Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Mendatangi Kantor


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Mami Lusy tersentak dengan permintaan Rossa pagi ini. Bukan apa-apa memang, hanyalah permintaan kecil. Namun, hal itu tidak pernah terpikirkan sedikit pun dalam pikiran mami Lusy dan yang lainnya.


Wanita berusia senja itu tidak menyangka, menantunya akan meminta hal itu. Bukanlah perkara besar, tetapi mami Lusy tidak percaya bahwa Rossa akan punya niat sebesar ini.


Pikirnya, gadis itu mungkin malu dan tidak akan pernah mau mendatangi kantor suaminya itu. Namun, apa yang didengarnya pagi ini sungguh luar biasa membuatnya terkejut.


"Kamu yakin, Sayang?" tanya mami Lusy memastikan.


Jangan sampai gadis yang tengah mengandung di depannya ini hanya bercanda.


"Apa Rossa senang untuk bercanda, Mami?" Pertanyaan balik dari Rossa membuat mami Lusy tak bisa berkata-kata. Keragu-raguan dan ketidakpercayaan yang sempat membentang, terpatahkan begitu saja.


Beberapa saat mami Lusy terbungkam dengan menatap lurus seraut wajah ayu di depannya.


"Boleh, Sayang. Boleh banget! Ini yang mami harapkan sejak dulu," ucap mami Lusy pada akhirnya.


Tidak marah sama sekali, mami Lusy justru terlihat senang dengan hal itu. Malah Rossa yang tak menyangka akan diberi lampu hijau seperti ini. Pada kenyataannya itu hal yang wajar, dan tidak ada yang salah dengan itu.


Alvino suaminya, dan dia berhak mengunjungi kantor sang suami kapan saja dia mau. Tidak ada undang-undang yang melarangnya, bukan?


"Beneran, Mi?" Saat anggukan kepala yang ia dapatkan, Rossa bersorak girang bahkan sampai berjingkrak pelan.


"Eh, eh, apa-apaan ini? Stop! Ingat dong cucu papi di dalam sana!"


Tiba-tiba Tuan Dharma datang dengan layangan peringatan. Rossa yang tersadar pun malu dengan tingkahnya sendiri.


"Maaf, Pi!" cicitnya.


"Lagi seneng dia, Pi. Mau mendatangi suaminya ke kantor hari ini," bisik mami Lusy di telinga sang suami.


Wajah pria setengah abad itu seketika berbinar, serupa dengan ekspresi istrinya. Ini juga yang diimpikannya selama ini.


Dia yang pertama kali mendeklarasikan pernikahan putranya. Dia pula yang mengumumkan calon penerus keluarga Dharmawan. Meski waktu Itu Alvino sendiri tidak mau mengakui atau membenarkan apa-apa.


Jadi biar saja kedatangan Rossa di sana membenarkan dan memperjelas semuanya.


"Benarkah?" Dua wanita berbeda generasi itu sama-sama mengangguk.


"Panggil supir siapkan mobil. Ayo, bersiaplah! Papi yang akan mengantarmu hari ini, cepat!"

__ADS_1


Respon lelaki tua itu ternyata lebih heboh dari istrinya. Rossa dan mami Lusy sampai dibuat melongo melihat respon Tuan besar keluarga itu yang sangat excited.


"Tunggu apalagi? Sana siap-siap, papi tunggu sekarang nih. Cepat!" perintahnya sekali lagi.


"Hmm, Pi," sapa Rossa begitu pelan. "Boleh gak, Rossa pergi sendiri aja kali ini?" tanyanya ragu.


Melihat keantusiasan ayah mertuanya tadi, Rossa takut mengecewakan. Namun, ia juga tetap dengan tekad awal dengan misi tersembunyi. Jangan sampai ayah mertua menggagalkan semuanya.


"Loh, kenapa?" Tuan Dharma memicingkan matanya.


"Papi kayak gak tau aja. Mau bikin kejutan untuk suaminya lah, Pi! Udah ah, biarkan mereka bermesraan di kantor hari ini! Papi kayak gak pernah muda aja," ucap mami Lusy.


Pria paruh baya itu tampak berpikir sejenak. "Baiklah! Biar sopir yang akan mengantarmu."


Putusan itu membuat Rossa bernafas lega. Ia tersenyum kecil memandangi wajah cantik ibu mertuanya. Entah mengapa, wanita itu selalu bisa memahaminya lebih dari siapapun.


Rossa sungguh beruntung memiliki sosok itu dalam hidupnya. Ia mengingat saat dulu ia yang begitu takut dengan kehamilannya dan tidak diterima di keluarga itu, membuatnya ingin melarikan diri. Rossa nyaris menghilang dan kehilangan sosok luar biasa itu.


"Makasih, Papi, Mami! Rossa mau siap-siap dulu." Kakinya yang hampir melangkah, tertahan lagi. "Tapi … Mami sama Papi, jangan kasih tau kakak yah?" mohonnya.


"Iya, Sayang," ucap mami Lusy. Sedangkan ayah mertuanya hanya mengangguk.


Bumil cantik itu lalu bergegas kembali ke kamarnya dan bersiap-siap.


Butuh waktu 30 menit untuk Rossa menyelesaikan semuanya. Gadis itu terlihat cantik dengan perut membuncit. Printed dress hitam bernuansa flora berkerah sabrina, membuat penampilannya terlihat menarik. Sneakers berwarna putih menghiasi kakinya, serta tas selempang kecil berwarna hitam tersampir di bahu.


Cantik dan modis sesuai usianya yang belum genap 20 tahun. Rossa berjalan keluar dan berpamitan dengan mertuanya. Mobil pun segera membawa nona muda itu meninggalkan kediaman Dharmawan.


"Ma-maaf, Nona!"


"Masih lama yah, Pak?" Sengaja bertaya lagi. Ia hanya ingin membunuh kesunyian juga sedikit gugup dalam hatinya.


Tidak ada jawaban dari sang sopir. Rossa jadi kesel sendiri.


Orang-orang di rumah pada malas ngomong atau gak suka sama aku sih? Au ah ….


Rossa memilih diam sambil memandang ke luar jendela, menikmati hiruk-pikuk kota yang sudah 7 bulan ini ia tinggal.


Dua puluh lima menit berlalu, mobil yang ditumpanginya berhenti tepat di depan lobi sebuah gedung berlantai nan megah.


Supir membuka pintu dan mempersilahkan Rossa untuk keluar. Gadis itu perlahan keluar dan memandang takjub gedung perkantoran milik keluarga suaminya.


Waow, besar benget gedungnya!


Rossa membatin dengan decak kagum. Ia memutuskan kekagumannya dan menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya berjalan ke lobi.


Banyak pasang mata menatapnya dengan sorot yang berbeda-beda. Meski risih dan sedikit grogi, sebisa mungkin Rossa menepis rasa itu. Ia melangkah dengan percaya diri menuju reception.


"Selamat pagi!" sapa Rossa.

__ADS_1


"Selamat pagi, Mbak! Ada yang bisa saya bantu?" Salah satu dari dua receptions di sana menyambut Rossa dengan sopan.


"Saya ingin bertemu dengan Tuan Alvino Dharmawan. Apakah beliau ada?"


Dua wanita cantik yang berdiri di balik meja itu seketika memandang Rossa dengan kening berkerut. Tatapan mereka menyorot tajam perut besar gadis cantik itu.


Siapa wanita hamil ini?


Apa dia kekasih Tuan Alvino?


Atau wanita penggoda yang ingin mengaku-ngaku dihamili Tuan Alvino?


Pertanyaan-pertanyaan negatif mulai bertengger di kepala mereka.


"Apakah Anda sudah membuat janji sebelumnya, Mbak?" tanya salah satunya dengan sinis.


"Hmm, belum!" Rossa menggeleng.


"Sebenarnya beliau belum datang, Mbak. Jika ingin menunggu, silahkan duduk dulu di sana." Menunjuk sebuah sofa panjang untuk tamu yang berkunjung.


Rossa tak langsung pergi, tetapi semakin bertanya penasaran. Ia cukup kaget dengan jawaban wanita itu.


"Belum datang? Apa Anda sedang tidak membohongi saya?"


"Benar, Mbak. Silahkan menunggu jika tidak percaya."


Jantung Rossa berdegup kencang sekali saja.


Jadi kakak benar-benar membohongiku?


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya …....


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Selamat pagi epribadeeeh 👋


Maaf kemarin absen 😁


Jangan lupa like dan komen yah 😍

__ADS_1


Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗


__ADS_2