Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Apa yang Terjadi?


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...____________________...


...*...


...*...


...*...


"Kau sudah gila?"


Seorang lelaki menghentikan aksi seorang wanita yang hendak menggaet langkah seorang bumil. Perdebatan sengit antara dua orang berbeda genre itu terjadi di dalam sebuah bilik toilet wanita.


"Aku rasa justru terbalik di sini. Kakak yang sudah tidak waras. Ini kesempatan yang sudah lama aku nantikan," ucap sang wanita.


"No, no! Kau tidak boleh melakukan itu! Kakak tidak akan membiarkan itu terjadi!" tegas sang pria.


Sorot tajam terpancar bagai belati yang siap mengiris lawan. "Ada apa denganmu, Kak? Akhir-akhir ini Kakak selalu berbeda paham denganku. Kenapa Kakak sangat khawatir dengan wanita itu? Kenapa, Kak?" pekik wanita itu dengan suara tertahan. Sang pria hanya diam sambil masih menghalangi langkah wanita itu. "Aku benci Kakak yang seperti ini!"


Wanita itu langsung mendorong tubuh sang pria dan berlalu pergi. Namun dengan cepat kembali ditahan. "Jangan nekat, Sayang. Ini bahaya buat kamu." Masih mencoba memberikan pengertian.


"Aku bilang minggir, Kak. Minggir!" Dengan cepat wanita itu mendorong kakaknya berlari masuk ke arah toilet. Tak berapa lama, ia melesat keluar dari sana hendak melarikan diri, tetapi kenyataan tidak sesuai prediksinya.


Dari arah yang berlawanan, dua pria berbadan kekar secepat kilat menyambar tubuh kurusnya. Sementara itu, pria lainnya dengan kostum yang sama, berlari memasuki toilet begitu mendengar teriakan seorang wanita di dalam sana.


Wanita kurus itu memekik dan meronta mengundang atensi banyak orang. Keributan pun terjadi di sekitar toilet saat itu.


Sementara di depan restoran, tampak dua gadis cantik dengan tampilan kece, menggunakan topi hitam menutupi rambut yang tergerai indah, serta kacamata hitam yang bertengger di hidung bangir keduanya, baru saja turun dari taksi.

__ADS_1


Baru saja keduanya hendak melangkah masuk, kaki jenjang dua dara cantik itu terhenti mendadak. Kebingungan menyita perhatian mereka begitu melihat keributan dari dalam restoran.


Mereka adalah Jenn dan Putri. Kebingungan keduanya berganti panik kala melihat Reza yang keluar dari sana, sembari menggendong tubuh seorang wanita hamil bersimbah darah. Tidak lama, disusul seorang pria berbadan kekar menggendong seorang wanita berusia senja.


Jenn langsung gemetaran tidak bisa meneruskan langkahnya, sedangkan Putri menerobos kerumunan orang-orang di sana tak mau tahu. Beberapa kali ia memanggil nama Reza, tetapi lelaki itu tidak mendengarnya. Dua orang pria berbedanya kekar menghalau kerumunan orang-orang yang menghalangi langkah Reza.


Sebelum Reza masuk ke mobil, Putri sempat menangkap wajah wanita yang berada di gendongan lelaki itu. Meskipun ia sudah bisa menebak dari kejauhan tadi, tetapi rasa tidak ingin percaya memaksanya untuk memastikan lagi, dan ia benar-benar shock saat itu juga.


"Rossa," gumam Putri pelan.


Perlahan gadis itu memundurkan langkahnya dengan kekuatan yang tersisa. Kenyataan tadi benar-benar menguras habis kekuatan gadis tomboi itu. Mengingat Jenn yang masih di tempat tadi sendirian, Putri memaksa kakinya tuk melangkah.


"Jangan katakan jika itu dia! Jangan, Put!" Jenn menggeleng kecil begitu melihat langkah gontai Putri yang mendekatinya.


Jenn melepas kacamatanya lalu terduduk bodoh sambil menutup wajahnya yang mulai dibanjiri air mata. Gadis itu terisak dengan wajah yang tertunduk dalam di antara kedua lututnya.


"Lo jangan begini juga, Jenn! Ayo, bangun dan kita susul mobil mereka!" ajak Putri yang mencoba tegar.


"Apa yang terjadi, Put?" tanya Jenn. Tubuhnya masih saja bergetar ketakutan.


"Gue juga gak tau, Jenn. Nanti kita tanyakan saja pada Reza. Gue juga takut."


Ketakutan melingkupi dua gadis itu, begitu juga dengan Reza yang masih setia memangku Rossa.


...*****...


Di gedung perkantoran Dharma Jaya.


Alvino masih tampak serius memimpin rapat siang itu. Beberapa kali Alex mencoba memberi kode, tetapi tidak sempat mengenai sasaran.

__ADS_1


Dering ponsel berulangkali pada ponselnya, diabaikan. Tanpa melihat siapa yang menelepon, Alvino selau saja me-reject panggilan itu. Alhasil, ponsel Alex pun menjadi sasaran.


Melihat siapa yang menelepon, Alex yakin pasti terjadi sesuatu. Ia ingin menerima telepon itu, tetapi tidak ingin mengganggu kegiatan rapat. Beberapa kali melemparkan kode pada atasannya, tetapi tidak jua berhasil.


Alex cukup tenang saat tidak ada lagi panggilan yang masuk selama beberapa menit, sebelum akhirnya sebuah chat beserta pesan gambar masuk ke ponselnya. Saat itu juga Alex bangkit dari duduknya, dan menghampiri Alvino, lalu membisikan sesuatu padanya tanpa peduli laki-laki itu tengah serius.


Detik berikutnya, Alvino bangkit dari duduknya mendorong tubuh Alex, juga menyingkirkan kursi dan meja yang seolah menghalangi jalannya. Secepat kilat ia berlari keluar dari ruangan rapat tanpa sepatah kata pun. Semua orang yang ada dalam ruangan itu terheran-heran melihatnya.


Alex mengambil alih menunda jalannya rapat siang itu, sebelum menyusul sang atasan.


Apa ini kerjaan wanita itu lagi?


Alex begitu gusar dan segera melesat mengikut Alvino.


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya .......


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Aku balik lagi nih 😁

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen yah 😍


Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya 🤗


__ADS_2