
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
"Bagaimana hal itu bisa terjadi? Penyebabnya apa, Dokter?" tanya Alvino penasaran.
"Mengenai penyebab preeklamsia masih belum diketahui secara pasti. Meski demikian, ada dugaan bahwa kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor genetik bisa juga kelainan fungsi plasenta, mengalami obesitas, atau bisa juga baru pertama kali hamil dan itupun hamil di usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 40 tahun," tutur sang dokter.
Alvino yang masih setia memasang pendengarannya dengan baik sedikit tersentil dengan penjelasan sang dokter.
Apa karena dia masih …
"Dugaan saya bahwa kasus yang terjadi pada istri Anda disebabkan karena faktor usia yang belum cukup umur. Mengingat saat ini usianya masih di bawah 20 tahun. Benar begitu, Tuan?" tanya sang dokter.
Alvino memejamkan matanya sembari membuang nafas dengan kasar. Tepat seperti dugaannya barusan. Kemudian ia mengangguk mengakui itu. Ya gadis manis yang saat ini telah menjadi istrinya itu, usianya masih belia. Alvino tahu, bukan karena gadi itu adalah istrinya, tetapi dia sahabat baik Jenn, dan tentu saja mereka seumuran.
"Pesan saya, jagalah istri anda dengan baik. Dukungan penuh dari suami sangat berperan penting dalam hal ini. Pastikan menjaga mood-nya agar selalu bahagia. Perubahan hormon pada ibu hamil membuatnya menjadi lebih sensitif dari biasanya. Jangan sampai emosinya meledak-ledak. Juga usahakan agar berat badannya jangan sampai naik drastis melebihi batas normal. Hal itu merupakan salah satu upaya pencegahan. Dari grafik pemeriksaan tadi menunjukkan istrimu mengalaimi kenaikan berat badan yang cukup signifikan. Pola makannya juga harus dijaga, mengurangi asupan gula dan garam, serta ikuti kelas senam hamil agar tubuh dan metabolisme tetap sehat," terang dokter itu lagi.
Alvino lagi-lagi mengangguk, begitu juga ibunya.
"Saya sudah pernah mengatakan ini pada Nyonya Dharma. Berdoalah agar jangan sampai Istri anda tergolong preeklamsia berat. Karena jika sampai hal itu terjadi, kemungkinan terburuknya anda harus memilih salah satu dari mereka. Merelakan bayinya demi menyelamatkan sang ibu, atau sebaliknya. Atau lebih fatalnya anda bisa saja kehilangan keduanya."
Alvino terperanjat bukan main. Kehilangan keduanya? Tidak! Alvino tidak ingin sampai hal itu terjadi. Dia akan menyesal seumur hidup.
"Tolong lakukan apapun yang terbaik untuk menyelamatkan istri dan anak saya, Dokter." Spontan Alvino menyatakan kata itu. Seketika mami Lusy menoleh padanya, menatap tak percaya dengan mata yang berkaca-kaca. "Saya akan membayar berapapun itu asalkan mereka berdua bisa selamat. Saya mohon, Dokter." Suara Alvino bergetar. ia sungguh-sungguh dengan ucapannya. Terlihat jelas ketakutan besar bergelayut di wajah tampannya.
Terima kasih, Tuhan! Benar, selalu ada hikmah di balik setiap cobaan. Mungkin ini jalan yang Engkau tunjukan agar putraku bisa sadar. Dia telah menyadarinya. Dan hamba bermohon, berikanlah kebahagiaan bagi keluarga kecil mereka, Tuhan.
Batin mami Lusy penuh syukur.
"Saya dan tim medis akan berusaha melakukan yang terbaik sebisa dan semampu kami. Banyaklah berdoa, semoga keajaiban itu ada," ucap sang dokter menguatkan. "Oh yah, satu lagi yang sangat penting. Saya minta maaf sebelumnya, tapi selama masa kehamilannya, aktivitas ranjang harus diliburkan."
__ADS_1
Alvino membuang mukanya ke samping lalu pura-pura terbatuk. Apaan sih? Selama ini kami tidur terpisah, dokter sialan. Dan itu hanya bisa terucap dalam hatinya. Suasana horor dan mencekam tadi, kini berubah lucu. Baik dokter maupun mami Lusy, sama-sama tersenyum melihat wajah Alvino yang tergambar jelas antara kesal dan malu.
"Ekhem, ada lagi, Dokter?" tanya Alvino yang sudah tidak sabar untuk segera keluar dari ruangan itu.
Dokter muda itu tersenyum kecil. "Tidak ada lagi, Tuan. Tolong diperhatikan semua yang sudah saya sampaikan tadi."
"Baik, Dokter. Terima kasih, saya sangat mengharapkan bantuan anda. Saya percayakan istri dan anak saya pada anda. Dok. Saya permisi."
Alvino pun bangkit dan berlalu pergi dari hadapan dokter muda itu, meninggalkan sang ibu yang tengah menghirup setumpuk kebahagiaan di tengah-tengah himpitan kecemasan dan ketakutan.
Flash back off.
...*****...
Alvino mengusap sudut matanya. Ia melepaskan tangannya dari perut besar Rossa lalu mengangkat kepalanya dan menegakkan punggungnya kembali.
Belum beranjak dari sisi istrinya, tampak lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari balik kemeja yang dikenakannya. Ternyata sebuah kalung. Ia sedikit menunduk dengan kedua tangan yang bergerak melepaskan kalung tersebut dari lehernya. Terdapat sepasang cincin di sana yang dijadikannya sebagai liontin. Alvino lalu segera melepaskan benda bulat mungil tak berujung itu.
Lelaki tampan itu kembali meraih tangan kanan istrinya lalu dengan perlahan ia menyematkan sebelah cincin itu pada jari manis Rossa, seperti yang pernah ia lakukan enam bulan lalu. Bedanya, waktu itu ia melakukan dengan terpaksa. Namun, saat ini ia lakukan atas kemauannya sendiri dengan penuh sadar, bahkan segaris senyum melengkung di wajah tampannya. Ia lalu menyematkan cincin yang satunya lagi pada jari manisnya sendiri.
Alvino kemudian mendekatkan dan menyatukan tangannya dengan tangan Rossa. Lagi-lagi bibirnya melengkung.
Cincin pernikahan yang dicari Rossa beberapa waktu lalu, nyatanya tidak hilang. Laki-laki itu yang sudah mengambilnya tanpa izin. Tanpa Rossa dan ibunya ketahui, benda bulat itu selalu terselip di dada Alvino, di balik baju yang ia kenakan. Terpasang pada kalung yang terjurai di lehernya, bersanding dengan cincinnya yang sudah lama dijadikan liontin.
"Cepatlah sembuh, dan buat aku semakin jatuh dalam cintamu," lirih Alvino.
Dalam kehangatan yang tengah membalut hatinya, Alvino bersama orangtuanya dikagetkan dengan suara ketukan pada pintu.
"Masuk!" ucap Mami Lusy.
Pintu terbuka dan tampak dua orang perawat di sana.
"Permisi! Maaf mengganggu, kami mau mengganti pakaian pasien," ucap salah satu dari perawat di sana.
Alvino menatap dua perawat itu dengan wajah tidak senang. Terbesit sebuah rasa yang tidak bisa ia ungkapkan. Pada akhirnya anggukkan kecil yang terkesan berat menjadi jawabannya.
Ia bangkit lalu meninggalkan Rossa dengan dua perawat itu, mengikuti ayahnya yang sudah berjalan keluar.
__ADS_1
"Mami di sini aja temani dia," ucap Alvino pada ibunya.
"Gak marah lagi sama mami, kan?" tanya sang ibu.
"Kata siapa? Masih sangat marah," jawabnya ketus dan langsung segera berlalu.
Wanita paruh baya itu tersenyum memaklumi sifat putranya. Meskipun tidak melihat apa yang dilakukan Alvino tadi, dan bahkan ia tak mendengar apa yang diucapkan laki-laki pemarah itu, tetapi ia tahu bahwa anaknya mulai membuka hati dan menerima keberadaan menantunya.
Mami Lusy lalu menemani dua perawat tadi membersihkan tubuh Rossa dan mengganti pakaiannya.
Si pemarah dan pencemburu itu pasti tidak rela. Ha-ha-ha, lihat saja wajah kesalnya tadi. Ha-ha-ha!
Wanita cantik di usia senja itu menertawakan putranya dengan jahat dalam hati.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Halo semuanya 👋 Ketemu lagi 🤗
AG mau ngucapin "Merry Christmas" 🎄🎅 buat yang merayakannya 🥰🤗
Terima kasih buat kalian yang selalu setia menunggu kisah ini 🙏🙏
Dukung terus yah, genkz 😍
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan dalam bentuk apapun, terutama like, komen, favorit dan vote.
__ADS_1
Sampai jumpa di episode berikutnya, yah 🤗
Ig author : @ag_sweetie0425