Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Sayang!


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Dingin begitu menusuk, gemerisik dedaunan yang saling bergesekan menghiasi suasana syahdu pada dini hari yang tenang.


Alvino masih setia menemani Rossa yang baru saja terbangun. Meskipun tidak dipungkiri bahwa rasa kantuk tengah menyerangnya, tetapi bahagia yang berlebihan dapat menepis itu semua dengan mudah. Apalagi dengan obrolan kecil di antara keduanya meski terkesan kaku, setidaknya mampu membunuh waktu dan mengusir sepi yang mendominasi.


"Udah, Kak. Kan tadi Rossa udah maafin." Merasa risih dengan permintaan maaf Alvino yang terhitung entah sudah berapa banyaknya.


"Rasanya belum cukup untuk semua kesalahanku." Meremas lembut tangan Rossa dan mengecupnya, memberikan kehangatan dan menyalurkan rasa cintanya yang mulai tumbuh.


Lagi-lagi pipi Rossa memanas dengan semburat merah menghiasi wajahnya. Laki-laki di sampingnya ini sudah berulang kali membuatnya tersipu dalam waktu singkat. Ah, dia memang ahlinya dalam hal ini, dan Rossa mengakui itu. Hawa mana yang mampu menolak pesona laki-laki yang telah menjadi suaminya ini? Bahkan dulu saat laki-laki itu masih menjadi kekasih sahabat baiknya, Rossa diam-diam mengagumi dan menaruh rasa padanya dalam diam. Ciptaan Tuhan yang satu ini nyaris sempurna di mata kaum hawa.


"Rossa lapar, Kak." Gadis itu mengalihkan pembicaraan yang hanya akan membuat jantungnya bermasalah.


Alvino tersenyum. Pasti dia malu dan sengaja merusak suasana. Kan, jadi makin suka kalo begini.


"Mau makan apa?" tanya Alvino lembut.


"Apa aja, Kak," jawab Rossa singkat.


Alvino terkekeh. "Kenapa sih, cuek amat? Malu, yah?" Rossa membuang mukanya ke samping tidak mau memperlihatkan raut senang di wajahnya. "Ok, sebentar. Aku telepon orang rumah dulu." Alvino menyudahi menggombal istrinya. Ia bergegas mengambil ponsel dan hendak melakukan panggilan, tetapi Rossa menghentikannya.


"Kenapa harus telepon orang rumah, Kak? Kasihan lagi tidur, mereka pasti kecapean. Ini aja baru mau jam 3." Rossa tidak enak jika sampai suaminya harus membangunkan orang rumah.


"Lah, kalo gak gitu kamu nanti makan apa, hm?"


"Apa aja, kan bisa delivery," jawab Rossa enteng.


"Enggak bisa, Sayang!"


Blush ...


Lagi-lagi Rossa tersipu dengan debaran jantung yang berdentum indah. Spontan ia menarik selimut menutupi seluruh wajahnya yang kembali merona.


Alvino tertawa melihat itu. "Kenapa?" Sengaja ingin menarik selimut dari wajah sang istri.


"Jangan, Kak!" Rossa menggeleng sambil mencengkram selimutnya dengan kencang.


Alvino membiarkannya dan langsung menelpon ke rumah. Beberapa menit ia mengulang lagi panggilannya, dan akhirnya tersambung juga.


πŸ“² "Halo, bu, ini Vino. Maaf mengganggu waktu istirahatnya."


Melirik sang istri yang sudah menurunkan selimut dan menatapnya.


πŸ“² "Tidak apa-apa, tuan. Ada yang anda butuhkan?"


πŸ“² "Tolong buatkan makan untuk istri saya ya, bu."

__ADS_1


Alvino menyebutkan makanan apa saja yang harus dibuat sesuai saran dokter.


πŸ“² "Makasih, bu. Jangan lama yah. Sekalian minta tolong pak sopir untuk mengantarkan.


Telepon terputus. Alvino tersenyum menatap Rossa yang memasang wajah tidak suka.


"Kenapa? Itu sudah tugas mereka. Mereka digaji untuk itu. Dan aku tidak mau pesan dari luar. Gak baik buat kesehatan kamu. Makan kamu harus dijaga mulai sekarang. Aku sengaja minta bantuan orang rumah, biar sesuai saran dari dokter. Gitu, Sayang." Rossa yang mau melayangkan protes sekali lagi gagal.


"Ih, Kak," rengeknya. Namun, di dalam sana, jantung dan hatinya seolah berpesta pora mendendangkan kebagian yang tak terukur.


Alvino tertawa lagi. "Kenapa, Sayang?" Sengaja menggoda istrinya.


"Jangan panggil gitu …," ucapnya malu.


"Gitu yang mana, Sayang?" Masih saja tertawa. Alvino sudah tidak bisa menahan melihat wajah polos yang jelas memerah menahan malu itu.


"Aaaaa, Kakak!" Mukanya berubah cemberut.


"Makanya ngomong yang bener, aku kan gak tau maksud kamu apa, Sayang?" Alvino makin menjadi.


"Kaaaaaaaaakkkkkk!" pekik Rossa yang tidak tahan dengan gombalan receh suaminya. Ia langsung membalikan badannya memunggungi Alvino.


Laki-laki itu semakin mengeraskan tawanya merasa puas, dan keributan kecil yang diciptakan keduanya berhasil membangunkan orangtua mereka.


"Alvino!" tegur sang ayah. "Kamu apakan dia?" Langsung mendekat ke arah ranjang pasien.


Sedangkan sang ibu masih termangu melihat apa yang terjadi. Alvino yang tetawa bahagia, sedangkan Rossa yang membelakanginya.


Ada apa dengan mereka? Sepertinya Rossa sangat kesal.


"Gak ngapa-ngapain, Pi. Tanya aja sama dia kalo gak percaya," ucapnya dengan sisa-sisa tawa.


"Rossa!" panggil sang ayah, dan Rossa berbalik menghadap ayah mertuanya. Alvino mengambil kesempatan untuk kembali menggoda bumil cantik itu. Satu kedipan mata darinya lagi-lagi membuat Rossa bersemu dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Tuan Dharma mengernyit melihat tingkah menantunya. Ia berbalik menatap Alvino dengan horor.


"Apa?" Bersedekap dan pura-pura acuh.


"Bilang sama papi apa yang sudah dia lakukan?" tanya Tuan Dharma pada Rossa.


"Enggak ada apa-apa, Pi," jawab Rossa membuat Alvino tersenyum menang.


"Tadi mami dengar kamu teriak. Itu kenapa coba? Dia menyakitimu?" tanya mami Lusy yang baru bergabung.


"Enggak, Mi." Tangannya masih melekat di wajahnya.


"Terus kenapa nutupin muka segala?" Mengernyit bingung.


"Malu," jawabnya singkat dengan nada ayu.


Pasangan paruh baya itu bertambah bingung, tidak mengerti apa yang terjadi di antara keduanya.


"Dia malu dipanggil sayang, Mi, Pi," ucap Alvino to the point. Rossa terbelalak dan bertambah malu. Sedangkan dua orang tua itu keget tetapi juga bahagia. Bahagia yang teramat besar.


Kaget dengan Alvino yang sudah tidak malu menunjukkan perhatian dan cintanya untuk gadis itu. Bahagia karena harapan mereka mulai terkabul.

__ADS_1


"Benar begitu 'kan, Sayang?" Alvino sengaja menekan kata terakhirnya.


"Iiiih, nyebelin banget sih, Kak!" Mencebik kesal.


"Ah, jadi itu yah? Mami setuju banget dengan panggilan itu. Ayo diteruskan, Vin. Begitu aja terus, jangan diganti." Mami Rossa memberi dukungan penuh.


Alvino tertawa melihat Rossa yang tidak bisa marah pada ibunya.


"Mamiii, kok gitu sih?" rajuk Rossa pada sang mertua.


"Kenapa? Gak ada yang salah 'kan? Wajar banget malah." Mami Lusy menunduk lalu mengusap kepala menantunya. "Mami sudah lama menantikan momen ini, Sayang. Pesan mami … nikmatilah kebucinan sumamimu selanjutnya." Wanita paruh baya itu tampak sangat bahagia.


Sebahagia itukah mereka? Ah, tidak sanggup rasanya jika harus menghilangkan senyum itu. Apa kebahagiaan itu sudah bisa kupeluk erat agar menjadi bagian hidupku selamanya?


"Kok ngelamun?" Ayahnya Alvino bersuara.


"Eh, enggak, Pi." Tersenyum kikuk.


Tidak lama setelah itu, pintu ruang rawat Rossa terdengar diketuk. Perhatian mereka semua teralihkan ke sana. Mami Lusy mempersilahkan seseorang di balik pintu itu untuk masuk. Tampak pak sopir dan seorang pelayan muda berdiri di sana dengan menenteng dua goody bag ditangan masing-masing.


"Loh, Pak? Apa itu?" tanya mami Lusy.


"Makanan buat Rossa, Mi. Tadi Vino telepon ke rumah minta masakin." Alvino beranjak dan mengambil goody bag dari tangan dua orang di sana.


"Kalau begitu kita permisi, Tuan, Nyonya. Semoga lekas sembuh yah, Nona," ucap pak sopir meminta diri.


"Eh, sebentar." Rossa mencegah keduanya.


..._____πŸ¦‹πŸ¦‹ MR πŸ¦‹πŸ¦‹_____...


...Selanjutnya …...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Halo semuanya πŸ‘‹ ketemu lagi πŸ€—


Sebenarnya otor lagi sedikit oleng karena demam πŸ˜ͺ Harap maklum kalo nemu typo atau kesalahan apa gitu dalam tulisannya. Maksa nulis soalnya 😌


Gak tega buat kalian menunggu πŸ€— makanya dukung otor terus yah. Cuman like dan komen kok ☺️ Kalo ada yang mau ngasih vote atau kembang, atau kopi juga gak papah 🀭 maksih banget loh guys 😘


Sampai jumpa di episode berikutnya yah πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425


____________________


Sambil nungguin kelanjutannya, mampir aja dulu di karya temen aku yang satu ini. Siapa tahu suka ☺️

__ADS_1



__ADS_2