
...~ Happy Reading ~...
..._________________...
...*...
...*...
...*...
Harapan Rossa agar bisa seharian bersama suaminya, terkabul. Sesuai permintaannya, Alvino tidak jadi ke kantor hari ini. Dia benar-benar di rumah dan menghabiskan waktu berdua dengan sang istri.
Bukan saja itu yang menjadi alasannya, tetapi juga karena luka di perut yang cukup besar dan juga di lengannya. Istirahat sehari, mungkin lebih tepatnya seperti itu.
Alex sudah berangkat ke kantor setelah mendapat perintah langsung dari Tuan Dharma.
Setelah menghabiskan sarapan bersama di dalam kamar, Rossa memilih mandi terlebih dahulu sebelum menemui kedua mertuanya. Pasalnya, Alvino ingin membahas perihal kejadian tadi malam yang mengakibatkan dia pulang dalam keadaan basah kuyup dan dua luka goresan di tubuhnya.
Lelaki tampan berlangsung pipi itu membunuh waktu sembari menunggu sang istri dengan menonton TV.
Tiba-tiba saja, bunyi dering ponsel mengagetkannya. Alvino memutuskan perhatian dari film action yang menjadi tontonan saat itu.
Dengan cepat ia meraih benda pipih persegi yang sedari tadi berdering.
📲 "Hmm!"
📲 "I get it, Vin."
Sudut bibir Alvino terangkat. Lelaki itu menyeringai.
📲 "Kamu tau apa yang harus kamu lakukan."
Alvino pun mengakhiri panggilan telepon tersebut. Bersamaan dengan itu, Rossa keluar dari kamar mandi sudah dengan penampilan sederhana dan cantik.
"Telepon dari siapa, Kak?" tanya Rossa.
Suara itu membuat Alvino terkejut dan langsung meletakkan ponselnya.
"Cantik banget sih maminya, si boy." Lelaki itu tersenyum memperlihatkan lesung pipinya begitu manis.
"Telepon dari siapa?" tanya Rossa sekali lagi.
Kini ia saudah berdiri di depan suaminya yang tengah duduk di sofa.
"Oh, itu Alex. Biasa ... ngomongin pekerjaan," jawab Alvino dengan penjelasan singkat padat dan jelas.
Rossa manggut-manggut dengan gerakan bibir yang membulat membentuk huruf O.
"Ya udah, kita temuin mami dan papi sekarang, yuk!" ajak Rossa.
Ia mengulurkan tangannya meminta Alvino untuk bangkit berdiri.
"Baiklah, Nyonya Alvino."
Ia menyambut uluran tangan Rossa. Keduanya lalu bergegas keluar dari kamar, mencari keberadaan orangtuanya Alvino.
__ADS_1
...🦋🦋🦋...
Pada waktu yang sama di tempat yang berbeda. Suasana pagi yang indah pun tengah mendominasi rumah minimalis milik Kenn dan Jenn.
Pagi ini seperti pagi yang sudah-sudah, Jenn menikmati sarapannya di kamar. Gadis cantik satu ini masih malas untuk bangun dan beranjak dari tempat tidur. Lebih tepatnya, dia begitu lelah. Ya, lelah dikerjain habis-habisan oleh suaminya sepanjang malam tadi.
Makan pun, Kenn harus memaksanya lebih dulu. Kenn yang menang banyak semalam, jadi lebih bersemangat meskipun tidurnya berkurang.
Sebelum berangkat kerja, ia menyempatkan diri membuatkan sarapan untuk sang istri. Tak hanya sampai di situ, ia pun dengan senang hati menemani serta menyuapi istrinya.
"No! Aku bisa sendiri. Mandi aja dibantuin? Hah, yang ada acara mandi gak bakal selesai-selesai."
Jenn menolak tawaran suaminya. Ia tahu apa yang akan terjadi nanti setelah itu.
Di luar sana, air hujan masih deras tercurah dari semalam. Namun, Kenn dengan semangat melajukan motornya menerobos butiran air yang masih awet berjatuhan. Menyelip di antara kendaraan lainnya hingga tiba di tempat kerja.
"Pagi," sapa Kenn pada beberapa karyawan lain di tempat kerjanya.
Lelaki tampan itu melepas jas hujan yang melindungi dirinya dari serangan hujan. Ia melepas helm lalu menyugar rambutnya yang mulai sedikit memanjang dan berantakan. Beberapa kali ia terus melakukan hal yang sama, tetapi rambut bagian depannya selalu jatuh kembali.
"Kenn?" sapa Farel. Atasan sekaligus teman baiknya yang baru saja sampai.
"Eh, kirain dah dateng dari tadi, sama ternyata."
Dua lelaki muda yang sama-sama telah beristri itu melangkah masuk ke dalam.
"Tapi tunggu dulu. Bentar, bentar. Muka Lo kenapa?" tanya Farel dengan sebelah alis yang terangkat.
Kenn bingung. Ia lalu menyentuh bagian wajahnya bergantian kiri dan kanan.
"Gak kayak biasanya … kek ada aura-aura senang, keliatan semangat banget Lo pagi ini. Ada apa nih?" Ah dasar Farel kang kepo.
Kenn terkekeh mendengar itu. Tiba-tiba saja pikirannya berlari kembali ke rumah.
Ck, gara-gara si Farel, jadi kangen ma istri kan. Padahal baru juga dateng. Ha-ha-ha ….
Ia semakin tertawa dan itu membuat Farel makin penasaran.
"Gue bisa tebak nih. Pasti … baikan sama Jenn. Iya kan? Kan?"
Keduanya sudah kembali melangkahkan kaki dengan Farel yang menunggu jawaban Kenn.
"Emang apa lagi yang bisa bikin gue seneng selain dia?" Kenn menjawab masih dengan terkekeh.
Tidak ada hal yang bisa menyenangkan hati seorang Kennand. Jenn adalah segala-galanya bagi lelaki satu ini. Tanpa kehadiran seorang anak pun, Kenn tidak pernah berubah. Dari dulu hingga sekarang, Jenn adalah prioritasnya. Soal anak, baginya itu terserah dengan kehendak yang Mahakuasa. Bersyukur memiliki Jenn di sisinya saja sudah lebih dari cukup.
"Gue udah tebak ini sih, cuman pengen mastiin doang. Kali aja ... ada hal lain yang buat Lo jatuh cinta lagi maybe," goda Farel.
Kenn berdecak. "Kirain gue, elo? Sorry, sekali cinta tetap cinta. Dah ah sana … gue mo kerja." Kenn mendorong bahu Farel.
"Karyawan kurang asem Lo, gak ada sopan-sopannya sama atasan," sungut Farel.
"Bodo," balas Kenn cuek.
Kebetulan ada costumer setia yang sudah agak lama menunggu kedatangan lelaki itu.
__ADS_1
"Hei, pagi bro. Udah lama?"
Kenn menyapa seorang pria tampan dengan tampilan kantoran semi formal, yang tengah duduk di sebuah kursi ruang tunggu.
"Hmm, lumayan sih."
Kenn tersenyum. "Servis seperti biasa?"
Lelaki yang terlihat penuh wibawa itu mengangguk mengiyakan. Kenn lalu bergegas mengganti pakaian dan melakukan pekerjaannya sesuai permintaan pelanggan.
...🦋🦋🦋...
Kediaman Dharmawan.
Di ruang keluarga, tampak empat orang di sana tengah berkumpul dan mengobrol serius. Rossa yang duduk di samping Alvino, ikut mendengar cerita yang dituturkan oleh sang suami.
Flashback kejadian semalam.
Alvino dan Alex baru bisa menyelesaikan pekerjaan mereka. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00. Kantor pun sudah sunyi, hanya tersisa Alvino dan Alex, juga seorang OB. Keduanya bergegas turun menggunakan lift dari lantai paling tertinggi gedung PT. Dharma Jaya.
Sampai di bawah, dua lelaki itu melangkah melewati lobi dan segera keluar hendak menaiki mobil. Namun, tiba-tiba saja dua lelaki itu mengerang kesal dengan mata yang tertumbuk pada mobil yang terparkir di depan mereka.
"Sh*it!"
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Haloha 👋 Ketemu lagi 😊
Jangan lupa like dan komen, yah 😍
Makasih buat kalian yang selalu mampir 🙏
Thanks buat supportnya 🥰
Eh, ini kan senin, minta vote juga yah 😁
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗
Ig author : @ag_sweetie0425
____________________________
Ada rekomendasi novel yang bagus nih, guys 🥰
__ADS_1
kalo ada waktu luang, mampir yoookkk 💦