Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Tidak Akan Tergoda


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Gelap telah sepenuhnya berkuasa menyelimuti buana, dan Kenn baru saja tiba di rumah. Lelaki itu cepat-cepat turun dari motornya setelah memasukan ke dalam garasi.


Ia selalu pulang membawa rasa rindu yang besar pada sang istri tercinta. Rindu yang ditimbunnya seharian di tempat kerja.


Tanpa mengetuk pintu, Kenn langsung membukanya dan segera masuk.


"Sayaaangg!" panggil Kenn.


"Baru pulang, Kenn?" tanya ibunya.


"Malam, Buk. Iya nih, Jenn dan Kay mana?"


Iya berjalan terus ke ruang tengah dan mendapati ibunya seorang diri tengah menonton TV di sana.


"Mereka berdua di kamar, baru selesai masak tadi. Mungkin lagi mandi," ucap sang ibu.


Kenn mendengus. "Kebiasaan. Kenn ke kamar dulu, Buk!"


Setelah berpamitan pada sang ibu, lelaki itu berbalik ke kamar. Dibukanya pintu secara perlahan, dan seketika bibirnya melengkungkan senyuman bahagia.


Di dalam sana, seorang gadis cantik tengah duduk di depan meja rias, memainkan powder brush di tangannya.


"Sayang," panggil Kenn dengan suara pelan hampir berbisik.


Situasi yang sunyi membuat suara itu sampai dan menyentuh pendengaran Jenn. Gadis itu menoleh dan mendapati sosok lelaki kesayangannya tengah melongok.



Jenn tersenyum dan meletakkan benda berbentuk stik di tangannya di atas meja rias begitu saja. Ia bangkit berdiri dan berlari kecil ke arah suaminya.


"Sayaaangg!" pekik Jenn senang.


Kenn merentangkan kedua tangannya menyambut tubuh mungil itu dalam pelukannya. Ia menghujani wajah cantik Jenn dengan kecupan di sana-sini.


"Kok baru pulang?" tanya Jenn saat Kenn berhenti menciumnya.


"Tadi ada kecelakaan kecil di jalan, Sayang. Aku me …."


Jenn terperanjat langsung memotong ucapan sang suami. "Kecelakaan?" Ia langsung melepaskan diri dari pelukan Kenn. Ia lalu memeriksa tubuh suaminya dari atas hingga ke bawah, begitu lagi sebaliknya. "Kamu gak papah kan, Yang?"

__ADS_1


Kenn terkekeh dan langsung menarik tubuh itu kembali dalam dekapannya.


"Aku gak papah, Sayang. Makanya dengerin dulu, orang belum selesai ngomong juga."


Kenn mencubit gemas hidung bangir istrinya. "Bukan aku yang kecelakaan, tapi orang lain. Aku hanya membantu tadi. Aku kasian liat cewek yang dikasarin kek tadi."


Kenn menarik lembut tangan Jenn, keduanya melangkah ke arah sofa kecil yang terletak di sudut ruangan tersebut. Ia membawa tubuh mungil itu di atas pangkuannya.


"Terus? Emang ceweknya yang salah?"


Kenn mengangguk. "Dia sedikit mabuk, jadi nabrak mobil orang. Emang gak parah sih, cuman yah tetap aja tanggung jawab. Yang punya mobil ngamuk minta ganti rugi. Ceweknya bilang gak bawa dompet, ya udah aku nawarin bantuan. Mobilnya aku suruh bawa ke bengkel aja, nanti aku yang perbaiki biar gak usah bayar," tutur Kenn.


Jenn mendengarnya hanya manggut-manggut. "Gak papah kan, Yang?" tanya Kenn.


"Gak papah, aku malah seneng kok. Bantuin orang gak buat kita rugi, Kak." Jenn tersenyum dan menggesekan hidungnya ke hidung Kenn.


"Baik banget sih istriku," ucap Kenn.


"Istri siapa dulu."


Kenn tergelak. Tiba-tiba saja ia teringat perkataan gadis tadi saat di jalan.


"Yang, tapi tadi dia nekat banget loh," kata Kenn lagi.


"Dia siapa? Cewek tadi?" Kenn mengangguk. "Kenapa dia?"


Jenn terperanjat dan menjauhkan wajahnya dari Kenn. "What? Cewek apaan tuh? Pasti cewek gak bener. Malu-maluin aja," sungut Jenn. Ia seketika menatap tajam suaminya. "Lain kali kalo bantuin orang, liat-liat dulu. Cewek gak bener gitu, pasti punya niat gak baik."


Perasaan tak enak mendadak mengintainya. Khawatir akan ada hawa lain yang mendekati sang suami.


"Baiklah, Yang Mulia Ratu!"


Kenn menundukkan kepala seperti seorang hamba di hadapan tuannya.


"Tapi jangan khawatir, aku tidak akan tergoda dengan wanita lain. Sejak dulu hingga detik ini, bahkan nanti, tidak ada yang bisa membuatku jatuh cinta selain kamu. Tidak ada wanita cantik dan menarik dimataku, selain kamu, Jennifer Greecya."


Kenn kembali mendekatkan wajahnya, dan dengan lembut ia menempelkan bibirnya ke bibir ranum Jenn.


"Jangan pernah berpikiran yang aneh-aneh. Gak baik, Sayang. Aku mencintaimu, dan hanya mencintai kamu seorang." Kenn mengusap bibir Jenn yang basah karena ulahnya.


Jenn tersenyum dan mengangguk. "Makasih, Kak. Aku juga tak kalah besar mencintaimu." Ia lalu menangkup wajah tampan suaminya. "Sekarang Kakak mandi, dan setelah itu kita makan bersama. Ayo, buruan!"


"Ok, ramuan penghilang lelahnya dulu." Dengan menunjuk seluruh wajahnya.


Jenn yang sudah memahami itu langsung membanjiri wajah Kenn dengan ciuman. Setelah puas, Kenn berlalu ke kamar mandi, sementara Jenn menyiapkan pakaiannya.


Tiga puluh menit setelah Kenn mandi dan berganti pakaian, keduanya lalu keluar kamar dan bergabung bersama ibu dan Kay yang sudah duluan di sana menunggu mereka.


Keluarga kecil itu pun memulai makan malam dengan sesekali mengobrol dan tertawa bersama.

__ADS_1


Kenn yang tidak pernah mau membiarkan Jenn jauh darinya, lagi-lagi meraih tubuh kecil itu dan duduk di pangkuannya. Ibu dan Kay selalu memakluminya.



...🦋🦋🦋...


Kediaman Dharmawan.


Hampir pukul 10 malam, sebuah sedan mewah baru saja berhenti di pelataran rumah megah keluarga Dharmawan. Tampak Alvino keluar dari sana dengan sedikit terburu-buru. Ia melewati ibunya yang bertanya dengan telunjuk yang menempel di bibirnya.


Lelaki tampan itu membuka pintu kamar begitu pelan lalu masuk dengan mengendap-endap.


"Dari mana saja, Papi?"


Alvino mematung begitu suara lembut itu menyapa, mengetahui kepulangannya.


Aiiiihhh … kirain dah tidur.


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya …....


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Dari mana hayoooo 😁


Jangan lupa ….


Like


Komen


Terima kasih buat kalian yang selalu mampir 🙏


Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗


_________________


Oh iya, guys! Kalo ada waktu atau bosen nunggu up bab berikutnya, boleh banget nih mampir di karya teman otor yang satu ini. Keren banget pokoknya 😍👍👍👍


__ADS_1


__ADS_2