Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Hukuman


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


Alvino menceritakan apa saja yang ia perbuat pada Filen dan kakaknya Felix. Menjebloskannya ke penjara, terlalu mudah hukumannya, pikir Alvino. Oleh karena itu, sebelum memasukan Filensya dan kakaknya ke dalam bui, Alvino harus turun tangan melampiaskan amarah yang ia tahan sejak kemarin.


Filen dan kakaknya sudah ada dalam sekapan anak buah Alvino sejak insiden kemarin. Mereka hanya menunggu Alvino mengesekusi sepasang kakak beradik itu.


Saat Jenn dan Putri bertemu sang istri kemarin, di situlah Alvino memilik kesempatan tuk menjalankan misi terbesarnya. Cepat-cepat ia mengendarai mobil menuju tempat, di mana dua manusia yang membuat darahnya mendidih itu, berada.


Luapan marah yang terbendung sejak kemarin, meronta tak terhalang. Tanpa basa-basi perbedaan genre dan sebagainya, Alvino memberi pelajaran yang cukup sadis pada kedua orang itu, dengan tangannya sendiri.


"Cukup, aku mohon cukup. Hukum saja aku, jangan dia!" pekik Felix saat adiknya menjerit kesakitan.


Sudut-sudut bibir wanita itu telah mengeluarkan darah, tetapi Alvino tidak peduli sedikitpun. Sekujur tubuh Filen telah dibasuh dengan peluh bercampur darah dan alkohol.


Darah mengucur dari pelipis, ujung bibir, serta kedua tangannya. Puas mulukai tubuh gadis itu, Alvino menuangkan sebotol alkohol dari kepala wanita itu hingga turun ke bawah. Ringisan perih membuatnya menjerit tak tertahan.


"Aku sudah memberi peringatan bukan? Sehelai saja rambutnya yang kau sentuh, kau akan menerima pembalasan yang tidak bisa kau bayangkan." Alvino menyeringai.


Ia mengambil sebuah benda dengan kedua ujung yang menyala memercikkan bunga-bunga api. Felix terbelalak melihat itu. Ia pun memekik memohon pengampunan untuk adiknya.


"Sestes air matanya saja sangat berharga, apalagi sampai tetes darah. Tentu kau sudah siap dengan konsekuensinya." Mendekatkan benda itu pada Filen.


"Stop it, Vin!"


Tidak hanya suara yang terdengar, tetapi juga sebuah tangan menahannya. Tanpa harus menoleh, Alvino tahu siapa orangnya, dan dia berdecak kesal untuk itu.


"Hah, apa dugaan gue salah?" Alvino berbalik dan menyoroti Alex, sekretaris sekaligus teman baiknya dengan tajam. "Dari kemarin menghilang ke mana lo?"


Alex menundukkan kepalanya. "Maaf, Vin. Tapi Lo tau kalo gue di kantor handle semua pekerjaan," jawbnya.


"Hanya setengah hari, dan waktu sisanya? Diam-diam memata-matai tempat ini, begitu?"

__ADS_1


Ya, sejak mengantar Alvino ke rumah sakit setelah drama pemberhentian rapat kemarin, Alex tak lagi terlihat. Benar, dia kembali dan meng-handle segala pekerjaan Alvino yang tertunda. Namun, ia pun diam-diam melakukan misi lain di luar itu. Tanpa dia sadari, Alvino tahu akan hal itu dari laporan anak buahnya. Tempat yang saat itu mereka berada pun, tidak diberitahu Alvino kepada Alex.


"Alasannya apa? Kau menyukainya?" To the point dan tepat sasaran.


Baik Alex maupun dua tahanan Alvino saat itu mendongak kaget. Sementara Alex tak ada lagi kata atau ucapan yang bisa membantah. Lelaki itu diam dan terpaku malu.


Filen menyoroti wajah lelaki yang berdiri tampak bodoh di sana. Banyak tanya yang bercokol dalam benak perempuan itu. Begitu juga dengan kakaknya Felix.


"Bukan saja baru kemarin, tetapi Lo sudah ada dalam pemantauan gue sejak dua bulan lalu. Lo pikir gue gak tau, jika yang membebaskan wanita sia*lan ini waktu itu, Lo? Gue tau tapi diam aja. Gue pikir ... lo berhak memutuskan urusan hati Lo sendiri."


Alvino tahu soal dua bulan lalu di mana Filen yang kembali disekapnya, karena mencoba mencelakai Rossa di depan butik kala itu. Namun, Alex malah membebaskannya dengan membawa wanita itu ke kediaman tersembunyi di pinggiran kota, lalu menelpon kakaknya, Felix untuk menjemput.


Semua itu diketahui Alvino, tetapi ia memilih mendiamkan saja. Saking merasa bahagia di samping Rossa, membuatnya tidak peduli dan tidak ingin mencampuri urusan orang lain.


"Maafin, Vin. Gue ...."


Alvino melemparkan benda yang sedari tadi dipegangnya, untuk menyetrum Filen. "It's ok. Gue gak mau mencampuri hal privasi lo. Tapi mereka harus tetap menerima hukumannya."


Ia memerintahkan anak buahnya melepaskan ikatan yang membelenggu Filen dan Felix. "Gue rasa hukuman gua sudah cukup. Selanjutnya, Lo sendiri yang menjebloskan mereka ke penjara, atau ...."


"Baik, Vin!" sahut Alex cepat. Ia sudah tahu ke mana arah pembicaraan selanjutnya.


Sudah sangat larut, dan ia pun kembali menemui anak dan istrinya, meninggalkan Alex yang membereskan segalanya.


Sementara itu, Felix merasa heran setengah mati atas apa yang dilakukan Alex. "Jadi kamu yang waktu itu meneleponku?" Alex tidak berniat untuk menjawab. "Terima kasih," lanjut Alex. Dalam hati ia bersyukur, ada orang yang masih bersimpati kepada sang adik yang terkenal bad attitude.


Alex pun melakukan seperti yang diperintahkan Alvino kepadanya. Satu sisi ia berat, sisi yang lain, titah Alvino adalah tanggung jawabnya.


...*****...


Rossa bergidik mendengar penuturan suaminya. "Kamu kejam, Kak."


"Akan seperti itu jika ada yang berani menyakiti ibu dari anak-anakku," ucap Alvino santai.


"Anak aja, bukan anak-anak," sela Rossa cepat.


"Nanti juga mau nambah lagi, Honey." Alvino mennggoda istrinya lagi. Ia terkekeh pelan kala melihat raut kesal bercampur marah di sana.


"Satu saja pokoknya!" tegas Rossa.

__ADS_1


"Tiga, gak mau tau!" balas Alvino tak kalah tegas.


"Gak, satu!"


"Tiga!"


"Satu!"


"Kurang deh, dua," tawar Alvino.


"Satu ...."


"Dua ...."


"Satu ...."


"Dua ...."


Perdebatan kecil pada waktu tengah malam, mengantarkan pasutri itu dalam lelap gelap yang berlumur cerah cinta.


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya .......


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Holaaa, AG, kambek 😁


Jangan lupa like dan komen yah 😍


Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗

__ADS_1


__ADS_2