
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Brak!
Rossa menyandarkan punggungnya pada pintu yang baru saja tertutup. Gadis itu menangis dengan suara yang tertahan, sambil memukul-mukul dadanya yang begitu sesak.
Kata-kata Alvino terus terngiang di telinganya berulang kali, seperti sebuah rekaman. Dari semua kata-kata itu, yang paling tajam menusuk hatinya adalah 'karena permintaan dia' dan 'murahan'.
Bodoh! Aku yang bodoh dan terlalu banyak berekspektasi. Gak, gak, kamu gak salah sama sekali, beb. Aku yang dengan bodohnya masuk dalam kehidupan dia. Aku yang salah, aku yang siap untuk terluka sendiri. Aku bodoh, aku murahan ….
Batinnya menjerit, tetapi mulut tetap terbungkam. Rossa beranjak dari balik pintu dan melangkah tertatih menuju ranjang. Ia membaringkan tubuhnya sambil masih saja terisak pilu. Lelah beraktivitas dan juga lelah menangis, gadis itu dengan cepat tenggelam dalam lautan mimpi.
Sementara di ruang makan, keributan terjadi antara Alvino dan ibunya.
"Apa-apaan kamu, Alvino?" Menghampiri putranya yang tengah termenung menatap makanan yang ada di depannya.
"Belum cukup kamu menyakiti dia selama ini dengan sikap dingin kamu? Sampai harus menyakiti lagi dengan perkataan yang tidak bermoral seperti itu?"
Alvino masih saja diam menatap kosong segala sesuatu yang disediakan istrinya di atas meja.
"Kurang baik apalagi dia? Kurang sabar apalagi dia hah? Seharusnya kamu bersyukur dapatkan gadis baik seperti dia. Kapan dia pernah berbicara kasar atau ngelawan kehendak kamu? Kapan dia pernah protes dengan semua aturan konyol yang kamu buat? Kapan?" Wanita itu semakin berapi-api.
Alvino bergeming. Ia menatap ibunya dengan nanar. Seperti tampilan slide yang bergantian mengingatkan semua sikapnya untuk Rossa selama ini. Lelaki itu menunduk lalu mengusap kasar wajahnya.
"Tadinya mami berharap ada sedikit saja kemajuan dalam hubungan kalian. Tapi mami salah! Mami salah karena selalu memaksanya untuk bertahan. Tapi tidak lagi! Kalau kamu terus seperti ini, tidak bisa untuk menghargai dia, mami akan minta dia untuk bercerai saja setelah dia melahirkan nanti!"
Brakk!
"Mami!"
Wanita paruh baya itu terlonjak kaget dengan aksi putranya yang menghantam meja.
Kenapa kelihatan marah?
"Apa? Kenapa? Keberatan? Kamu hanya ingin menjadikan dia tameng untuk reputasi kamu sendiri. Kamu egois, Nak!" cerca ibunya. "Kalau kamu tidak mencintainya, tidak usah menahan dia di sini. Biarkan dia bebas! Jangan hanya karena permintaan Jenn!"
"Cukup, Mi!" sentak Alvino. "Gak usah bawa-bawa nama dia segala." Suaranya mulai meninggi.
"Ya jelas ini karena dia kan? Kamu minta sama Rossa, mami, papi, semuanya supaya melupakan Jenn, gak usah berhubungan lagi sama dia. Dia sahabat baik Rossa, tapi kamu paksa buat mereka saling menjauh. Nyatanya kamu sendiri yang tidak bisa melupakan dia. Keegoisan macam apa ini Alvino?"
"Mami, please, stop it!"
__ADS_1
"Tidak bisa! Hidup kamu hanya Jenn, Jenn, dan Jenn saja. Tidak memikirkan perasaan yang lain. Jangankan Rossa, mami juga capek dengan sikap kamu! Mami selalu support dia buat sabar dan bertahan sama kamu, tapi tidak lagi untuk kali. Dia terlalu baik untuk disakiti, dan mami gak rela kamu menyakitinya terus-menerus. Mami yang akan memberikan dia kebebasan ke manapun."
Selesai meluapkan uneg-unegnya, wanita tua itu hendak berlalu meninggalkan Alvino, tapi lelaki itu lebih dulu menahannya.
"Dia istri aku, Mi!"
Suara lantang yang menyatakan kepemilikannya, membuat mami Lusy mematung tak percaya. Ini untuk yang pertama kalinya, perdana setelah enam bulan pernikahannya. Dengan penuh kesadaran dan langsung dari mulutnya sendiri, ia mengakui kalau gadis itu istrinya. Luar biasa!
Alvino beranjak dari kursi dan menghampiri ibunya. "Mami jangan mengatur-atur dirinya. Vino yang lebih berhak untuk itu!" tegas Alvino.
Mami Lusy tertawa hambar. "Istri katamu? Istri pajangan begitu? Istri yang tidak pernah dianggap begitu?" Meskipun terkesan marah, tapi tak dapat dipungkiri, bahwa wanita tua itu tengah menghirup setumpuk kelegaan. Sebutir pil manis kini dapat ditelannya.
Alvino menunduk tanpa suara, tidak bisa menampik perkataan ibunya.
Melihat putranya yang tertunduk dalam diam, wanita paruh baya itu tersenyum menyeringai dan berlalu meninggalkannya.
"Mi!"
Mencoba menahan langka ibunya. Wanita itu lagi-lagi berhenti tanpa berbalik.
"Belum bisa melupakan, bukan berarti masih mencintai atau ingin memiliki." Kata-kata itu bagaikan air hujan yang jatuh dari langit mengguyur bumi pada musim kemarau.
"Satu lagi, jangan pernah mami meracuni pikirannya dengan kata bercerai. Vino gak akan membiarkan itu terjadi!"
Ya Tuhan, apa hambaMu ini sedang bermimpi? Aku akan menjadi ibu dan mertua yang paling bahagia di dunia, jika ini semua benar nyata.
Ibunya bersorak girang di dalam hati, lalu kembali melangkah pergi dengan senyum bahagia tanpa Alvino sadari.
Kemudian ia melangkah pergi hendak menuju kamarnya. Namun, begitu kakinya baru menaiki anak tangga pertama, ia berhenti dan menoleh ke belakang.
Perasaan tak enak menyerangnya kala mengingat makanan yang sudah disiapkan Rossa di atas meja. Raut lelah yang bermandi peluh tadi, membuatnya tidak tega. Akhirnya ia kembali menuju ruang makan. Alvino menatap semua yang ada di sana satu per satu selama beberapa menit. Terdengar lelaki itu menarik nafas dalam-dalam, dan memulai makan siangnya yang sudah lewat waktu.
Sementara itu di dalam kamar milik Rossa, mami Lusy terlihat duduk di bibir ranjang sembari menatap wajah sembab menantunya yang tengah tertidur pulas. Hembusan nafas yang teratur dengan sisa sesegukan kecil masih terdengar.
"Menangislah, sayang! Air matamu tidak akan bercucuran dengan percuma." Mengusap pipi Rossa yang berjejak tangis. "Apa yang kamu korbankan selama ini, akan berbuah manis. Sebentar lagi, Nak." Mami Lusy tersenyum.
"Andai kamu mendengar apa yang dia katakan tadi, mami yakin kamu pasti senang. Mami menduga bahwa, rasa itu mungkin belum ada, tapi perhatian mulai dia tunjukkan meski dengan cara horor dan menyakitkan." Bermonolog dan tertawa sendiri.
"Perhatiannya berkedok marah." Lagi-lagi tertawa kecil. "Mami minta dari kamu untuk terus bersabar sampai hatinya benar-benar untuk kamu. Gunung es itu perlahan-lahan telah mencair, Sayang. Hanya saja mungkin dia terlalu gengsi menunjukkan simpatinya."
...*****...
Drrrtttt.
Drrrtttt.
Drrrtttt.
📲 "Hmm!"
__ADS_1
📲 "Di mana Lo?"
📲 "Rumah."
📲 "Hah? Kesambet apa lo? Tumben banget."
📲 "Ck, apaan? Cepetan ngomong gue mau istirahat."
📲 "What the f**k? Lo gila yah, ada jadwal meeting sore nanti di hotel xx."
📲 "Batalkan saja, atau lo aja yang gantiin gue. Lagi gak mood gue."
📲 "Hei, gak bi …."
Tut, tut, tut.
Suara panggilan telepon terputus sepihak. Alvino mematikan ponselnya lalu membuang benda pipih itu ke atas sofa begitu saja. Ia berjalan menuju ranjang dan menghempaskan tubuhnya di sana.
Pikiran lelaki tampan itu benar-benar kacau. Yang ada di benaknya saat itu hanyalah tentang Rossa dan perkataan maminya. Fokusnya sudah dicemari dengan sosok gadis yang tengah berbadan dua itu.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Halo semuanya 👋 balik lagi nih 🤗
Terima kasih buat yang selalu menunggu 🙏
Jangan lupa untuk memperbiasakan jempol tekan like dan komen apa saja 👌😍
Kebetulan ini Senin, boleh lah, bagi-bagi votenya 🤭😁 biar otor tambah semangat 🔥
Sampai jumpa di episode berikutnya yah 🤗
Ig author : @ag_sweetie0425
...####...
Oh iya, ini ada rekomendasi novel temen aku. Ceritanya bagus banget pokoknya. Yuk, kepon juga yah genkz 😍
__ADS_1