
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Apa telingaku bermasalah?
Batin Rossa dilema antara percaya dan tidak, atau pura-pura tidak mendengar saja lebih baik.
Tidak Rossa, jangan mendengar itu! Ingat cacian dan makiannya!
Berusaha untuk tetap menguatkan hati. Ia tidak ingin lemah lagi. Cukup sudah penghinaan lelaki itu yang selalu merendahkannya.
"Lepaskan aku!" Mencoba mendorong tubuh Alvino yang masih mengungkungnya.
"Tidak akan pernah!" ucap Alvino tegas tanpa ingin bergeser sedikit pun.
Masih sesenggukan kembali Rossa menampiknya. "Tidakkah kau jijik dengan wanita j***ng ini?"
Alvino terdiam lalu menunduk memejamkan matanya. "Jangan mau menanggung malu untuk memungut sampah murahan sepertiku!"
"Cukup!" Pelan tapi masih tegas. Tidak sanggup rasanya melihat air mata yang tak kunjung mereda di pipi Rossa.
"Itu yang kau katakan. Kenapa aku harus menghentikannya? Teruskan saja, biar dunia tahu kalau aku hanya j***ng mu**han yang mengotori kehidupanmu!" Tajam sekali ucapan Rossa.
"Aku bilang cukup!" teriak Alvino menggelegar.
"Tidak akan lagi kali ini!" pekik Rossa tak kalah meninggi.
"Sudah cukup aku mengalah dan berdiam diri! Sudah cukup aku menyimpan semua rasa sakitku berbulan-bulan!"
Alvino tertampar ucapan istrinya. Perlahan ia bergerak menyingkir dari perut besar Rossa. Laki-laki itu terpaku bodoh.
"Sudah cukup aku diam selama ini. Pernahkah aku menuntut sesuatu darimu? Pernahkah aku membantah aturan gila yang kau buat selama ini? Pernahkah aku membalas cacianmu? Pernahkah aku mengeluh? Sekali saja, tidak!" Kini ia bangun lalu duduk di bibir ranjang. Bicaranya tersengal dengan nafas yang turun naik karena sesenggukan.
Sedangkan Alvino berdiri mematung tak bisa lagi menyela atau menampik ucapan Rossa yang membeberkan segala bebannya selama ini.
"Aku pun tidak ingin membela diri. Karena air laut tidak pernah menjelaskan rasanya asin. Kau tau pasti seperti apa diriku. Ataukah kau ingin menyangkali rasa saat kau puas menikmati tubuhku?" Mengingatkan Alvino akan malam panas mereka saat di hotel dulu. "Sungguh kau menyangkalnya? Benarkah rasaku sama dengan j***ng yang mu**han?"
"Aku mohon cukup, Rossa!"
Deg!
Jantung Rossa berdebar pelan dengan irama yang mengalun indah.
Dia menyebut namaku? Apa lagi ini, Tuhan? Jangan membuatku lemah!
Untuk pertama kali, Alvino menyebut namanya. Ada rasa sejuk yang menyentuhnya saat itu, tapi ia tak mau untuk terbuai. Gadis itu benar-benar telah membulatkan tekadnya untuk bercerai.
__ADS_1
"Kalau begitu cukupkan semuanya, akhiri ini agar kau puas dan aku pun tenang." sanggah Rossa.
"Maksud kamu apa? Aku tidak akan menceraikanmu! Tidak akan pernah!" tegas Alvino.
"Dan aku pun tidak ingin terikat hubungan apapun denganmu lagi!" balas Rossa masih berapi-api.
Sakit. Itu yang dirasakan Alvino. Untuk kedua kalinya ia merasa tidak dicintai dan tidak diinginkan. Luka yang dulu terbuka lagi, tetapi dengan orang yang berbeda.
Alvino menatap Rossa begitu dalam tanpa sepatah kata pun.
"Aku mohon, bebaskan aku dari ikatan ini! Aku lelah, aku tidak sekuat yang kau bayangkan. Aku lemah, hati ini rapuh. Aku terluka berulang kali, aku terus dibantai kekecewaan, dan aku tak sanggup lagi. Mohon akhiri semua ini!" Rossa kembali menangis.
Segumpal daging di balik dada Alvino rasanya tersayat-sayat. Matanya belum lepas menatap Rossa.
"Apa kau tidak memiliki sedikit saja rasa untukku? Tidakkah kau mencintaiku sedikit saja?" Suara Alvino bergetar.
Aku terlalu mencintaimu. Itu hanya bisa terucap dalam hati Rossa.
Rossa membalikkan tubuhnya membelakangi Alvino. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan bodoh itu. Tangannya berulang kali terangkat menyapu basah di pipinya.
Percuma aku mengatakannya, jika kau tidak ingin mengakui anakmu sendiri.
"Tolong jawab pertanyaanku!" Entah mengapa, Alvino menjadi lemah kali ini. Tidak ada lagi emosi dan amarah yang meluap seperti tadi.
"Sedikitpun kau tidak mencintaiku?"
Rossa tak mau menanggapi. Gadis itu bergerak menuju lemari pakaiannya lalu menarik sebuah koper besar miliknya, yang dibawanya dulu saat memilih ikut bersama Alvino dan keluarganya.
Alvino terbelalak melihat itu. Dengan cepat ia beranjak dan menahan tangan Rossa.
"Jangan menahanku! Jangan lagi menyakitiku!" Mendorong pelan tubuh Alvino. Laki-laki itu bergeser dari posisinya.
"Kalau begitu tatap aku dan katakan kalau kau tidak mencintaiku." Menahan lengan Rossa.
Gadis itu pura-pura menutup telinga, tak mau mendengar ucapan Alvino. Pikirnya hal itu hanya akan meruntuhkan niat yang sudah dibangunnya susah payah. Ia menepis tangan Alvino. Dengan cekatan ia menarik semua pakaiannya satu persatu dari dalam lemari.
Tidak tahan lagi melihat itu, Alvino membalikan tubuh Rossa dengan paksa. Merampas semua pakaian yang ada di tangan gadis itu lalu membuangnya ke sembarang arah.
"Aku akan mengabulkan permintaanmu, tapi jujurlah padaku."
Rossa semakin menangis mendengar kesediaan Alvino untuk melepaskannya. Padahal dia sendiri yang menginginkan hal itu.
"Katakan kalau benar bahwa kau tak mencintaiku seperti yang diucapkan mami dan sahabatmu!" Rossa menggigit bibir kuat menekan dalam perasaannya.
"Katakan sejujurnya dan maka aku akan membebaskanm!" Sedikit meninggi dan memaksa.
"Aku mencintaimu! Sangat mencintaimu!" pekik Rossa tak tertahan.
Kata itu meluncur bebas bagai air yang mengalir dari sungai dan bermuara di lautan lepas.
"Aku sangat mencintaimu," lirihnya pelan, sambil menunduk dalam tangis yang tak terelakkan.
Tak dapat lagi menahan rahasia besar hatinya. Biar saja dia tahu, besarnya cintaku padanya. Tak bisa pula terhitung berapa banyak sudah ia menangis dalam waktu singkat itu.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau ingin pergi?" Mendekat dan ingin memeluk gadis itu, tapi lagi-lagi Alvino mendapat penolakan, dan itu sungguh menyakitkan.
"Maafkan aku! Kuat dan sabarku tak cukup mampu lagi tuk bertahan. Sampai di sini saja kurasa. Aku lelah, tapi hatiku tetap kamu!"
Tidak ingin terpengaruh sedikitpun dengan kelembutan Alvino, meski sebenarnya hatinya tak sanggup dan memang lemah. Manusia memang seperti itu, punya batas kesabaran, dan Rossa benar-benar di ujung lelahnya saat ini.
Sedangkan Alvino begitu terluka mendengarkan ucapan istrinya. Luka tapi tak berdarah. Berdarah-darah tapi tak dibunuh. Di saat Alvino tertegun dan lemah, Rossa bergegas memungut kembali pakaiannya yang dibuang Alvino tadi.
Bolak balik gadis itu mengisi pakaian dalam kopernya. Tanpa ia menduga, kedua lengan besar Alvino sudah melingkar pada leher dan dadanya. Pelukan erat laki-laki itu membuat Rossa tak berdaya tuk bergerak sesenti pun.
"Jangan pergi! Maafkan semua kesalahanku." Alvino menenggelamkan wajahnya di pundak kecil dan rapuh sang istri.
"Kau tidak bersalah. Aku yang salah membawa diri dan memaksa masuk dalam hidupmu. Aku yang salah, aku yang bodoh, aku tak pantas ada di sini. Biarkan aku pergi!" Masih terus menangis tak henti-hentinya.
Alvino menggeleng. "Aku ingin kamu tetap di sini. Aku tidak akan mengabulkan permintaanmu! Tidak akan pernah! Maaf telah mengingkari janjiku tadi," lirih Alvino. Lagi-lagi ia mengacaubalaukan keteguhan Rossa.
"Tak maukah kau mendengar alasanku? Atau kau tak ingin bertanya kenapa aku memintamu jangan pergi?"
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Jangan pergi di saat emosi....
...Tetaplah tinggal dengan sadar,...
...Dan aku tahu bahwa serius itu milik kita berdua....
..._A.D_...
...🦋...
...Selanjutnya …...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Satu lagi nih 😁 aku kerjer lah ini 🤣🤣
Btw, gimana-gimana rasanya melihat Alvino yang garang menjadi lemah tak berdaya seperti itu? 😅😅 Rossa keren gak? Jadi setuju gak nih, kalau benaran pisah 🤭
Yoookkk, like dan komen yah 😍
Sampai jumpa di episode berikutnya yah 🤗
Ig author : @ag_sweetie0425
_________________
__ADS_1
Oh iya, sambil menunggu kelanjutannya besok, boleh dong mampir di karya luar biasa temen aku. Gak kalah seru dan keren abis pokoknya 👍