Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Meragukannya


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Hampir memakan waktu 15 menit, sejak Alvino berdiri di balkon. Matanya yang tidak lengah sedikit pun menatap gerbang besar di bawah sana, menghadiahinya sebutir pil kecemburuan dengan dosis maksimal.


Tangan yang sedari tadi bersembunyi di balik saku celananya, kini memegang erat besi pembatas balkon. Cengkramannya pada pembatas itu semakin kencang memperlihatkan urat-urat yang menonjol di kedua lengannya.


Wajahnya merah padam dibalut amarah yang tersulut, begitu ia melihat sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan gerbang. Mata elangnya menyoroti sang istri yang tampak keluar dari mobil tersebut, dengan perlakuan manis seorang pria asing.


Darahnya semakin mendidih melebur bersama emosi, begitu melihat pria di sana tersenyum dan melambaikan tangan pada istrinya. Rahangnya mengeras dengan gigi yang bergemeletuk menahan panas di hati, melihat lelaki yang masih setia memandangi punggung istrinya yang sudah memasuki gerbang.


Setelah Rossa masuk dan tak terlihat lagi, lelaki yang masih bersandar pada mobil itu pun kembali masuk ke mobilnya, dan berlalu pergi dari sana.


Alvino menuruni tangga secepat kilat, menyambut kedatangan istrinya dengan gejolak emosi yang sudah di ubun-ubun.


"Vin, mau kemana?" tanya mami Lusy. Ia melihat putranya melangkah menuju pintu depan. Alvino tidak menjawab dan terus melangkah dengan cepat.


"Vin, Vino! Tunggu!"


Sadar bahwa anaknya sudah dikuasai emosi. Wanita paruh baya itu pun berusaha mengejarnya.


Alvino semakin mempercepat langkahnya begitu melihat Rossa yang sudah mendekat. Sementara Rossa tidak dapat lagi tuk melangkah. Ketakutan menguras habis tenaganya dalam sepersekian detik. Melihat kilau amarah yang melintas di netra Alvino, Rossa mendadak tercekat lemah.


Tanpa ba, bi, bu, Alvino langsung menarik tangan Rossa dengan kasar. Menyeretnya kembali masuk ke rumah.


"Vino, Alvino!" panggil mami Lusy begitu kencang. Namun, Alvino tidak menggubris sama sekali. Ia terus saja melangkah tanpa memperdulikan kondisi istrinya.


"Jangan kasari dia, Alvino!" pekik ibunya, yang sama sekali tidak berpengaruh.


Mami Lusy bergerak cepat menelpon suaminya untuk segera pulang agar bisa menolong Rossa dari dampak kemarahan Alvino. Sesudah itu ia kembali berlari mengejar anak dan menantunya.


"Alvino, istrimu sedang mengandung. Kau gila!" Kembali mami Lusy berteriak karena tidak tahan melihat perlakuan putranya.


Alvino berhenti tetapi tidak melepaskan tangannya dari pergelangan Rossa. Cengkeramannya yang kuat membuat Rossa meringis pedih.


"Jika dia tau diri sedang mengandung, dia tidak akan keluyuran dengan laki-laki lain," balas Alvino tak kalah kerasnya pada sang ibu.


Rossa sampai terlonjak kaget dan semakin takut. Mami Lusy pun demikian. Namun, bukan karena suara bentakan Alvino yang keras, tetapi pernyataan lelaki itu.


"Laki-laki lain?" tanya mami Lusy pada Rossa dengan kening yang mengkerut.

__ADS_1


"Siapa dia, Nak?" tanyanya sekali lagi.


Mami Lusy tetap bersikap dengan lembut pada sang menantu, meskipun penasaran begitu besar mendesak jiwa keingintahuannya.


Rossa menggeleng kaku. Matanya sudah berkaca-kaca menahan sakit di pergelangannya.


"Hah, munafik! Vino minta sama Mami, jangan pernah lagi ikut campur dalam urusan rumah tangga Vino!" bentak Alvino dan kembali menarik Rossa menuju kamar.


Bukan kamarnya, tetapi kamar milik Rossa. Mami Lusy pun tidak mau mengalah dan tetap memilih ikut menahan tangan menantunya.


"Stop, Alvino! Ini pasti hanya salah paham. Kau menyakitinya, Alvino!" Berusaha menarik sebelah tangan sang menantu.


Alvino yang sangat marah, menarik tangan Rossa dalam sekali gerakan dengan kuat membuat tubuh gadis itu hampir saja terjatuh jika tidak ditahannya. Tangan mami Lusy pun terlepas paksa.


"Gak kebalik, Mi?" tanya Alvino dengan nada rendah disertai senyum devil.


"Sepanjang ini pernahkah mami melihat Vino jalan atau dekat dengan wanita lain?" Mami Lusy terdiam tak bisa membantah fakta ini.


"Dia yang menyakitiku!" teriak Alvino tak terkontrol.


Lagi-lagi Rossa dan ibunya terlonjak. "Jadi Vino mohon, jangan Mami ikut campur lagi! Cukup, Mi!" Kembali menyeret Rossa masuk ke kamar.


Brakkk!


Dentuman pintu yang membentur keras, membuat Rossa menutup matanya kuat-kuat. Ia hanya berupaya untuk mengurangi debaran jantung yang mungkin saja bisa bergeser dari tempatnya.


Sedangkan di luar, mami Lusy terus mengetuk pintu berulang kali sambil berteriak memanggil Alvino dan Rossa bergantian.


"Siapa dia?" tanyanya pelan tapi tajam.


Rossa menggigit bibirnya kuat menahan sakit di punggung, sekaligus membunuh rasa takut terhadap laki-laki di hadapannya saat ini.


"Siapa laki-laki itu? Jawab!!!" teriak Alvino. Lelaki yang tidak memiliki kesabaran secuil pun.


Rossa hanya menggeleng tanpa jawaban. Mulutnya masih terkatup setia. Ia tidak mempunyai keberanian cadangan untuk berkata-kata. Inilah Rossa. Di saat yang lain marah, ia hanya akan diam seribu bahasa. Karena baginya, diam akan jauh lebih baik.


"Kau mulai berani mempermainkanku?"


Mencengkram pipi mulus Rossa dengan sebelah tangannya. Gadis itu lagi-lagi meringis tapi tak sampai bersuara. Ingin sekali menangis, tapi ia merasa masih cukup kuat tuk menghadapi lelaki di hadapannya. Cukup dengan hanya diam.


Bugh!


Satu kepalan tangan Alvino tiba-tiba menyentuh daun pintu dengan kuat.


"Kak!" Rossa yang kaget refleks ingin meraih tangan suaminya, tapi dengan cepat ditepis Alvino.


"Jangan pura-pura peduli! Aku bertanya siapa dia?" Jika mengingat gadis itu bukan istrinya, ingin sekali Alvino melampiaskan seluruh emosi yang mengekang jiwanya.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa," jawab Rossa takut-takut. Bicaranya begitu pelan hampir tak terdengar.


"Kau pembohong!" bentak Alvino.


"Bukan siapa tapi perhatian saja begitu?" Lagi-lagi Rossa terdiam. "Belum puas jalan-jalan sama mami, kamu memilih pergi bersama laki-laki itu? Berapa banyak dia membayarmu?"


Rossa tersentak dan langsung menatap Alvino dengan tak percaya. Sedari tadi ia tidak berani menatap lelaki itu, tetapi ucapan Alvino yang barusan, menyalakan setitik keberanian yang mulai terlihat.


"Bukankah aku berpesan agar menjaga batasanmu? Berani sekali kau melakukannya, bahkan aku pernah mengingatkan agar jangan terlihat murahan. Tapi nyatanya kau benar-benar menunjukkan serendah apa kau sekarang. Apa kau yakin dia anakku?" Melirik sekilas dengan sinis pada perut besar Rossa.


Gemuruh di hati Rossa tak terbendung lagi. Badai kekecewaan itu meluap menyeretnya dalam lautan sakit yang teramat dalam. Setetes cairan bening melambangkan rapuhnya sebongkah hati yang lemah, pun luruh tak terhalang.


Ekspektasiku terlalu melambung tinggi akhir-akhir ini. Batin Rossa menggemakan sesal.


"Kau tahu, aku meragukannya."


Mata Rossa terpejam. Meski sudah sering mendengar keraguan itu, tetap saja kembali terluka.


"Berusahalah membuatku percaya dengan caramu, atau katakan saja yang sejujurnya dan aku akan berhenti berharap."


Suara datar Alvino menyiratkan sebuah rasa yang dalam terpendam. Mengucapkan itupun, ia memalingkan wajahnya ke tempat lain. Logisnya, jika terpahami oleh jiwa yang tenang, maka seseorang akan tahu pasti bahwa lelaki itu tengah menyembunyikan sesuatu.


"Pilihanmu hanya satu," ucap Alvino dan hendak membuka pintu untuk segera pergi. Namun, suara lembut Rossa menahannya.


Tangan lembutnya terangkat menyapu basah yang mengaliri pipi mulusnya.


"Dan jika aku tidak memiliki cara untuk membuktikannya, bolehkah aku meminta satu hal darimu?"


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya …....


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Holaaaaaaa sayang2ku 👋 telat lagi nih 😁🤭 Mon'maap 🙏


Makasih buat yang selalu menunggu 🥰🤗


Jangan lupa apa?????? Jangan lupa like dan komen 😍

__ADS_1


Sampai jumpa lagi di episode berikutnya 🤗


Ig author : @ag_sweetie0425


__ADS_2