Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Fuc*king Choice


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


"Maaf saya harus mengatakan ini, keadaan istri dan calon bayi Anda sedang tidak baik-baik saja. Tekanan darah ibu Rossa kembali tidak stabil, pendarahannya tak kunjung berhenti, serta detak jantung bayinya semakin melemah. Kami tim medis akan berusaha semampu kami untuk menolong, tetapi mengingat ibu Rossa yang memiliki gangguan kehamilan sejak awal, kami ragu jika bisa menyelamatkan keduanya."


Perkataan dokter itu bagai kekuatan gempa yang mengguncang jiwa Alvino. Pijakannya rapuh dan mulai goyah. Mata elang itu menatap nanar dokter di hadapannya. Bukan saja Alvino, semua anggota keluarga Dharmawan dibuat shock dengan ucapan sang dokter.


"Karena itu kami butuh persetujuan dari Anda, Tuan. Kami tim medis akan berupaya melakukan yang terbaik, tetapi jika ada kendala yang kemungkinan besarnya berakhir pada pilihan sulit, siapa yang akan kami prioritaskan, ibu atau bayinya?" lanjut sang dokter.


A-apa ini? ... a-apa ini, Tuhan?


Hancur tak berdaya, tubuh tegap Alvino merosot dan ambruk begitu saja. Kelemahan membuat laki-laki itu tidak sanggup berdiri di atas pijakannya yang merapuh.


Baru saja aku merasa bahagia memiliki mereka, Tuhan. Kenapa? Kenapa aku harus memilih di antara dua hal yang sama-sama berharga bagiku? Pilihan macam ini, Tuhan?


Setetes cairan bening luruh tepat membasuh lantai di depan ruang IGD. Kemarahan yang ia tunjukkan tadi seketika lenyap berganti lunglai dan patah. Mulut Alvino tidak mampu tuk berucap satu kata saja.

__ADS_1


Laki-laki tampan itu bungkam dalam kehancuran yang tiada tara. Sekali lagi, Alvino merasakan gelap dan suram menyoroti hidupnya. Hampa, tersesat, dan hilang arah di sepanjang jalan menuju masa depan yang ia impikan bersama Rossa juga calon bayi mereka.


Tetes demi tetes air mata telah banyak menggugurkan harapan-harapan Alvino selama ini. Lelaki berlesung pipi itu terisak dalam diam, begitu juga dengan mami Lusy dan yang lainnya. Pemandangan di depan instalasi gawat darurat, begitu mencekam.


"Saya tahu ini sulit bagi Anda sekeluarga, begitu juga saya selaku dokter penanggung jawab yang menangani kasus istri Anda selama ini. Kami tidak punya banyak waktu, Tuan. Mohon kerjasamanya, tentukan pilihan Anda sekarang juga, karena nyawa pasien dalam bahaya, kami harus segera bertindak." Dokter kembali mendesak Alvino dalam waktu yang sangat sempit bagi mereka.


Bukannya jawaban yang mereka dapatkan, malah gelengan kepala serta suara tangis sesenggukan dari laki-laki yang tengah bertekuk lutut di atas lantai. Alvino tampak begitu bodoh, tanpa ada lagi pesona dan kewibawaan dalam dirinya.


"Putri saya ... se-selamatkan putri saya, Dokter. To-tolong selamatkan menantu saya!" ucap mami Lusy dengan tangis yang tertahan. Ini sulit, tetapi mau tak mau harus memilih.


Berat saat bibirnya mengatakan itu. Hati wanita tua itu pun hancur sama halnya dengan sang putra. Keinginan dan harapan untuk menimang cucu, lenyap dalam sekejap. Kebahagian yang sudah banyak ia siapkan untuk menyambut calon penerus keluarga Dharmawan itu, menguap dengan paksa.


Alvino mengusap air matanya lalu menengadah menatap mami Lusy. Lagi-lagi hanya gelengan kepala yang ia berikan sebagai jawaban. Bibir lelaki tampan dengan raut menyedihkan itu bergetar ingin bertutur.


Mami Lusy mendekat dan ikut duduk di hadapan putranya yang masih saja sesegukan.


"Mami tau itu, Sayang. Tapi kita tidak punya banyak waktu lagi. Mami berat untuk mengatakan yang seperti itu. Ayo, tentukan pilihanmu, Vin! Dokter butuh persetujuan kamu." Mami Lusy menatap Alvino dengan harapan segera memberikan persetujuannya, tetapi Alvino yang keras kepala, mati-matian menggeleng kuat, tidak mau memilih.


"Gak, Mi. Vino mau mereka berdua apapun yang terjadi. Vino gak akan ngelepasin salah satunya. Mereka sama-sama berharga dan berarti buat Vino, Mi."


"Alvino!" bentak Tuan Dharma. Ia tidak tahan dengan keras kepala putranya yang hanya akan mempersulit segalanya. "Hentikan keras kepalamu! Jika kau tidak memilih salah satunya sekarang, maka kau siap kehilangan keduanya," ucap Tuan besar keluarga Dharmawan itu dengan tegas.


Mata elang yang dipenuhi air mata itu, menyorot sang ayah dengan tajam. "Papi gak ada di posisi, Vino. Papi gak ngerasain yang Vino rasain. Vino banyak menyangkali kehadiran bayi itu, Pi. Kenapa saat Vino baru menyadari dan mengakuinya, Vino harus disuruh milih? Vino sudah siap dan sangat bahagia menantikan kehadirannya, Vino terlalu besar menginginkan dia sekarang." Alvino semakin menangis dan semakin tertunduk dalam.

__ADS_1


Ia merasa berdosa jika harus merelakan bayi yang dulu tidak diinginkannya itu.


"Tuan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, kami sudah tidak punya waktu lagi!" Perkataan sang dokter semakin menenggelamkan Alvino dalam kubangan nestapa.


"Jika aku harus hidup tanpa salah satu dari mereka, Ambil saja nyawaku! Bunuh saja aku!"


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya .......


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Huaaaa, otor nulis bab ini sambil nangis 🤧🤧


Jangan lupa like dan komen yah sayang 😔

__ADS_1


Biar otor gak sedih-sedih amat 🤧🤧


Sampai jumpa bab selanjutnya nanti siang 😘🤗


__ADS_2