Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Merindukan Bumil Cantik


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


📲 "Halo, Za!"


Tidak ada suara dari panggilan video itu, tidak jua tampak wajah sang penelepon. Layar tampak gelap, membuat dua gadis yang menunggu begitu tak sabaran serta tercekik penasaran.


📲 "Reza, woiiii!"


📲 "Diam, jangan berisik!"


Lelaki di seberang telepon berbisik memperingati. Tiba-tiba layar ponsel menjadi terang, memperlihatkan sebuah ruangan mewah nan megah.


Sedetik kemudian, suguhan pemandangan indah sepasang suami-istri yang tengah berjalan sembari bergandeng mesra. Dua hawa itu menajamkan pandangan pada layar.


Keduanya saling tatap untuk sejenak, sebelum akhirnya teriakan histeris memecah langit-langit apartemen di sana.


"Yah, mati …," keluh salah satu gadis. Wajah cantiknya memelas berpadu sendu. Baru saja


"Jenn, itu tadi beneran mami sama si brengsek itu kan?" tanya gadis satunya lagi.


Gadis berpenampilan tomboi itu dari dulu tidak suka dengan Alvino. Sejak lelaki itu masih menjalin hubungan dengan Jenn, sampai kini menikah dengan Rossa, kekesalan si tomboi itu tak kunjung hilang.


Kerap rasa heran mendorong sebuah pertanyaan konyol yang mewakilkan perasaannya. 'Apa sih hebatnya lelaki itu, hingga dua sahabatku tergila-gila dengannya?'


Kurang lebih seperti itu, dan Jenn hanya menanggapinya dengan tawa.


"Huss, jangan gitu, Put!" tegur Jenn. "Dia sekarang gak kayak gitu lagi, lo liat sendiri kan tadi?" lanjutnya.


Sejenak Putri terdiam sambil mengingat adegan romantis berdurasi 5 detik tadi. Si gadis tomboi itu melirik sahabatnya, sejurus kemudian ia tertawa dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa.

__ADS_1


"Gue bakal bersujud meminta maaf padanya, jika itu bukanlah drama semata," ucapnya di sela-sela tawa.


Jenn ikut merebahkan tubuhnya di samping Putri. "Gue yakin seyakin-yakinnya, itu pure natural banget. Gak ada drama sedikitpun, dan gue bahagia untuk itu."


Tatapan perempuan itu terpaku di langit-langit ruangan, raut cantiknya bermandi haru dan bahagia.


"Tapi …," ucapnya tertahan. "Gue juga sedih, Put!" imbuh Jenn sendu.


Gadis tomboi itu bangkit dan menautkan tatapannya pada sang sahabat. "Kenapa?" tanyanya.


Embusan nafas berat pun terdengar, menandakan setumpuk beban yang coba dilepaskan Jenn. Tanpa membalas tatapan penuh tanya dari Putri, Jenn menumpahkan lagi keluh yang selau bergema dalam jiwanya.


"Seandainya dulu gue gak keguguran, mungkin sek …."


"Udah, udah, stop it, Jenn! Remember that, apa yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut standarisasi Tuhan. Dia tahu yang terbaik buat kita, Dia tahu kapan kita akan bahagia. Kita hanya bisa bermimpi dan merancang ini, itu, tetapi Dia yang akan menentukan segalanya. Syukuri dan jalani, ok?" Putri kembali menasehati sahabatnya.


Jenn menepis setitik embun di pelupuk matanya. "Jalan, yuk! Bosen nungguin si Reza."


Jenn bangkit lalu berlalu menuju kamar, hendak mandi dan berganti.


"Mau ke mana, Jenn? Jangan ngadi-ngadi, lo. Kita baru di sini, gue gak tanggung jawab sama suami lo yah!" pekik Putri tidak setuju.


Mantan kekasih seorang Alvino Dharmawan itu mengedipkan sebelah matanya, kemudian berlalu pergi begitu saja. Mau tak mau, Putri pun bangkit mengikuti langkah perempuan bertubuh mungil itu.


Jika perempuan dengan julukan si mini itu sudah bertitah, artinya tidak ada kata tidak. Keingin Jenn selalu menjadi prioritas semua suami, sahabat, maupun orang tuanya.


...*****...


"Apa yang bawa lo kemari?"


"Tentu saja merindukan bumil cantik ini!"


Brakkk!!!


Hantaman keras pada meja makan, membuat semua yang ada di situ terlonjak kaget. Sepersekian detik kemudian, beberapa piring dan gelas bergeser sembarangan.


Tubuh tinggi tegap itu kini sedikit membungkuk di atas meja, dengan kedua tangan yang terulur, menjangkau kasar seseorang di seberang meja.

__ADS_1


"Ngomong apa lo hah?" geram Alvino. Ia mencengkram erat kerah baju Reza.


"Kak, udah! Dia becanda doang, jangan didengerin!" Rossa ikut berdiri sambil mengusap-usap punggung suaminya.


"Becanda sekalipun, gue gak ngizinin." Alvino menyorot Reza dengan tajam. "Jangan lancang untuk memiliki perasaan apapun padanya! Dia bukan lagi teman lo, tapi dia istri gua. Sekarang juga lo balik ke apartemen!" titah Alvino dengan tegas.


"Jahat banget, Bang! Gue minta maaf, tapi bentar lagi baru pulang yah, baru juga dateng udah diusir aje," ucap Reza santai merespon kalakuan sang kakak.


"Vin, kamu apa-apaan? Mami juga belum ngobrol apa-apa sama Reza. Cemburumu tidak beralasan, Nak." Mami Lusy menengahi.


Alvino meradang mendengar pembelaan sang istri juga ibunya terhadap Reza.


"Gue tau tujuan lo ke sini. So, jangan coba-coba mengingatkan istri gue tentang siapapun di masa lalunya! Kalo gak, gue bakal lupain juga kalo lo adik sepupu gue. Ngerti?" Ancaman yang tak main-main.


Reza tercekat, ia melirik Rossa sejenak. Bumil cantik itu menutup matanya sekilas tanda mengiyakan saja. Membantah Alvino tidak pernah akan selesai, dan dia akan selalu menang.


Lalu untuk apa gue ngajak Jenn dan Putri kemari jika lo gak bisa gerak dikit aja dari sisi si pemarah ini?


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya …....


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Hai, ai em kambek 🥰🤗


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah ❤️


Terima kasih buat yang selalu mampir 🙏

__ADS_1


Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗


__ADS_2