
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...*...
...*...
...*...
Tanpa terasa, sebulan berlalu sudah. Baby Gian tumbuh dengan sehat, dalam lingkungan penuh cinta dan kasih sayang dari semua orang. Ia diperlakukan layaknya seorang putra raja.
Banyak kunjungan dan hadiah yang diberikan oleh keluarga, rekan-rekan bisnis Alvino maupun papi Dharma, juga dari semua karyawan yang bernaung di bawah Dharma Jaya. Tak hanya hadiah, ada doa dan harapan baik yang mereka ucapkan untuk calon pemimpin Dharmawan selanjutnya itu.
Jangan tanyakan lagi seperti apa bahagianya Alvino sekarang! Auranya semakin bersinar dan berkharisma. Pesona ayah muda satu itu semakin melemahkan iman segenap hawa manapun.
Tidak heran, Rossa mulai bersikap posesif dalam mencintai lelaki berlesung pipi itu. Cinta di antara mereka makin hari tumbuh kian besar dan dalam. Pasangan yang tengah berbahagia itu tidak mau berjarak barang sedikitpun.
Alvino akan ke kantor dengan drama sedikit paksaan karena tidak mau berpisah, dan pulangnya pun tidak akan lama-lama. Baginya, surga bahagia selalu menantinya di rumah. Maka dari itu, sejauh dan selama apapun perjalanannya di luar, hatinya selalu saja tertinggal di rumah, untuk dua makhluk yang sangat berarti dalam hidupnya.
Rossa yang sudah mulai pulih, kembali aktif seperti biasanya. Menjalankan tugas dan kewajiban sebagai istri serta ibu yang baik, bagi suami serta anaknya.
Suatu malam malam, Alvino di buat pusing oleh permintaan istrinya yang selalu ia anggap aneh. Rossa meminta ingin mengunjungi Filen yang masih mendekam di balik jeruji besi.
"No, no, big no! Jangan aneh-aneh, Glyn! Coba minta itu yang masuk akal, tas mahal kek, gaun mewah kek, perhiasan dari berlian kek, liburan atau honeymoon ke Maldives kek. Ini mintanya selalu yang aneh," gerutu Alvino panjang lebar.
Rossa memelas. "Pi, Papi ... Papinya Gian! Boleh yah, Papi baik deh." Ia mengedipkan matanya beberapa kali, membuat bulu mata lentiknya bergerak-gerak lucu.
Wanita cantik nan ayu itu tengah merayu suaminya untuk sebuah surat izin jalan. Tingkah gemasnya membuat Alvino tidak dapat menahan.
"Ngapain sih, Hon? Dia udah jahat sama kamu." Masih saja kesal.
__ADS_1
Rossa menggenggam tangan suaminya. "Kejahatan itu, jangan dibalas dengan kejahatan. Orang jahatin kita, harus dibaikin, bukan dijahatin lagi. Toh nanti dia makin jahat dan dendam sama kita. Ingat, Papi! ... kita udah punya Gian. Aku gak mau dendamnya orang sama kamu, kebawa-bawa sampai anakku. Big no! Cukup aku yang ngerasain imbasnya aja," jelas Rossa pada suaminya.
Kenapa punya hati selembut ini sih? Gimana aku gak jatuh cinta coba? Beruntungnya aku memiliki kamu, Glyn.
Alvino membatin sembari menatap bibir ranum yang terus saja mengoceh menasehatinya. Rasa kagum dan cinta tak putus-putusnya pada perempuan sederhana itu.
"Lagian aku gak kenapa-napa 'kan? Gian juga selamat dan sehat. Semua baik-baik aja, Kak. Dan satu lagi, aku menghargai hubungan pertemanan Kakak sama ... sekretaris itu." Rossa tersenyum kecil.
Hampir saja ia menyebut nama laki-laki lain. Melihat Alvino yang mulai melotot, ibu satu anak itu ingin sekali tertawa, tetapi ditahan. Ia sedang dalam mode serius.
"Kakak sekarang sudah bahagia, selama ini dia banyak membantu Kakak 'kan? Sekarang giliran Kakak yang harus membalas kabaikan dia selama ini. Berikan dia kebahagiaan itu juga, Kak! Biarkan dia menentukan pilihannya tanpa harus merasa terbebani dengan restu Kakak," lanjut Rossa.
Alvino tampak diam dan merenung kata-kata istrinya. Ia menatap manik coklat Rossa begitu dalam. Senyuman penuh kagum tak terelakkan di wajah tampannya.
"Aku jatuh, Glyn," ucap Alvino sambil memegang dadanya.
Rossa terperanjat. "Hah? Di mana, kapan? Mana yang terluka? Kenapa gak kasih tau aku?" Mulai panik.
"Jatuhnya aku gak sakit, Honey. Tapi sebaliknya, nikmat dan ... bahagia." Ucapan itu membuat Rossa mengernyit. "Aku jatuh cinta, Glyn! Jatuh cinta sama kamu, lagi dan lagi. Aku mau terus jatuh dalam cintamu berulangkali!" Langsung menyambar bibir ranum yang sedari tadi menyita atensinya.
Rossa mendelik dengan satu tinju pada dada suaminya, begitu Alvino melepaskan ciuman mereka. "Kirain jatuh di mana, bikin khawatir aja," sungutnya.
Alvino terkekeh. "Aku ragu, jangan-jangan ... kamu bukan manusia lagi."
Rossa hendak melayangkan protes, tetapi dengan cepat Alvino membungkam mulutnya dengan telapak tangan.
"Dengar dulu, belum selesai. Aku itu curiga, jangan-jangan kamu adalah malaikat yang dikirim Tuhan dalam mimpi-mimpi aku selama ini, dan sekarang jadi nyata," lanjutnya dan langsung tertawa.
"Kakak ...." rengek Rossa dengan manja.
"Apa, Honey?"
__ADS_1
"Peluk."
"Kebiasaan."
Alvino langsung meraup tubuh mungil Rossa dalam dekapannya.
"Pergilah dan temui dia. Waktunya tidak lebih dari sejam, Glyn!" titah Alvino.
Rossa melepas pelukan keduanya dan berjingkrak senang. "Ah, aku juga jatuh lagi nih kayaknya."
Gelak tawa memenuhi kamar pasangan suami istri itu ....
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya .......
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Yuhuuuu, up yang ke tiga untuk hari ini 😍
Jangan lupa like dan komen 🙏
Dan, sampai jumpa di episode berikutnya 🤗
__ADS_1