
...~ Happy Reading ~...
...________________ ...
...*...
...*...
...*...
"Apa yang Kakak sembunyikan?"
Rossa langsung bangkit dari tidurnya, menatap Alvino penuh intimidasi. Lelaki itu gelagapan dan membuat Rossa semakin tak sabar ingin mengetahui sesuatu yang seolah disembunyikannya.
"Eng-enggak ada, Honey!" Mengelak.
Lelaki itu mencoba menyunggingkan senyuman manis sekedar meyakinkan sang istri yang mulai khawatir.
Rossa yang memang sedari sudah merasa ada yang aneh, memilih untuk tidak percaya. Dengan cepat ia menarik ke atas, kaos hangat berlengan panjang yang melekat di tubuh Alvino. Namun, belum sempat terangkat sepenuhnya, lelaki itu menghentikannya.
"Kenapa sih, gak percaya? Gak ada apa-apa, Sa." Lagi-lagi Alvino mengelak. Dibalasnya tatapan Rossa begitu lekat dan dalam.
Lama Rossa menatapnya, hingga ia memutuskan tatapan itu dan langsung beranjak turun dari tempat tidur. Tanpa berbicara apapun, ia mengambil bantal dan selimut lalu berjalan menuju pintu hendak keluar.
Alvino kaget dengan refleks melompat dari tempat tidur ingin menahan istrinya.
"Honey, please! Jangan kek gini dong." Berjalan cepat dan langsung menarik tangan Rossa, tetapi gadis itu menepis dengan kuat dan terus melangkah.
"Salah aku apa coba? A-ak-aku gak ngapa-ngapain."
Lagi Alvino mencoba meraih tangannya tanpa membuat ia merasa tersakiti. Bahaya kalau sampai ia marah dan sakit. Big No! Alvino tidak ingin hal itu terjadi.
Rossa tak menggubris. Ia menulikan pendengarannya dan berjalan terus hingga tangannya meraih gagang pintu. Alvino masih terus mencoba menahannya, dan penolakan itu terus Rossa berikan.
"Don't touch me!" seru Rossa dengan datar.
"Oke, oke, aku nyerah." Pada akhirnya Alvino mengalah sebelum Rossa memutar gagang pintu dan benar-benar keluar dari sana.
Rossa pun berhenti tanpa berbalik. Ia masih menunggu apa yang akan dikatakan atau dilakukan laki-laki itu selanjutnya.
Terdengar Alvino menarik nafasnya berat dan menghembuskan secara kasar. Dengan perlahan ia melepaskan baju yang baru saja dikenakannya beberapa saat lalu.
"Look, but don't ask anything."
Satu kalimat itu refleks membuat Rossa membalikkan tubuhnya. Seketika ia ternganga dengan bola mata yang membulat sempurna. Rossa terperanjat bukan main.Bantal dan selimut yang dipegangnya, terlepas dan teronggok begitu saja di atas lantai.
"Kak!" Pekik Rossa.
__ADS_1
Ia menghampiri Alvino dengan jantung yang berdegup kencang tak beraturan. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Rossa menggeleng kepalanya beberapa kali.
Tubuh kekar itu terlihat cacat dan ternoda dengan balutan kain has berbentuk agak memanjang, yang menutupi perut bagian kirinya. Tak hanya itu, lengan kirinya pun terdapat pemandangan yang sama.
"Ke-kenapa bisa begini? A-apa yang terjadi? Tolong, tolong jelaskan padaku, dan, dan … jangan sembunyikan apapun lagi. Tolong, Kak, tolong. Please!"
Rossa pani dan terlihat kacau sendiri. Berjuta tanya dan penasaran berlalu lalang di pikirannya. Rasa khawatir semakin besar menyerbunya.
Apa dia punya musuh?
Atau dia yang mencari masalah dengan orang lain?
"Tenang dulu, Honey. Aku gak kenapa-napa. Ini hanya luka kecil, oke?" Alvino bersikap tenang dan biasa saja, agar ia juga dapat menenangkan istrinya.
"Ini yang Kakak bilang gak kenapa-napa?" Menunjuk luka yang tertutup kain has di perut Alvino.
"Gimana bisa tenang dengan kondisi Kakak kek gini?" Nada Rossa sedikit meninggi, dan hal itu membuat Alvino takut. Takut emosi itu berakibat buruk lagi untuk istrinya.
"Sa, dengerin aku, Sayang. Luka ini gak seberapa, aku bisa mengatasinya. Oke? Don't worry, Honey. Aku bisa kembali dengan selamat di hadapanmu, bukankah itu jauh lebih penting?" Alvino memegang kedua pundak Rossa dan berucap lembut dengan tatapan teduh.
Dengan kedua tangannya, Rossa menepis tangan Alvino yang masih bertengger di pundaknya.
"Mau luka kecil atau besar, mau parah atau gak, intinya Kakak terluka. Dan aku gak mau itu terjadi, aku gak bisa liat Kakak begini."
Rossa yang diliputi ketakutan, kepanikan, juga marah, tiba-tiba saja menangis. Air matanya jatuh rebas ria tak terhalang.
Melihat itu, Alvino langsung menarik pelan tubuh padat dan berisi milik sang istri, masuk dalam pelukannya.
"Maafkan aku, Honey. Maaf!" ucap Alvino pelan sambil mengusap kepala istrinya.
Rossa melerai pelukannya lalu mendongak menatap wajah Alvino.
"Jadi ini yang bikin Kakak tadi lama-lama di kamar mandi? Berobat sendiri, merasa gak punya istri gitu? Aku gak bisa diandalkan begitu?" Cecar Rossa.
"Buk …."
"No! Jangan bilang kalo gak mau buat aku kecapean. Alasannya gak masuk akal sama sekali. Pertama, ini tuh gak nguras tenaga. Dua, ini tugas istri. Fix, aku gak ada artinya buat Kakak."
Netra cokelat itu menghujam Alvino dengan kekecewaan yang besar.
"Gak begitu sama sekali, Honey. Sumpah, aku gak pernah punya pikiran seperti itu. Kamu sangat berarti buat aku, Sa. Bukan cuman sekedar istri aja, kamu lebih dari itu, kamu segalanya buat aku. Aku benar-benar gak mau kamu kecapean. Aku juga sengaja gak mau kasih tau ke kamu. Kenapa? Karena aku gak mau kamu khawatir, Sa. Bagaimana aku menjelaskannya biar kamu percaya, kalau semua itu aku lakukan karena rasa cintaku yang besar buat kamu."
Alvino mengacak rambutnya frustasi. Ia tak merasakan lagi luka di tubuhnya. Kata-kata Rossa ternyata jauh lebih menyakitkan dari sekedar luka.
"Bilang, Sa. Aku harus gimana? Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya?"
Alvino menjatuhkan tubuhnya di depan Rossa, sambil menggenggam kedua telapak tangan gadis itu. Ia menengadah dengan tatapan sayu penuh permohonan.
"Beritahu aku caranya," lirih Alvino. Suaranya mengecil dan terdengar parau di ujungnya. Lelaki itu menangis.
__ADS_1
Disini, bukan saja Rossa yang merasa kecewa. Namun, Alvino juga merasakan hal yang sama. Dia kecewa dengan tuduhan dan keraguan istrinya. Pikirnya, dengan semua yang ia lakukan selama ini, sudah cukup meyakinkan gadis itu bahwa ia sungguh-sungguh mencintainya.
Rossa bergeming. Bukannya ia tidak ingin percaya, tetapi gadis itu masih terbayang masa lalu. Tidak mudah memang melupakan semuanya dalam sekejap. Meskipun ia akui bahwa sekarang ia jauh lebih bahagia dan merasa dicintai. Namun kemabli lagi semua itu tidak serta merta menjamin keseluruhan keutuhan hatinya.
"Apa keraguan itu masih ada?" tanya Alvino dengan suara yang bergetar.
Tepat sasaran, dan seperti bilah yang menancap menusuknya dari dua sisi. Rossa tercekat.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Tidak semua kenangan itu baik....
...Namun, semua itu memberi pelajaran....
...Sebaik apapun masa sekarang, terkadang kita masih perlu berkaca dari kenangan....
...Perihal melupakan, waktu yang lebih tahu....
..._AG Sweetie_...
...🦋...
...Selanjutnya …....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hay semuanya 👋 ketemu lagi 🤗
Jangan lupakan apa?????
Like dan komen dong 😁
Maksih semua kesayangan Rossa-Alvino 🥰
Sampai jumpa di bab selanjutnya yah 🤗
Ig author : @ag_sweetie0425
______________________
__ADS_1
Kalo bosen nunggu bab selanjutnya, boleh dong mampir di karya teman aku yang satu ini. Gak kalah keren loh, guys 😍