dia dulu atau … arrgh, ngomong gak jelas lagi.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Halooooo epribadeeeh 👋
Maaf, baru muncul lagi 😁
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah. Karena sepi makanya aku malas-malasan up 🤭
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗