Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Lebih Dulu Berjuang


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Rossa terdiam dengan bibir yang bergetar. Bukan karena derasnya hujan atau gemuruh angin yang menggigilkan. Namun, pertanyaan telak dari Alvino rupanya kuat menggetarkan seluruh raganya.


Benarkah aku ragu? No! Tapi apa? ….


Rossa menggeleng kepalanya pelan sambil menunduk menatap Alvino yang masih bersimpuh.


"Jawab aku, Sa! Apa lagi yang masih kurang? Apa lagi yang belum aku lakukan? Haruskah aku menguras kali Citarum lalu membendungnya kembali? Haruskah aku menghentikan waktu lalu memutarnya mundur agar aku tak harus melakukan kebodohan-kebodohan itu, barulah kamu bisa percaya?" Cecar Alvino dengan frustasi.


Lelaki itu terlihat kacau dan putus asa. Jiwanya terkoyak oleh tajamnya keraguan sang istri. Alvino merasa kecewa sekali lagi. Apa yang pernah ia rasakan dulu seolah terulang kembali, dengan orang yang berbeda.


Di samping itu, Rossa terenyuh mendengar rentetan tanya yang meluncur dari bibir suaminya.


"Maaf," ucap Rossa begitu pelan hampir berbisik. Hanya satu kata itu yang terdengar, sebelum ia menghela nafas dengan beratnya.


"Aku tahu, ini keterlaluan. Tapi … sekali aja, coba Kakak tempatkan diri Kakak di posisi aku. Mungkin Kakak akan lebih bisa memahami perasaan aku yang sekarang seperti apa," imbuhnya.


Rossa membalas genggaman tangan besar Alvino yang sedari tadi tidak melepaskannya. Mata keduanya saling beradu, saling menyelami hati masing-masing. Hingga perih menyerang manik coklat Rossa.


"Kakak tau? Tidak mudah menjadi diriku. Tetap mencintai di tengah ketidakpastian dan kekecewaan saat itu. Sekarang pun masih sama cinta, terus mencintai. Bahkan, rasa cintaku semakin besar di tengah ketakutan akan masa lalu." Suaranya terdengar parau.


"Meskipun ada ragu, ada takut, tapi … semua itu tidak lantas mengurangi rasa cintaku. Kadar cintaku gak pernah berkurang meski terus ditempa. Aku mencoba menutup mata dari semua yang pernah terjadi, aku mencoba tuk meyakini hati, tapi kenangan itu sering sekali datang menjengukku. Gak mudah buat aku jalani semua ini, Kak. Aku butuh waktu. Ngertiin aku sedikit saja," terang Rossa lagi. Pada akhirnya, air mata itu kembali jatuh.


Mendengar kata-kata istrinya, hati Alvino mencelos. Ia sadar, yang ia lakukan dulu tidak mudah untuk dimaafkan memang. Yang namanya sakit hati, butuh waktu yang tidak sebentar untuk disembuhkan.


Alvino pernah merasakan ini. Ia pernah kenal dan berteman baik dengan rasa itu selama berbulan-bulan. Hingga takdir dan semesta berbaik hati mengizinkan Rossa tuk berada di sisinya dan mengobati segala sakit hatinya.


"Aku ngerti, Sa. Aku juga pernah merasakannya." Alvino menunduk, menatap nanar lantai yang begitu dingin. "Maafkan aku yang belum bisa meyakinkan kamu." Dikecupnya telapak tangan Rossa yang digenggamnya sedari tadi, bergantian mengecup perut besar istrinya.


Setelah itu, Alvino bangkit berdiri dan melepaskan tangan gadis itu. Ia langsung berbalik hendak pergi, tetapi Rossa dengan cepat meraih tangannya kembali.

__ADS_1


"Jadi Kakak ingin nyerah sekarang?" tanya Rossa tidak percaya.


Alvino berbalik menatapnya. "Kamu butuh waktu kan? Aku juga sama, Honey. Jujur aku kecewa untuk yang kedua kalinya. Mungkin aku terlalu memaksa kamu buat cepat percaya padaku. Sekarang biarkan kita sama-sama tenang, saling memberi waktu untuk menata hati masing-masing." Perkataan itu terasa berat.


Ia tersenyum sambil mengusap kepala istrinya dengan sayang. Tanpa ia sadari, ucapannya bagai belati yang menyayat segumpal daging di balik rongga dada istrinya.


"Tidurlah, aku akan kembali ke kamarku," ucapnya dengan tenang lalu berbalik pergi.


"Kenapa? Jadi segitu aja perasaan Kakak? Segitu aja perjuangannya? Yang Kakak lakukan baru hampir sebulan. Sedangkan aku," ucap Rossa dengan telunjuk yang mengarah pada dirinya. Namun, Alvino tak lagi berbalik dan melihat itu. "Aku sudah berjuang dan bertahan selama 6 bulan lebih." Suaranya sedikit lantang. Ia menepis air mata bodoh yang luruh melewati pipinya. "Selain itu, bertahun-tahun aku menyimpan perasaan yang tumbuh dengan tidak tahu malunya di hatiku. Jauh sebelum aku berjuang mempertahankan dia." Menunjuk perutnya.


Duarrr!


Suara petir yang menggelegar diiringi seberkas cahaya putih dari sambaran kilat di luar sana, tak lantas mengagetkan Alvino sedikit pun. Lelaki itu justru terperanjat bukan main dengan pernyataan Rossa. Kalimat terakhir gadis itu refleks mengguncang seluruh jiwa Alvino. Sontak saja ia berbalik, menghujam wajah ayu yang dipenuhi air mata itu dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.


"Aku sudah lebih dulu berjuang sendiri menekan rasa di hatiku agar tidak tumbuh. Aku berjuang menepis kenyataan bahwa aku mencintai kekasih sahabatku sendiri. Aku berjuang menyembunyikan kebodohanku selama bertahun-tahun." Ia menjeda lalu mengatur nafasnya yang turun naik.


Merasa puas mengeluarkan segala beban yang dipendamnya selama ini, gadis itu lalu tertawa. Entah, mungkin menertawakan kebodohannya sendiri.


"Aku senaif itu, dan Kakak … Kakak semudah itu ingin nyerah? I don't believe it." Rossa masih tertawa dengan air mata yang tak kunjung reda.


"Baiklah, selamat malam, Kak."


"Bilang apa tadi?" tanya Alvino.


Keduanya kini sudah sama-sama naik ke tempat tidur. Alvino mengalah, bahkan ia mengungkung tubuh istrinya.


"Aku pengen dengar sekali lagi kalimat tadi. Say it once more." Rossa tak mau menanggapi. Ia menoleh ke samping sembari memejamkan mata. Namun, Alvino menangkup kedua pipinya dengan sebelah tangan mengarah padanya.


"Jadi rasa itu memang sudah ada sejak dulu? Kenapa gak nunjukin itu sama sekali, hah?" tanya Alvino lagi.


"Aku punya harga diri, dan aku juga tahu diri. Itu cukup menjadi rahasia ku." Ucapan Rossa berhasil menyentil hati Alvino.


"Terima kasih," lirih Alvino. "Terima kasih telah mencintaiku sebesar itu. Terima kasih telah begitu sabar menunggu dan bertahan untukku. Terima kasih, Sa."


Setetes cairan bening terjatuh di pipi Rossa. Bukan! Bukan gadis itu yang menangis, tetapi Alvino. Rossa terenyuh. Dengan perlahan tangannya bergerak menghapus air mata di wajah tampan suaminya. Ia pun dengan lembut menarik tubuh tegap itu dalam pelukannya. Alvino lalu membenamkan wajahnya di dada Rossa.


"Jangan pernah tinggalkan aku, Sa. Jangan pernah pergi dari hidupku. Jangan berubah dan gantikan rasa itu dengan apapun. Belum pernah ada yang mencintaiku setulus kamu. Tidak ada cinta yang sebesar dan sedalam cintamu." Alvino menangis haru sambil memeluk Rossa dengan sangat erat.


"Aku gak tahu, kalau ternyata semua yang aku cari selama ini ada di kamu." Alvino menikmati sapuan halus di kepalanya.

__ADS_1


"Tidak ada yang seperti kamu, Sa. Aku mencintaimu. Sungguh-sungguh, sangat mencintai kamu, Rossa Glyn!"


Malam merangkak makin jauh, hujan makin semangat menjatuhkan butiran-butiran penuh asa. Dengan penuh cinta, Alvino menautkan bibir keduanya. Perlahan tangannya menarik selimut membalut tubuh mereka, menyempurnakan kehangatan yang telah lebih dulu ia ciptakan. Perih luka yang tertoreh di tubuhnya, hilang tak berasa.


Masalah malam itu pun, clear!


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Biarkan hati mengolah rasa, izinkan bibir tuk berucap....


...Jangan mendiamkan kekeliruan....


...Sebab kehancuran memiliki cela meski secuil titik....


..._AG Sweetie_...


...🦋...


...Selanjutnya …....


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Halo semuanya 👋 Ketemu lagi 😊 Maaf terlambat up. Hari ini ada sedikit masalah 🙏


Gak papah kan? Yang penting up-lah 😁


Jangan lupa like dan komen 😍 Kalo lupa balik lagi yah 🤭


Makasih semuanya 🥰


Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗

__ADS_1


Ig author : @ag_sweetie0425


__ADS_2