Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Kegelisahan Rossa


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Semburat jingga mulai merebak di cakrawala. Warna keemasan bergelayut manja di langit senja. Matahari dengan penuh sadar membenamkan dirinya ke peraduan.


Sudah hampir sejam, Rossa berdiam diri di balkon kamarnya. Bertahan dengan sebuah selendang membungkusi kedua lengannya, meminimalisirkan hawa dingin yang menyentuh dengan lancang.


Entah kenapa, ia enggan beranjak dari sana. Netra coklatnya tidak pernah lepas memandangi gerbang utama yang menjulang tinggi. Ada secuil asa yang terlihat jelas di manik matanya. Ada sebuah rasa yang menggelisahkan.


Kenapa sih? Ada apa dengan diriku? Aku … aku begitu mengharapkan dia tuk cepat pulang. Ah, jangan katakan jika aku rindu.


Rossa tersenyum lalu menggeleng kepalanya beberapa kali.


Rindu manusia pemarah itu? Haha, yang benar saja. Ah, aku selalu terbiasa tanpa dia, tidak mungkin hanya karena kebaikannya akhir-akhir ini aku jadi rindu kan?


Gadis berparas lembut itu masih membatin menertawakan dirinya sendiri. Kesenjangan antara hubungan mereka beberapa bulan ini, membuat Rossa masih tidak percaya jika akhirnya dia merindukan sosok menyebalkan itu cepat pulang ke rumah. Rossa menepis pikiran dan perasaannya yang selalu tertuju pada Alvino. Dia masih takut, takut bermegah dengan kebaikan dan rasa nyaman yang diperlihatkan suaminya beberapa hari ini.


Rasa cintanya tak mau besar kepala dengan cinta yang diperlihatkan Alvino sejak hari itu. Tidak tahu saja dia bahwa, Alvino juga memiliki rasa yang sama. Bukan saja mengumbar kata cinta, tetapi ia pun selalu ingin cepat pulang ke rumah dan menemuinya, menghabiskan sisa hari bersama.


Malam tiba, gelap telah sepenuhnya berkuasa. Sudah pukul 7 malam, Rossa beranjak masuk kembali ke kamar. Ia gelisah dengan Alvino yang belum juga kembali. Meskipun begitu, tetap saja ia tidak mau mengakui perasaannya.


"Sepi banget, mana gak ada handphone lagi," gerutu Rossa.


Sepertinya, kejahilan dan kebucinan yang ditunjukkan Alvino akhir-akhir ini telah mempengaruhi sunyi yang menemaninya selama ini. Sunyi itu mulai terasa asing baginya tak seperti dulu. Ya, tidak seperti sekarang waktunya banyak terisi dengan suara dan tingkah berlebihan suaminya. Fix, Rossa rindu.


Tok.


Tok.


Tok.


Rossa yang kebetulan baru dari balkon, langsung menuju pintu kamar yang terdengar diketuk.


"Selamat malam, Nona. Ditunggu nyonya di ruang makan."


"Oh, iya. Makasih!"


Rossa menutup pintu setelah pelayan itu pergi. Ia melepaskan selendang yang masih bergelantung di pundaknya, lalu kembali keluar menemui mertuanya.

__ADS_1


"Malam, Mi, Pi!" sapa Rossa begitu tiba ruang makan.


Mami Lusy berdiri lalu menarik kursi untuknya. "Malam, Sayang," jawab kompak kedua mertuanya.


"Makasih, Mami!" ucapnya begitu duduk.


"Sama-sama, Sayang."


Pandangannya tertuju pada kursi kosong yang sering diduduki oleh tuan pemarah, Alvino. Rossa menepis rasanya lalu memulai makan malamnya dengan tenang.


Tidak lama Rossa menyelesaikan makan malamnya. Berhubung ia dilarang makan yang banyak dan hanya boleh dalam porsi kecil saja, dalam sekejap ia sudah selesai.


"Ada apa, Nak? Kok, kayak suntuk? Atau ada yang sakit?" Mami Lusy sedikit cemas menangkap raut tak biasa di wajah ayu menantunya. Wajah cantik itu sering dipenuhi binar luka dan kecewa. Ada pula bahagia yang jarang terlukis di sana. Namun, kali ini wajah itu membiaskan sorot berbeda.


Rossa menggeleng dengan senyuman kecil. "Gak kok, Mi. Biasa … suka kecapean padahal gak ngapa-ngapain." Tertawa kecil menutupi kegelisahannya.


"Ya sudah, istirahatlah. Jangan lupa minum obat, dan …." Sengaja menggantung.


"Jangan begadang," ucap Rossa menyambungkan. Dua wanita berbeda generasi itu tertawa riang bersama.


Setelah itu, Rossa kembali ke kamar. Lagi-lagi perasaan gelisah kembali menderanya. Ia sedikit menyibak tirai demi bisa melihat ke gerbang besar di depan sana. Tanda-tanda kepulangan suaminya belum terlihat. Rossa memilih mengambil sebuah buku seputar kehamilan lalu membacanya. Ia duduk bersandar pada headboard dengan posisi yang dibuatnya senyaman mungkin.


Waktu berputar begitu cepat, tatapi terasa begitu lambat bagi Rossa. Ya, bagi mereka yang terjebak dalam sebuah penantian, waktu yang sebentar terasa panjang dan melelahkan.


Dua jam berlalu, jarum jam sudah berpindah ke angka 9. Rossa menatap benda bulat yang tersemat di dinding kamarnya dengan nanar.


Rossa mencoba menenangkan diri. Cemas itu berubah menjadi kekhawatiran yang pelan-pelan menggerogotinya. Tak mau menyusahkan hati, Rossa menutup buku lalu merebahkan tubuhnya dengan perlahan, terbenam setengah di dalam selimut. Tidak lupa lampu kamar ia matikan dan hanya menyisakan cahaya lampu tidur yang temaram.


...*****...


Malam semakin jauh dan kian larut. Sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik, baru saja memasuki gerbang utama kediaman Dharmawan.


Tampak Alvino keluar dari dalam mobil dengan gerakan terburu-buru. Ia bahkan mengabaikan Alex yang masih berada dalam mobil.


"Sudah larut, Lex. Tidur saja di kamarmu, dan jangan kembali ke apartemen."


Alvino berbalik sejenak begitu dirasakannya Alex sudah keluar.


"Baiklah, Vin. Selamat tidur," ucap Alex dan berjalan lesu menuju kamarnya.


Dua lelaki tampan itu terlihat sangat lelah. Namun, Alvino tampak bersemangat karena ingin menemui istrinya. Berbeda dengan Alex yang akan bersua sepi.


"Baru pulang, Vin?"


"Duh, Papi. Bikin kaget aja." Alvino mengusap dadanya saking kaget dengan sang ayah yang tiba-tiba muncul. "Iya, Pi, ada urusan penting banget. Besok aja, baru Vino cerita buat Papi dan juga mami. Tapi janji jangan kasih tau ke mantu Papi."

__ADS_1


"Iya, tapi ada apa? Bilang sekarang, nanti papi yang ngasih tau aja ke mami."


"Gak, pokoknya besok. Vino udah kangen banget sama Rossa dari tadi," seloroh Alvino dan langsung bergegas meninggalkan sang ayah.


"Anak itu …." Tuan Dharma hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia menatap Alex yang masih berdiri di sana. "Istirahatlah, Lex. Kamu kelihatan lelah sekali."


"Makasih, Om. Selamat beristirahat." Menunduk dan menunggu sampai Tuan besar itu berlalu dari hadapannya, barulah ia bergegas menuju kamarnya.


Alvino yang dulunya selalu pulang dan langsung ke kamarnya, sejak malam ini mulai berbeda. Tujuan pulangnya lelaki itu ke rumah pun, kini berbeda dari yang sebelumnya. Jika waktu itu hanya sebuah formalitas dan rutinitas belaka, kini ia menganggap pulangnya ke rumah adalah sebuah keharusan yang menyenangkan.


Lelaki itu pelan-pelan membuka pintu kamar istrinya dan masuk dengan perlahan. Ia melepaskan dasi dan membuang jas yang dipegangnya ke atas sofa begitu saja. Sepatu ia lepaskan lalu merangkak naik ke tempat tidur dengan sepelan mungkin agar tidak membangunkan istrinya.


Di bawah sinar lampu yang temaram, Alvino memandangi wajah ayu yang ia rindukan seharian ini. Tidak ingin melewatkan kesempatan itu, ia menghujani wajah cantik istrinya dengan kecupan penuh sayang. Sesudah itu, ia meraup tubuh berisi istrinya dalam pelukan hangat.


"Kenapa membuatku rindu?"


..._____πŸ¦‹πŸ¦‹ MR πŸ¦‹πŸ¦‹_____...


...Selanjutnya …...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Halo semuanya πŸ‘‹ Happy Sunday 🌼 Ketemu lagi 😊


Maaf yah, kemarin gak up πŸ™ Biasa ... weekend dan otor ini butuh me time sayangΒ²ku 😘🀭


Sebagai gantinya, otor double up nih 😁 Semoga terbayar yah, rindunya 😍


Terima kasih buat kalian yang selalu setia menunggu πŸ™πŸ€— i luv you so much 😘πŸ₯°


Jangan lupa like dan komen yah πŸ™ Dukungan kalian sangat ku butuhkan sayang 😊


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


_____________________


Oh, yah. Sambil nunggu episode berikutnya dan berikutnya, ada rekomendasi bacaan dari karya teman aku nih 😍

__ADS_1


Mampir yah, jika berkenan πŸ₯°



__ADS_2