
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
"Honey!"
Suara itu ….
Rossa tersentak lalu segera mengalihkan pandangannya yang sedari tadi tertuju ke arah toilet, menatap ke depan.
Seketika jantungnya bergemuruh hebat. Matanya membulat dengan nafas yang tercekat. Tubuhnya menegang kaku tak dapat bergerak barang sesenti saja. Hanya membisu dengan tatapan tak lepas dari sosok tampan yang tengah melangkah masuk dari depan sana.
Bukan saja Rossa, Filen dan kakaknya pun dibuat kaget dengan kedatangan sosok itu.
Satu kecupan di pipi Rossa membuat dua orang di sana meradang.
"Kok bisa sampai sini? Mami mana?"
Menunduk menatap lekat mata istrinya. Ingin mencari sesuatu yang mungkin saja tersembunyi di balik sorot mata istrinya. Ada seberkas ketakutan tertangkap netranya.
"E-e, ma-mami lagi ke toilet." Sungguh Rossa seolah ingin membeku. Terlalu sulit berkata dengan tatapan Alvino yang seperti ini.
Filen dan kakaknya tersentak. Pikir mereka, Rossa datang sendirian dari tadi.
"Ma-maaf, Kak. Aku tadi lu-lupa ngasih tau kalau mau ketemu teman," imbuhnya.
Alvino beranjak duduk di samping sang istri. Ia tersenyum sinis menatap tajam dua orang di sana.
"Jadi ini teman kamu, Sayang?" Pertanyaan yang Rossa yakini bahwa suaminya itu sudah tahu jawabannya. Rossa menganggap ini ujian kejujuran. Berbohong sekalipun, Alvino akan tahu.
Dia kan cenayang. Apa-apa yang belum sempat ku ungkap, dia sudah lebih dulu menjawab sendiri.
Rossa mengangguk cepat. Ia bergidik melihat senyum di wajah suaminya. Senyum yang terkesan mengerikan.
"I-iya, Kak."
"Selamat siang, Tuan. Saya Filen, tamannya Rossa." Berdiri hendak bersalaman, tetapi Alvino menolak dengan telapak tangan yang terangkat. Mode angkuhnya on. Filen kembali duduk. "Ah, dan ini …."
"Tuan Felix?" Itu bukan suara Alvino, melainkan suara Alex yang baru saja bergabung, menghentikan ucapan Filen.
Sh*it! Kenapa jadi begini sih. Kacau semua rencana kita, Fil. Sekretaris brengsek.
__ADS_1
Lelaki itu mengumpat dalam hati melihat sekertaris setia Alvino juga di sana.
"Oh, hai, Tuan Alex." Memaksakan kakinya untuk berdiri berjabat tangan dengan Alex.
Kembali ia mengalihkan pandangannya pada sepasang suami-istri yang duduk manis di depannya.
"Ah, selamat siang, Tuan Dharmawan." Mengulurkan tangannya. "Maaf tadi ingin menyapa, tapi takut mengganggu pembicaraan dengan istri Anda." Tidak seperti itu sebenarnya.
"Anda mengenal saya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tak kalah berdramatis.
"Ah, maaf, Tuan …."
"Dia, Tuan Felix Airlangga yang mengajukan kerjasama antara perusahaannya dengan perusahaan kita beberapa waktu lalu, Tuan," beber Alex.
Alvino tampak manggut-manggut tanpa membalas uluran tangan Felix sama sekali. Lelaki tampan itu tampak acuh. Namun, ada sebuah rasa tertahan yang hampir meledak di balik sikap tenangnya.
Felix menarik tangannya dengan perlahan lalu menyembunyikan di balik meja. Kepalan tangannya di bawah sana terlihat jelas oleh Alex yang masih berdiri di dekatnya.
"Bagaimana kondisi perusahaan anda setelah mendapat kerjasama itu, Tuan Airlangga?" Seringain tampak di wajah tampannya.
"Ah, jauh lebih baik dari sebelumnya. Saya sangat berterima kasih kepada anda, Tuan." Senyum dengan hati yang mengutuk sungguh terlihat ironis. "Semoga kerjasama ini tetap terjalin baik," sambungnya.
Ha-ha-ha! Setelah mencoba mengusik rumah tanggaku, kau masih berani bermimpi? Nantikan kejayaanmu di mimpi selanjutnya.
Alvino tertawa jahat di dalam hati. Suasana mendadak tegang dan panas. Rossa dan Filen sama-sama merasakan itu.
"Of course!" jawab Alvino masih acuh tak berkesan. "Kita pulang, Sayang." Hendak berdiri menarik tangan istrinya.
"Ta-tapi mami …."
Tiba-tiba saja mami Lusy muncul. Rossa menghentikan ucapannya dan bernafas lega.
"Iya, Mi. Tadi lewat sini, gak sengaja liat mobil mami di depan. Ya udah, mampir aja, sekalian liat istri." Melirik Rossa yang terlihat tidak enak dengan situasi yang ada.
"Kalau mereka, temannya mantu Mami tuh. Vino juga gak kenal." Mengedikan bahunya.
Sia*lan, sombong banget jadi orang.
Liat saja kehancuranmu nanti, Tuan sombong.
Filen dan Felix lagi-lagi mengumpat dalam hati. Kesal, marah, melihat tingkah acuh dan menyebalkan seorang Alvino.
Dua kakak beradik itu lalu bersalaman sekaligus berkenalan dengan mami Lusy.
"Karena sudah ada Mami, kita pulang sekarang yuk! Udah jam makan siang, Sayang. Ingat, gak boleh makan di luar." Mengingatkan sekali lagi.
"Oh, mau pulang sekarang? Ayo!" Mami Lusy menyetujui ucapan putranya.
Kok, rasanya kek aneh gitu, yah. Semacam disengaja gak sih?
Ada yang mengganjal di hati Rossa, tetapi ia tidak memahami apa yang sebenarnya. Bumil cantik itu bangkit berdiri mengikuti suaminya.
__ADS_1
"Fil, aku duluan yah. Maaf." Tak enak hati karena belum sempat bercerita dan melepas rindu dengan temannya itu. Banyak pengganggu yang membuyarkan harapannya hari ini. Pertama kehadiran Felix, kemudian kedatangan sang suami dan sekretarisnya. Bayangan tentang good day with good friend, ambyar.
"Ok, Sa. Gak papah." Tersenyum dengan paksa. "Bye, see you next time," imbuhnya.
Rossa yang sudah melangkah, kakinya tertahan dengan tubuh Alvino yang belum juga bergerak. Ia menatap suaminya sejenak.
Alvino melepas dengan lembut tangan Rossa dari lengannya.
"Duluan yah sama, Mami. Tunggu di mobil. Aku mau bicara sebentar sama dia."
Rossa mendadak panik, pikiran buruk berseliweran di kepalanya. Cemas mulai merembes menciptakan keringat di telapak tangannya. Bayangan akan kemarahan Alvino waktu itu, menari jelas di pelupuk matanya. Rossa telah mengenal sifat suaminya itu dengan sangat baik. Ia kembali meraih tangan besar Alvino.
Lelaki itu tersenyum teduh meyakinkan istrinya.
"Trust me, just talk." Alvino mengusap lembut kepala Rossa. Senyum serta sikap tenang itu cukup meyakinkannya. Dengan sedikit terpaksa ia melangkah keluar ditemani ibu mertuanya.
Setelah tubuh istrinya menghilang di balik pintu, suasana menjadi lebih tegang seiring raut wajah Alvino yang berubah drastis tak semanis tadi.
"Ada yang mau anda bicarakan, Tuan? Silahkan duduk dulu kalau begitu." Felix sedikit was-was sebenarnya, tetapi ia tidak dapat menafsirkan lagat Alvino lebih jauh dari itu.
Lelaki tampan di depannya tak bergerak sama sekali. Tak lama kemudian, senyum kecil terlukis menyamarkan wajah garangnya. Ia sedikit menunduk dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Kemudian kakinya melangkah mendekat ke arah Felix.
Alvino membuang wajah ke samping sembari mengusap dagunya. Sedetik kemudian ….
Bugh!
Satu bogem mentah yang cukup keras, mendarat sempurna di wajah Felix.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Satu lagi persembahan dari kemalasan Otor 🤭 Disponsori oleh cuaca hujan 😅
Jangan lupa like dan komen yah 😍
Terima kasih buat kalian yang selalu menunggu 🙏
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗
__ADS_1
Ig author : @ag_sweetie0425
_______________________