
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Alvino keluar dari ruangan dokter dengan raut cemas, khawatir, takut, serta marah yang bercampur aduk mengacaubalaukan pikiran dan perasaannya. Tak hanya itu, penyesalan tak habis-habisnya berlalu-lalang di jiwanya.
Lelaki tampan itu melangkah cepat kembali menuju kamar perawatan istrinya. Setiap hentakan yang terpantul pada lantai rumah sakit, seolah memperdengarkan nada-nada harapan yang bergema. Ia semakin mempercepat langkahnya ingin segera melihat sosok cantik yang mulai mengalihkan atensinya akhir-akhir ini.
Bukan saja itu, ia sengaja mempercepat langkahnya agar menghindari pembicaraan dengan sang ibu, yang hanya akan memicu pertengkaran. Namun, Alvino tidak lagi bisa menahan ketika sang ibu mengejar dan memanggilnya berulang kali.
"Vin, Vino tunggu! Dengerin mami dulu, Nak!" Berlari kecil mengejar langkah lebar anaknya. Alvino tidak menggubris dan terus melangkah. "Alvino, dengerin mami dulu, Sayang!" Tidak menyerah.
"Apalagi yang mau didengerin, Mi? Kebohongan mana lagi?" sentak Alvino yang berhenti dan berbalik menghadap ibunya.
"Mami ngelakuin ini karena gak mau Rossa tau dan kepikiran. Mami takut dia kenapa-kenapa. Kamu gak tau seberapa mami berusaha untuk membuatnya selalu bahagia dan tersenyum. Mami menutupi ini demi kebaikannya," ucap mami Lusy.
"Kebaikan apa, Mi? Yang sedang terjadi sekarang ini, kebaikan? Setidaknya kalau dia tahu, dia lebih bisa mengontrol emosinya. Kalau saja Mami kasih tau ke Vino, mungkin Vino gak ngasarin dia kayak tadi," sanggah Alvino.
"Kamu gak pernah peduli selama ini, Alvino. Kamu mengabaikan dia, mengabaikan tanggung jawab kamu. Bahkan kamu tidak mau mengakui anakmu sendiri. Bagaimana mami mau kasih tau? Sadar, Alvino!"
Alvino terdiam menyadari kesalahannya. Perkataan sang ibu seperti cambuk baginya.
"Berhentilah memikirkan masa lalumu. Lihat istri kamu yang tengah berjuang sendirian mempertahankan anakmu. Beri dia sedikit kebahagiaan, Alvino. Beri dia sedikit cinta dan perhatian. Beri dia semangat untuk sembuh. Dia butuh dukungan kamu, bukan mami dan yang lainnya. Cukupkan dan akhiri sakit hatinya, Nak." Meraih tangan anaknya lalu menepuknya lembut.
Alvino menatap ibunya untuk sesaat, ia lalu berbalik dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Wanita paruh baya itu hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat.
Tiba di depan pintu kamar ruangan rawat istrinya, Alvino membuka pintu dengan sangat pelan lalu masuk. Ia takut mengganggu tidur sang istri. Di dalam sana, tampak Tuan Dharma masih setia menjaga menantunya sendirian.
"Apa kata dokter, Vin? Rossa baik-baik aja, kan?" tanya sang ayah begitu melihat Alvino yang masuk.
__ADS_1
Alvino tidak menggubris perkataan ayahnya yang duduk di sofa dalam ruangan VVIP tersebut. Ia langsung berjalan menuju ranjang istrinya, menarik sebuah kursi yang tersedia di dekat sana lalu duduk menatap wajah damai istrinya.
"Jawab papi dulu, Vin." Desak ayahnya.
Alvino menoleh sebentar ke arah ayahnya hendak membuka mulut, tetapi bertepatan dengan itu, mami Lusy pun membuka pintu dan masuk.
"Mami aja yang jawab, Pi," ucap Alvino dan kembali fokus menatap Rossa. Sedangkan mami Lusy langsung menuju suaminya yang tampak sudah menunggu kedatangannya.
Alvino meraih tangan kiri istrinya yang dihiasi selang infus, menggenggam dan mengusap lembut telapak tangan mulus itu. Ditatapnya begitu lekat dan lama wajah damai Rossa, seolah ingin mengukir dan mencetak seraut ayu itu dalam pandangan serta hatinya. Mungkin di hari esok dan nanti, wajah itu yang akan selalu ada dalam pandangannya, mengalihkan atensinya dari yang lain.
Ya, Alvino harus memulainya dari sini. Mengingat hubungan rumah tangga yang terpaksa dijalani keduanya, serta rasa ketidaksukaan terhadap Rossa, membuat Alvino membangun sederet aturan yang menjadi sekat antara keduanya. Jarangnya pertemuan serta minimnya pembicaraan di antara mereka meski serumah, membuat Alvino belum mengenal istrinya itu dengan baik. Dan inilah kesempatan itu. Dia ingin mengenal bumil cantik satu ini dengan baik, dimulai dari menatap dan menyematkan wajah itu di relung hatinya yang paling dalam.
Tiga puluh menit berlalu, dan Alvino baru melepas tatapannya di wajah Rossa. Ia beralih menatap perut besar gadis cantik itu. Ada sebersit rasa yang menggetarkan hatinya. Pandangannya terkunci di sana, dan entah dorongan dari mana asalnya, Alvino melepaskan tangan halus yang digenggamnya sedari tadi. Kini tangan itu melekat di perut Rossa yang menonjol. Ia tak lagi peduli dengan tatapan kaget serta kagum orangtuanya.
Lelaki itu sedikit mencondongkan tubuhnya, lalu pelan-pelan mendekatkan wajahnya di dekat perut Rossa dengan meletakkan kepalanya di atas ranjang dalam posisi miring dan menghadap gadis itu.
Maafkan aku. Aku … aku tidak tahu harus menyapamu seperti apa? Aku pun tidak tahu, sebutan apa yang pantas untukku. Sekali lagi maafkan aku. Dan terima kasih! Terima kasih sudah mau bertahan dengan gigih di dalam sana.
Batin Alvino berucap syukur mengingat kembali perkataan dokter tadi.
Sekarang kondisi ibu dan bayinya stabil, tetapi tetap harus ada dalam pemantauan. Anak anda sangat gigih, dia berjuang keras untuk tetap kuat di dalam sana, di saat ibunya sedang kesusahan bernafas. Dia anak yang hebat tidak membiarkan ibunya berjuang sendiri.
...*****...
Flash back on.
Di ruangan dokter.
Mami Lusy menceritakan kejadian di rumah tadi sesuai permintaan dokter.
"Ah jadi seperti itu? Syukurlah pasien segera dibawa kemari. Tapi, saya harap kejadian seperti ini tidak terulang lagi, karena hal itu berisiko mengancam keselamatan ibu dan bayinya."
Alvino tersentak dengan debaran jantung yang membenturkan ketakutan hebat.
Dokter muda itu menatap Alvino. "Istri anda positif mengidap preeklamsia."
__ADS_1
Sebelah alis Alvino terangkat. "Preeklamsia?" tanyanya.
"Ya, komplikasi kehamilan berpotensi berbahaya yang ditandai dengan tekanan darah tinggi pada ibu hamil yang ternyata tidak memiliki riwayat hipertensi sebelumnya. Dan maaf saya harus mengatakan ini, istri dan anak anda dalam keadaan bahaya," papar sang dokter.
Deg!
Bagai petir yang menggetarkan bumi dan seisinya, jantung Alvino mendadak terpukul keras. Bagai guliran batu besar dari ketinggian yang jatuh menindih pundaknya. Alvino terjepit ketakutan dan beban berat. Takut memikirkan hal-hal buruk, dan terbeban dengan rasa yang belum terungkap lisannya.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hay semuanya 👋 Maap, tadi mau up, cuman ketiduran dan baru bisa up tengah malam ini 🤭 Maap yah sayangku 😘
Terima kasih buat yang selalu setia menunggu 🙏🤗🤗
Tunggu Alvino dan Rossa terus yah 😍
jangan lupa like dan komen 😍🤗
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗
Ig author : @ag_sweetie0425
_________________
__ADS_1
Hay semuanya 👋 sambil nunggu episode berikutnya, mampir yuk di karyanya temen aku 😍 Keren bangeeeettttt ceritanya 👍 Gak nyesel deh 🤭 Yuuuk Yuuuk, mampir!!!