Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Satu Ciuman


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Senja buru-buru berkemas meninggalkan cakrawala, raja siang dengan damai membenamkan diri di ufuk barat. Sang dewi malam keluar mengajak serta bala tentaranya. Bentala kini dikuasai gelap, dikungkung langit bertabur bintang. Sungguh pemandangan malam yang indah, seindah hati seorang Alvino.


Lelaki tampan itu duduk dengan tenang di dalam mobil, berwajahkan kebahagiaan yang tak terkira. Mobil melaju dengan kencang di tengah jalanan yang mulai lengang. Butuh waktu tiga puluh menit untuk Alvino sampai di rumah sakit.


Lelaki tampan itu menginjakkan kaki di depan pintu ruang perawatan istrinya, tepat pukul 9 malam. Tidak perlu baginya untuk mengetuk dan meminta izin agar bisa masuk, Alvino langsung memutar gagang pintu dengan pelan dan sedikit melongokan kepalanya.


Ia disuguhi pemandangan indah yang membuat kadar bahagia di hatinya semakin bertambah. Gadis cantik yang ingin dilihatnya sedari tadi sedang duduk di ranjang, bersandar pada bantal-bantal yang disusun untuk menopang tubuhnya. Matanya tertuju pada layar tv yang tengah menyala. Entah tontonan seperti apa hingga mampu memecahkan tawa gadis manis itu.


Alvino segera masuk lalu menyapa bumil cantik yang sudah mengembalikan sebagian kewarasannya, yang telah lama tersesat dalam kelamnya masa lalu.


"Selamat malam." Berjalan menuju ranjang pasien dengan sebelah tangan di belakang.


Empat orang di dalam sana kaget dan seketika menoleh ke pintu. Tawa riang di wajah Rossa pun sirna berganti kusut. Berbeda dengan dua mertuanya yang senang melihat kedatangan putra mereka. Pelayan muda bernama Tari, bangkit berdiri dari duduknya dan menjauh dari sisi Rossa. Ia tahu bahwa tuan mudanya itu tidak suka istrinya didekati orang lain, apalagi pelayan seperti dirinya.


"Malam, Vin!"


"Malam, Tuan!"


Hanya sang ibu dan pelayan yang membalas sapaannya. Tidak dengan Rossa dan sang ayah.


"Kok baru datang?" tanya mami Lusy.


"Sibuk, Mi." Sudah berdiri di samping istrinya. "Hay, kok tiba-tiba diem pas aku datang, marah yah?" Sedikit kecewa melihat wajah istrinya yang tak lagi sebahagia tadi.


Lebih tepatnya gak suka …


Rossa membatin kesal tapi memaksa senyum meski begitu kaku. Di belakang mereka, mami Lusy dan yang lainnya tersenyum melihat sesuatu yang disembunyikan Alvino di belakangnya.


"Gak kok," jawab Rossa singkat lalu menunduk.


Alvino menarik nafasnya lalu tersenyum kecut. Sulit memang meyakinkan sebuah hati yang lebih dulu terluka. Batinnya memaklumi.


"Jika kamu marah, ini sebagai permintaan maaf ku." Memberikan sebuket bunga anyelir berpita putih, beserta boneka kecil dengan sebuah kartu ucapan ' Get Well Soon, istriku' yang terselip di sana.


Rossa mengangkat pandangannya melihat apa yang disodorkan sang suami. Senyum manis kembali menghiasi wajahnya. Dengan senang hati ia menerimanya, lalu menghirup harum bunga dan mencium boneka kecil itu.

__ADS_1


Kamu memang romantis. Seperti ini yang selalu aku liat saat kalian masih bersama dulu.


"Makasih, Kak!" ucapnya tanpa melihat Alvino. Matanya masih sibuk membaca kartu ucapan yang terselip di sana.


"Cuman makasih?" Menatap Rossa dengan lembut. Gadis itu kembali melihatnya dengan bingung.


Memangnya harus bilang apa?


Alvino sedikit menunduk memajukan wajahnya. "Berikan aku satu ciuman sebagai ganti ucapan terima kasihmu." To the point, tanpa basa-basi.


Alvino tersenyum sementara Rossa memerah dengan debaran jantung yang tak beraturan lagi. Gadis itu memundurkan wajahnya serta menarik tubuhnya ke belakang. Alvino tahu itu dan ia semakin ingin menjahili istrinya. Semakin Rossa mundur, semakin Alvino menunduk dan memajukan wajahnya. Begitu terus sampai Rossa tak bisa lagi untuk berkutik dan satu kecupan mendarat di bibir mungilnya. Alvino tersenyum puas lalu berpindah ke tempat duduk di dekat ranjang. Sedangkan Rossa masih mematung sambil matanya membulat mengerjap berulang kali.


"Om, aku sarankan beli saja rumah sakit ini biar kita tidak merasa cuman mengontrak di sini," ucap Alex yang dari tadi diam menyaksikan kebucinan atasannya. Yang lain tertawa mendengar itu, sementara Alvino tampak tak peduli, dan Rossa yang kaget mengetahui keberadaan teman suaminya juga ada di sana. Ia malu dan menutup wajahnya.


"Masih di situ Lo? Gue pikir langsung pulang tadi," ucap Alvino dengan acuhnya.


"Bilang aja mau ngusir." Sudah memahami kebiasaan Alvino.


"Itu tau." Rossa langsung menurunkan tangannya melihat Alex. Dalam hatinya benar-benar kesal dengan Alvino yang tidak pernah bisa menghargai orang lain.


"Halo, Kak!" Rossa menyapa Alex, meskipun masih dipenuhi rasa malu. Namun, Alex hanya tersenyum dan menunduk tanpa membalas sapaannya.


Kenapa sih? Kok diem gak balik nyapa ke biasanya …


"Pulanglah!" Tegas Alvino.


"Baiklah!" Alex tak mau membantah. Nada Alvino jelas tak main-main. "Om, Tan, aku pamit." Alex langsung melangkah keluar dan menutup pintu.


"Loh, kok cuman Mami sama Papi yang disapa? Aku gak, kak Alex juga gak bales sapaan aku tadi." Rossa protes tak terima.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan gadis itu. Alvino diam dengan mata terpejam menahan geram. Ia sedang belajar mengendalikan emosi di depan istrinya.


Gara-gara tuan pemarah ini pasti … Rossa melirik kesal ke arah suaminya, dan Alvino menangkap itu.


"Mami dan Papi juga pasti capek, kan? Pulang aja, biar Vino yang di sini," ucap Alvino pada orangtuanya. Kamu juga pulang." Menunjuk pelayan yang sudah seharian menjaga istrinya." Rossa terperanjat, dan Alvino senang melihat keterkejutan bercampur panik di wajah cantik itu.


What? Semua pulang? No, no, no, big no!!!


Bumil cantik itu berteriak marah dalam hati. Laki-laki di depannya ini memang ahli membuat kesal. Laki-laki menyebalkan yang pernah Rossa temui di muka bumi ini, sekaligus satu-satunya laki-laki yang ia cintai.


"Yakin bisa sendiri, Vin?" tanya ayahnya.


Alvino mengangguk. "Yakin dong, Pi. Udahlah, sekarang kalian semua pulang aja sana." Mengusir dengan lembut.


"Mi, Rossa gimana?" Tatapan memelas.

__ADS_1


"Ada aku, Sayang!" Tersenyum manis tanpa dosa. Yang lain ikut tersenyum, sementara Rossa malu bercampur kesal.


Gadis itu langsung beringsut masuk ke dalam selimut menyembunyikan diri dari perintah suaminya yang ia tahu tidak akan terbantahkan. Rossa menyerah pada kemutlakan suaminya.


Kedua orangtua Alvino pun mengerti situasi ini, dimana Alvino mungkin butuh waktu berdua dengan istrinya. Mereka pun tidak ingin mengganggu kedekatan keduanya yang baru saja membaik. Ini yang mereka inginkan. Akhirnya mereka mengalah dan memilih pulang. Di luar dari pada itu, kemauan Alvino tidak akan bisa ditolak.


"Sayang, mami sama Papi pulang dulu, yah. Besok pagi mami sudah balik lagi kok." Mami Lusy mengusap kepala Rossa dan berpamitan. Gadis itu hanya mengangguk tanpa suara.


"Jagain mantu mami dengan baik, Vin." Berpesan pada putranya dan segera beranjak menuju pintu.


"Siap, Mi. Gak perlu diingetin juga Vino udah akan jagain," jawab Alvino dengan santai.


"Selamat malam, Tuan, Nona!" Pelayan menunduk memberi salam dan menyusul kedua majikannya berlalu dari sana.


Berdua saja dengan dia? Aku harus bagaimana ini? Aaaaaaa …


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya …...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Hay semuanya 👋 ketemu lagi 🤗


Maap yah, kemarin gak up 🙏🙏


Terima kasih sudah menunggu 🥰


Jangan lupa like dan komen yah 🙏😊


Sampai jumpa lagi di episode berikutnya 🤗


Dan selamat mengakhiri tahun 2021, sampai jumpa lagi di 2022 yang penuh harapan 🤗❤️


Ig author : @ag_sweetie0425


____________________

__ADS_1


Sambil nungguin bab selanjutnya, mampir juga yuk! di karya teman otor yang satu ini. Bagus banget loh, gak kalah serunya 😍 kalau berkenan, mampir yah 🌼



__ADS_2