
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...*...
...*...
...*...
Alvino membuka pintu ruang rawat istrinya dan segera keluar. Raut bahagia yang sejak tadi bergelayut di wajah tampannya, tak lagi terlihat. Mami Lusy mengerutkan keningnya mendapati aura berbeda di wajah ayah satu anak itu.
"Ada ...."
"Reza mana, Mi?" tanya Alvino dengan cepat, memotong perkataan ibunya.
"Katanya mau ke depan sebentar," ucap mami Lusy sambil menunjuk ke arah Reza pergi.
Tidak lagi bertanya apa-apa, Alvino segera melangkah capat mengejar adik sepupunya. Sementara itu, mami Lusy beranjak masuk menemui cucu dan menantunya kembali.
Alvino mempercepat langkahnya setengah berlari. Lelaki itu tampak terburu-buru. Jauh beberapa meter hampir mencapai lobi, langkahnya terhenti mendadak.
Ia terpaku di tempatnya, dengan pandangan lurus ke depan. Dari arah yang berlawanan, seorang gadis cantik juga tengah mengalami yang sama seperti Alvino. Terpaku dalam diam yang berjarak.
Reza yang saat itu ada di sana pun, menjadi tak keruan kala dua orang yang telah bersumpah untuk saling menjauh itu, kembali dipertemukan.
Cepat-cepat ia melangkah ke arah abangnya. "Em, a-aa ... Maaf, Bang! Gu-gue ...."
Seketika suasana tegang kembali terjadi kala Alvino dengan gerakan cepat menarik kerah baju Reza.
"Lo berani bohongin gue? Berani-beraninya lo bawa dia ke sini untuk ketemu istri gue? Lo lupa hah, perkataan gua yang kemarin?" Matanya berkilat marah.
Jenn dan Putri yang berdiri dengan jarak yang masih aman saja ketakutan. Menanggapinya, Reza buru-buru minta maaf, dan menyadarkan Alvino jika mereka tengah berada di tempat yang umum.
"Kenapa Lo harus ngasih tau ke dia segala?" Alvino tidak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya.
"Gue cuman mau nyemangatin dia aja bang. Gu-gue yakin kalo dia kangen sama mereka," ucap Reza beralasan apa adanya.
__ADS_1
"Apapun alasannya, Lo telah berani melanggar aturan gue, dan Lo sudah tau konsekuensinya," tegas Alvino. "Kerena gue sudah berjanji untuk penuhi semua keinginannya, sekali lagi gue izinkan. Tapi ingat, ini untuk yang terakhir kali, jangan pernah berharap untuk ada pertemuan berikutnya." Alvino menghempas tubuh Reza, lalu merogoh gawai dalam saku celananya.
📲 "Kali ini saja, Glyn. Hanya sekali ini saja. Dan ingat, cukup sejam! Aku kembali dari rumah, pastikan mereka tidak lagi ada!"
Tegas Alvino dan seseorang yang sedang berada di balik telpon, begitu senang mendengarnya.
📲 "Terima kasih, papi. I love you, so much."
Alvino memejamkan matanya menahan kesal, mendengar suara ceria sang istri di seberang sana.
📲 "Love you too, Glyn, more then you know."
Sesudah itu, Alvino melangkah pergi dengan tidak menoleh pada Jenn maupun Putri sedikit saja. Sementara Jenn, ia menatap wajah tampan itu hingga menghilang dari pandangannya.
"Liat kan? Betapa dia mencintai Rossa-nya kalian," ucap Reza yang menghampiri keduanya.
"Ya, wajahnya pun amat bahagia meski tengah kesal pada kita." Jenn terkekeh.
Ketiganya lalu bergegas menuju ruang rawat Rossa. Waktu sejam yang diberikan Alvino, tidaklah cukup, maka dari itu, mereka mempercepat langkah menemui Rossa.
...*****...
"Makasih, Sa," bisik Jenn lirih.
Rossa mengernyit. "Buat apa? Gue gak nga ...."
"Terima kasih sudah mau bertahan di sisinya, dan membuatnya bahagia. Lo benar-benar malaikat yang dikirim Tuhan untuk dia, Beb." Jenn tersenyum haru sembari memegang lembut tangan ibu nifas itu. "Sampaikan terima kasih gue juga buat dia, udah mau ngasih kita kesempatan bertemu, dan terlebih lagi ... dia telah begitu mencintai kesayangannya gue ini," imbuhnya dan tersenyum lebar.
Rossa berkaca-kaca. "Gue yang makasih sama Lo, Beb. Yang waktu itu nguatin gue buat bertahan di samping dia. Kalo bukan inget permintaan Lo, mungkin gue dah kabur aja." Perempuan itu terkekeh. "Karena Lo, gue kenal sama dia, dan ... dengan lancangnya, gue jatuh cinta sama dia, padahal kalian masih sama-sama." Rossa menunduk malu.
"Apa sih." Jenn mendengus. "Gosah inget yang dulu-dulu. Sekarang kita telah bahagia dengan jalan kita masing-masing. Gue bahagia banget, akhirnya semua indah pada waktunya." Jenn melirik jam di pergelangannya.
"Kalian mau balik sekarang?" Rossa kembali sedih.
"Sebentar lagi suami Lo dateng dan kita bakal dihukum kalo belum pergi. Sini mau cium ponakan ganteng dulu." Putri mengambil alih baby Gian.
Jenn tersenyum sembari mencolek pipi bayi imut itu. Rossa menangkap aura berbeda di wajah Jenn.
__ADS_1
"Gue doain setelah pulang dari sini, udah ada Kenn dan Jenn sachet di sini." Mengelus perut Jenn yang begitu rata.
"Amin!" ketiganya kompak mengaminkan.
"Mudah-mudahan cewek yah, Jenn. Biar kita jodohkan dengan si ganteng ini," timpal Putri.
Reza mendelik. "Jangan sampai! Gak liat seserem apa ayahnya? Yang ada anak Jenn kena mental," katanya.
Semua yang di sana tertawa meramaikan suasana menjelang sore itu. Mami Lusy yang juga ada di sana, pun senang melihat kehadiran Jenn, tak tertinggal papi Dharma.
"Jaga diri baik-baik yah, Beb. Kita akan selalu merindukan kalian berdua." Jenn memeluk Rossa dan bayinya bergantian. Begitu juga dengan Putri.
Setelah itu ia berpelukan sebentar dengan mami Lusy, juga papi Dharma.
"Jenn titip Rossa dan ponakan ganteng yah, Om, Tante," ucap Jenn pada mertua sahabatnya.
"Jangan khawatir, Sayang. Selagi ada Alvino, tidak akan ada yang bisa menyakiti mereka. Tante juga akan sangat merindukan kamu. Doa Tante, semoga cepat dapet momongan yah!"
"Amin!"
Jenn dan Putri pun pamit dan berlalu meninggalkan Rossa dalam rindu yang sebentar lagi akan menggunung.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya .......
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
AG balik lagi nih ....
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan Vote yah 😍
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗