Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Cemburu


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


"Jangan sok asik!"


Entah kalimat itu ditujukan untuk siapa? Yang pasti baik Rossa maupun Alex, sama-sama merasa bahwa kata itu dialamatkan untuk mereka.


Rossa lantas cepat menarik tangannya yang belum juga sempat bersalaman dengan Alex. Jantungnya berdegup kencang melihat kehadiran lelaki pemarah itu di sana. Raut bahagia sedari tadi yang membalutnya, terlepas dan sirna dalam sekejap.


Ia khawatir akan hujaman cerca yang pernah diucapkan laki-laki itu kembali melukainya. Rossa meremas dress rumahan yang dikenakan mertuanya. Ia sedikit mendongak dan menatap wajah keriput yang masih saja cantik.


"Rossa mau ke kamar aja, Mi," bisiknya.


Tangan mami Lusy menepuk pelan dan mengusap-usap pundaknya memberikan ketenangan. Lewat sorot matanya, wanita paruh baya itu ingin menyampaikan bahwa semua baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Saat itu juga, Alex langsung membalikkan badannya begitu mendengar suara Alvino yang datang dari arah belakang.


"Ngapain Lo masih di sini?" Tajam tatapannya mampu menancapkan sebilah ketakutan bagi siapapun yang melihat ke dalam netranya.


"Gue cuman pengen ngucapin selamat buat istri lo," jawab Alex dengan sikap yang wajar.


Namun, sejujurnya ia ingin sekali tertawa keras melihat kekesalan di wajah garang Alvino. Meski tidak dipungkiri juga bahwa ia sedikit takut dengan cara Alvino memandangnya. Jika saja tidak ada orang lain di sana, Alex sudah yakin pasti tonjokan itu akan menempel di sebagian tubuhnya.


Cemburu juga 'kan? Sok jual mahal sih, bagusnya dikerjain nih.


Alex hanya bisa tertawa dalam hati. Alih-alih takut dengan tatapan membunuh dari temannya, ia malah memikirkan hal untuk membuat Alvino semakin terbakar.


"Gak perlu! Lebay banget lo. Sana pulang," ucap Alvino begitu ketus.


"Sebentar, Lex!" cegah mami Lusy dengan cepat. "Tolong anter Rossa sampai di depan kamarnya yah." Ini kesempatan.


Alex lantas menoleh pada wanita paruh baya itu. Satu kedipan yang ia dapatkan lantas membuatnya mengerti.


Pas banget momennya. Batin Alex terkikik senang.


Sedangkan Rossa, seketika melotot pada mertuanya. Sarap kali mami, seneng banget apa, aku dimaki-maki anaknya?


Sementara Alvino sendiri berdecak kesal. "Mami," geramnya.


"Kenapa?" Mengernyit, pura-pura bingung.


"Mami aja yang nganterin napa sih? Lagian dia bisa jalan sendiri 'kan? Repot amat." Kekesalan itu tidak tersembunyikan sama sekali.


"I-iya, Mi. Gak usah, Rossa bisa sendiri kok." Sudah mau beranjak, tapi lagi-lagi ditahan mertuanya.

__ADS_1


"Gak bisa, harus dianter pokoknya! Kamu sedang mengandung pewaris keluarga Dharmawan. Sudah seharusnya kamu dijadikan ratu di sini. Gimana kalo kamu jatuh atau kenapa-kenapa? Mami gak mau itu sampai terjadi. Harus ada penjagaan khusus 24 jam buat kamu. Titik!" ucap mami Lusy penuh penekanan.


Alvino memutar bola matanya, sedangkan Alex sudah menahan tawa setengah mati.


Gila, tante Lusy keren banget ngototnya. Lanjut ah ….


"Ya sudah, sama gu …."


Belum juga menyelesaikan perkataannya, tangan Alvino sudah lebih dulu bergerak cepat mencengkram kerah kemejanya.


"Lo jangan cari masalah sama gue, anjir." Tatapannya berubah marah.


Mami Lusy terperanjat. Tidak menyangka jika tanggapan putranya sampai begitu. Sedangkan Alex menyeringai membuat Alvino semakin marah dan hampir saja memberinya pukulan.


"Kak!" pekik Rossa.


Seketika Alvino menarik kembali tangannya dan langsung melepas cengkramannya dengan mendorong keras tubuh Alex. Lelaki itu memejamkan matanya sembari membuang nafasnya kasar.


"Ayo!" Mengulurkan tangannya untuk Rossa. Gadis itu tidak langsung menerimanya. Ada takut, ada bingung yang memenjarakan gerak dan logikanya.


Mami Lusy dan Alex saling tatap dan melempar senyum.


"A-ak-aku bisa sendiri, Kak." Gugup serta takut memeras habis keberaniannya.


"Jangan buat aku marah!" Menggeram menahan marah.


Tanpa ingin mengundang bencana lagi, Rossa bangkit dengan perlahan. Melihat istrinya yang kesusahan, Alvino refleks mendekat dan membantunya berdiri.


Ini pertama kalinya sentuhan itu kembali dirasakan Rossa, sejak kejadian kelam di hotel. Ada gugup yang sebenarnya ia nikmati. Ada takut yang anehnya memberi nyaman. Rasa apa ini? Rossa ingin terus merasakannya.


Seluruh tubuhnya dibuat diam tak bergerak. Ia masih ingin meresapi sentuhan ini, jantungnya masih berirama mengalun indah mendengungkan senandung merdu yang mengusir segenap ketakutannya.


"Mau jalan gak?" Rossa baru tersadar ketika suara menyebalkan kembali terdengar.


Tanpa suara, gadis itu hanya mengangguk berulang kali. Bibirnya terlalu kelu untuk bertutur. Suaranya seakan tertelan oleh aneka rasa rasa indah yang masih ingin memanjakan jiwanya.


Alvino menggenggam tangannya, menuntunnya menuju kamar.


"Yes, yes, berhasil, berhasil," ucap mami Lusy berirama seolah berbicara tapi juga bernyanyi. Eh, gimana sih konsepnya? Entahlah, wanita paruh bayah itu sulit menjelaskan dan mengungkapkan rasa bahagianya.


"Ah, jadi Tante sudah merencanakan ini?" tanya Alex.


"Tentu saja," jawab mami Lusy begitu senang. "Makasih, Lex, udah bantuin tante hari ini. Besok-besok lagi yah." Raut sukacita itu tidak dapat disembunyikan.


Alex spontan menggeleng dengan kedua tangan yang ikut melambai. "Ogah, Tan. Aku gak berani! Tante liat yang tadi 'kan? Baru juga mau pegang tangan, udah horor aja tatapan dia. Gak ah, gak punya nyali aku."


Mami Lusy malah tertawa mendengarnya. "Ya sudah, untuk hari ini Tante sudah sangat senang. Setidaknya, tante tahu bahwa dia benar-benar peduli pada istrinya." Tersenyum tulus. "Oh yah, kamu boleh beristirahat sambil menunggu makan malam."


Banyak kamar pada rumah besar itu. Alex pun sudah sering menginap, dan ia bebas memilih kamar mana saja yang ingin ia tempati. Bahkan, dia punya kamar sendiri di sana. Hanya saja ia lebih memilih tinggal di apartemennya.


"Makasih, Tan! Tapi gak usah, aku balik aja. Takut kena semprot si pemarah itu lagi."

__ADS_1


Lagi-lagi mami Lusy tertawa. "Ya sudah, terserah kamu saja."


Alex lalu berpamitan dan langsung pulang tanpa menunggu Alvino lagi. Sedangkan mami Lusy ikut berlalu dari sana mencari suaminya. Biasalah, dia ingin menceritakan kebahagian yang ke-dua kalinya ia rasakan di hari itu.


Di depan kamar Rossa.


Gadis itu sudah masuk ke kamar, tetapi ia sedang bersandar di balik pintu sembari menahan dadanya dengan kuat. Matanya terpejam, mencoba menetralkan debaran jantung dan tarikan nafasnya.


Sedangkan di depan kamarnya, Alvino pun masih berdiri di sana dengan hati yang tak menentu.


Kapan keberanian ini akan mendukungku? Beri aku waktu sebentar untuk mengumpulkannya lagi.


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Pengecut terbesar adalah pria yang membangunkan cinta seorang wanita tanpa bermaksud untuk balas mencintainya....


..._Bob Marley_...


...🦋...


...Selanjutnya …...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Hay, happy Sunday semuanya 👋


Semoga hari kalian menyenangkan yah 🥰


Makasih buat yang selalu menunggu 🙏


Jangan lupa like dan komen, biar otornya makin semangat 🔥😍


Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗


Ig author : @ag_sweetie0425


________________


Sambil nunggu bab selanjutnya, boleh mampir di karya teman aku di bawah ini 👇


Ini rekomendasi banget loh, guys 😍 Kepoin yooookk ...


__ADS_1


__ADS_2