
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Alvino menahan nafasnya sejenak, sebelum ia berbalik dan berpura-pura bersikap biasa saja.
"Eh, belum tidur, Hon?" Tersenyum cerah menutupi secuil gugup.
"Aku tanya, Papi dari mana?" tanya Rossa dengan lembut.
Bumil cantik berparas ayu itu, berdiri dengan tubuh yang bersandar pada dinding di balik pintu kamar.
"Em, i-itu dari … dari …." Dari mana sih? Haiiiissss, ribet banget. Decak kesal Alvino dalam hati. "Ah, aku pergi nemenin Alex tadi. Biasa, Hon."
Rossa mengernyit.
"Eh, ma-maksudnya dia, si Alex, dia yang nemenin aku. Ada sedikit urusan … pekerjaan. Iya pekerjaan, Honey." Alvino gagap.
Meskipun begitu, ia tetap mencoba untuk tersenyum pada sang istri. Sesekali ia menunduk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Di sana, Rossa masih tetap pada posisinya tak bergeming. Manik kecoklatan itu menyorot Alvino dengan tatapan ketidakpercayaan yang begitu jelas.
Ini bukan Alvino. Bukan juga suaminya. Sosok yang dicintainya itu tidak seperti ini. Sejak kapan lelaki angkuh dan pemarah, yang tidak pernah tunduk pada siapapun, menjadi grogi seperti ini?
Apa yang terjadi dengannya? Apa yang sebenarnya ia sembunyikan? Begitu yang terbesit dalam pikiran Rossa.
Pulang-pulang kok … aneh yah?
"Tidur, Honey. Sudah waktunya kamu harus tidur dari tadi. Ayo!" Alvino mendekat dan menarik lembut tangan istrinya.
Rossa tidak langsung menurut, ia masih menatap netra pekat suaminya begitu dalam dan intens.
"Papi beneran gak mau ngasih tau apa-apa buat aku?"
Alvino terkekeh melihat wajah ayu yang begitu serius, terlihat menggemaskan di matanya.
"Emang gak ada apa-apa, Honey." Alvino langsung menunduk dan memagut lembut bibir ranum sang istri.
Rossa terpejam seperti biasa. Laki-laki itu selalu mampu meredam berjuta rasa yang bergelora dalam jiwanya. Laki-laki itu selalu tahu cara menenangkannya, tahu cara mengalihkan pikiran-pikiran yang mulai bercabang dalam otaknya.
__ADS_1
Rossa yang sedikit mulai menikmati, tidak menyadari jika Alvino telah mengangkat tubuhnya. Bumil cantik itu terkejut dan memekik. Dengan refleks mengalungkan tangannya di leher Alvino.
"Kak!" pekik Rossa.
Alvino hanya menanggapi dengan senyum khas, yang memperlihatkan kedua lesung pipinya.
"Suka banget bikin kaget. Turunin! Aku berat, Kak." Rossa takut menyakiti Alvino yang jelas-jelas masih terluka.
"Kata siapa berat? Buktinya masih bisa kugendong juga kan?"
Alvino menaik-turunkan alisnya membuat Rossa gemas, dengan refleks mengecup bibir suaminya itu secepat kilat. Ia pun langsung menyembunyikan wajah malunya di dada lelaki itu.
Alvino tergelak. "Udah mulai main nyosor yah."
Dengan perlahan ia membaringkan tubuh Rossa di ranjang. Gadis itu langsung membelakangi Alvino dan menarik selimut menutupi wajahnya, sebelum Alvino sempat melakukan hal yang sama.
Alvino pun ikut membaringkan tubuhnya di samping gadis cantik, yang tengah mengandung anaknya itu.
"Siapa yang ngajarin hm?" Menarik selimut yang masih dicengkeram istrinya. Lalu dengan sengaja menendang hingga teronggok di lantai begitu saja.
Tangannya merayap membelit tubuh berisi Rossa dari belakang dengan posesif. Menempelkan bibirnya di tengkuk perempuan berparas ayu itu.
Terpaan nafas hangatnya, membuat Rossa meremang.
"Katakan, siapa yang ngajarin hm?" tanyanya sekali lagi. "Berbalik dan tatap aku, lakukan itu sekali lagi, Honey," ucap Alvino dengan suara beratnya.
Rossa menggeliat menahan rasa aneh yang menyerangnya. Niat ingin menghindari sentuhan-sentuhan Alvino, perempuan berparas ayu itu justru melenguh nikmat. Tangan sang suami telah menyingkap daster yang ia kenakan. Jemari itu merangkak perlahan dan menari di atas permukaan kulit halusnya.
"Hemm, Kak …." Rossa merasa tercekat, mencoba menghentikan suaminya.
"Apa, Honey? Kamu yang menggodaku." Suara itu semakin berat dan serak.
"I-ini …."
Rossa tidak dapat melanjutkan ucapannya, ketika sapuan lembut berjejak di paha mulusnya, bersamaan dengan satu kecupan keras di leher jenjangnya.
Bumil itu fokus menggigit bibir, mencegah suara lucknut yang hampir saja lolos dari mulutnya. Sementara Alvino, ia seolah lupa dengan kondisi sang istri.
Lelaki itu semakin hanyut terseret hasrat, hingga ia pun bangkit dan mengungkung tubuh istrinya, lalu dengan cepat menyatukan bibir mereka.
Alvino lupa diri dan hilang arah dalam naluri kelakiannya. Jika saja Rossa tidak menghentikan, entah apa yang akan terjadi.
"Kak, bu-bukanya Kakak bilang … orang hamil belum bisa lakuin hal itu?" tanya Rossa dengan polosnya. Ia mengingat perkataan suaminya tempo hari.
Alvino langsung tersadar dan berhenti dari aktivitasnya. Ia menurunkan dan merapikan kembali baju Rossa. Laki-laki itu mengusap kasar wajahnya dan segera menyingkir dari tubuh calon ibu muda itu.
__ADS_1
Apa yang kulakukan? Hampir saja aku mencelakai mereka berdua ….
"Maafkan aku, Honey!" sesal Alvino.
Ia tidak pernah sejauh ini menyentuh Rossa, selama hubungan mereka kembali membaik. Alvino selalu bisa mengontrol diri.
Arrrrgggghhh! Aku bisa gila ….
Lelaki tampan itu bangkit dan dengan cepat berjalan menuju kamar mandi.
Rossa memandangi tiap langkah suaminya dengan pikiran serta perasaan yang tak menentu.
Ada apa dengannya malam ini? Aku harus tanyakan pada sekretarisnya.
Rossa yang dengan segala rasa penasarannya, bertekad mencari tahu sendiri.
...______🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya .......
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Haloooooo, sayang²ku 👋 i'm back 🤗
Aaaaa, i really really really miss you, guys 😘
Apa kabar semuanya? Semoga sehat yah 🥰
Terima kasih buat yang sudah lama menunggu 🙏🙏
Terima kasih sayang²ku 🥰🙏
Kita berlayar lagi, yah 😁
Jangan lupa dukungannya selalu ☺️
Like komen dan vote kalo masih ada 😅
__ADS_1
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗