
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Alvino tersentak dan langsung mengangkat kepalanya, kala suara dokter berpadu dengan suara tangis kencang yang bersahut-sahut. Tubuh tinggi tegap yang sedari tadi membungkuk di samping istrinya, seketika menegak.
Genggamannya pada tangan Rossa mengendur dengan tubuh yang gemetar hebat. Ia terpaku, tertegun, dan tak bergerak sedikitpun dari tempat, kala tatapan elangnya jatuh pada sosok mungil yang berada di tangan dokter.
Bibirnya bergetar ingin melisankan banyak kata, tetapi terlalu kelu dengan rasa yang meluap-luap. Lama matanya terus terpaku pada sosok mungil itu, hingga kembali ia menjatuhkan kepalanya di dekat sang istri.
Lirih terdengar lagi isakan kecil dari bibirnya, dengan tubuh yang berguncang hebat. Berulangkali ia mengecup kening dan telapak tangan sang istri yang masih damai dalam ketidaksadaran.
"Glyn," lirih Alvino di telinga Rossa.
Lelaki itu berusaha keras agar tidak mengeluarkan air mata, tetapi tetap saja hatinya lemah. Tangisnya makin menjadi, tetapi dalam konsep yang berbeda. Jika awal tadi ia menangis karena takut dan tidak rela, sekarang adalah tangis haru tiada tara.
"Aku mencintaimu, Glyn! Sangat mencintaimu." Mengecup kening dan jemari Rossa bergantian. "Terima kasih sudah berjuang." Lagi-lagi mengecup kening istrinya. "Terima kasih telah mengabulkan harapanku. Aku mencintaimu, Glyn." Berpindah mengecup telapak tangan. "Bangun dan lakukan apapun yang kamu mau, giliran aku yang akan mengabulkan semua inginmu."
"Tuan!" panggil sang dokter. Alvino menengadah dan langsung menegakkan tubuh kembali. Mata elang itu menatap takjub makhluk kecil di hadapannya. "Ini bayi Anda," ucap dokter seraya memindahkan bayi mungil dalam gendongannya kepada Alvino.
"Selamat, Anda telah menjadi seorang ayah!" kata dokter.
Dengan tangan yang gemetaran, Alvino mengambil dan menimang makhluk kecil dalam gendongannya. Ada bahagia yang berbeda dari semua rasa bahagia yang pernah ia alami sepanjang perjalanan hidupnya.
Alvino tersenyum di balik tangis. Badai haru masih besar menenggelamkan jiwanya dalam kebahagiaan, hingga sepatah kata pun tak mampu ia ucapkan.
__ADS_1
Ia menunduk dan mencium bayi itu, meraih tangan halusnya lalu dikecup penuh cinta. Waktu lama ia habiskan untuk menatap wajah mungil itu, mengukir dengan kasih sayang lalu membingkainya dalam kanvas hati yang paling indah.
"Selamat datang jagoan! Terima kasih sudah berjuang bersama Glyn-ku!" Tangan besarnya mengusap pipi mulus sang bayi dengan cinta. "Selamat datang di keluarga Dharmawan!"
...*****...
Langit beserta semesta telah dilukis gelap, tetapi pekat itu tak lantas memadamkan suasana bahagia yang tengah dirasakan seluruh keluarga besar Dharmawan. Wajah-wajah haru memancarkan bahagia dari setiap mereka yang hadir di sana.
"Gantian, Mi."
"Reza juga mau gendong, Om."
"Sabar ih, mami belum puas!"
Suasana bahagia dalam ruang rawat VVIP itu sangat mendominasi. Tiga orang di sana sibuk berebutan ingin menggendong bayi Rossa dan Alvino.
Pintu ruangan itu terbuka dengan seorang perawat yang masuk lebih dulu, disusul dokter dan beberapa perawat, juga Alvino yang tampak mendorong brankar istrinya.
"Cepatlah bangun Glyn-ku. Lihatlah, mereka sangat bahagia atas kehadirannya. Dia sangat tampan seperti diriku." Alvino tersenyum lalu mengecup kening Rossa. Tidak mau sedetikpun ia beranjak dari sisi wanita yang telah menyematkan panggilan baru baginya.
"Siapa namanya, Vin?" tanya mami Lusy.
Alvino menoleh sebentar lalu bangkit dari duduknya lalu menghampiri mereka yang tengah mengerumuni buah hatinya. Dengan lembut ia mengambil bayinya dan kembali mendekat ke arah ranjang. Ia menatap istrinya bergantian dengan sang bayi dalam gendongan.
"Gian ... Gian Ravindra Dharmawan," ucap Alvino dengan senyum manis.
"Artinya?" tanya Reza dengan cepat.
"Gian adalah anugerah Tuhan yang paling indah, dan Ravindra yang berarti kekuatan matahari. Dia adalah anugerah terindah dari Tuhan untukku dan Glyn. Hadirnya bagai matahari yang menerangi dan menghangatkan dunia kami." Lagi Alvino menghujam wajah mungil itu dengan ciuman.
"Nama yang indah." Papi Dharma tersenyum senang lalu bergerak mengambil alih sang cucu dari gendongan Alvino. "Aaa, ini dia kesayangan grandpa. Tumbuh jadi anak yang kuat dan cerdas seperti grandpa yah, Sayang."
__ADS_1
Alvino seketika mendelik. "Seperti papinya," geramnya kesal.
Semua mereka yang ada di sana terkekeh mendengar itu. Alvino kembali menatap wajah sang istri, tidak menghiraukan lagi mereka yang sibuk memperebutkan buah hatinya.
Terima kasih, Tuhan! Terima kasih, telah menyelamatkan mereka berdua. Semua yang aku miliki, tidaklah mampu menandingi arti kehadiran mereka berdua dalam hidupku.
Doa Alvino dalam hati. Ia masih tidak percaya dengan semua yang telah terjadi. Cara takdir memberi kejutan dalam hidupnya sungguh luar bisa. Untuk sesaat ia merasakan dunia runtuh menindihnya dalam kubangan nestapa, lalu dengan perlahan takdir itu membangun kembali reruntuhan-reruntuhan yang sempat hancur, dan menguatkan pijakannya yang sempat rapuh. Takdir itu telah membawa terang yang menghangatkan seluruh dunianya.
Tadi kau membuatku takut setengah mati. Aku pikir, mungkin dunia telah berhenti berputar. Kau tahu? Kau membuatku hancur dalam pilihan tersulit seumur hidup. Aku bagai berjalan di atas serpihan-serpihan es yang tipis dan rapuh. Aku tertatih kaku dan meraba dalam gelap. Salah melangkah sedikit saja, aku akan tenggelam dan mati dalam dinginnya samudera luka dan penyesalan. Setidakberdayanya aku jika tanpamu.
Alvino memejamkan mata dan membayangkan kembali kejatuhannya beberapa jam lalu. Laki-laki itu tersenyum kecil.
Terima kasih telah hadir dan menyempurnakan hidupku. Tak ada kata indah yang bisa kurangkai tuk mewakilkan segenap rasaku padamu. Aku bukan seorang Kahlil Gibran yang bisa berpuitis indah, aku hanyalah seorang Alvino yang tidak akan pernah berhenti untuk mengatakan 'aku mencintaimu' di setiap embus nafasku.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya .......
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Halo semuanya 👋 Selamat pagi, happy Sunday 😇
Jangan lupa like dan komen yah 😍
__ADS_1
Sampai jumpa di episode berikutnya nanti sore 🤗