
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Rossa masih betah di kamarnya setelah kepergian Alvino ke kantor. Bumil cantik itu tengah bersantai di balkon kamar, mengizinkan tubuh berisinya terpapar sinar mentari.
Suara mami Lusy yang memanggilnya beberapa kali, seolah tak sampai ke pendengarannya. Gadis itu tampak jatuh dalam lamunan.
"Sa, Rossa!" Lagi mami Lusy memanggil.
Raga gadis itu memang bergeming, tetapi pikirannya melanglang buana entah ke mana, who knows.
Akal yang tak memiliki kompas, selalu tersesat jauh tanpa tahu waktu yang tepat tuk menyudahi dan kembali. Sama halnya seperti Rossa saat ini. Ia seolah tersesat dalam pikirannya sendiri, hingga sentuhan lembut di pundak barulah ia tersadar.
"Eh, Mami. Ada apa, Mi?" tanyanya.
"Kamu kenapa? Mikirin apa, Sayang? Dari tadi mami panggil gak denger," tegur mami Lusy dengan lembut.
"Ha, masa sih, Mi? Jahat banget aku gak nyaut panggilan Mami," ucap Rossa dengan polosnya.
Bukan membela diri, tetapi dia mengatakan yang sebenarnya. Mami Lusy tersenyum sedikit memaklumi, karena beliau tahu bahwa gadis itu pasti tengah memikirkan perkara suaminya.
"Mikirin Vino lagi yah?" tanya mami Lusy.
Rossa mendongak menatap wajah mertuanya. "Mami tau apa yang kakak sembunyikan?"
Wanita paruh baya yang masih saja cantik di usia senjanya, tersenyum teduh menanggapi pertanyaan sang menantu.
"Jangan memikirkan apapun! Semua yang suami kamu lakukan, semata-mata hanya untuk kebaikan kamu dan jagoan ini." Mami Lusy menunduk dan mengelus perut besar Rossa.
Gadis dengan perut membuncit itu memaksakan senyum. Senyum yang tak dapat disembunyikan dari kacamata mami Lusy. Perasaan yang selalu tersemat di setiap air mukanya, kerap tertawan penginderaan mami Lusy.
"Udah, gak usah banyak mikir! Jalan-jalan, yuk!" ajak mami Lusy.
Ibu satu anak yang telah berusia hampir setengah abad itu, lagi-lagi berupaya mengalihkan atensi sang menantu.
__ADS_1
"Kemana, Mi?" tanya Rossa ogah-ogahan.
"Dah ... ikut aja. Ayo, mandi! Mami tunggu yah." Wanita tua itu mode memaksa, dan langsung pergi begitu saja. Tinggalah Rossa tanpa bisa memilih.
Bumil itu menghela nafasnya dengan panjang dan berat. Sesuatu terasa mengganjal di benaknya, membuat ia tak bisa tenteram. Keterpaksaan menyeretnya dengan malas tuk bangkit dari tempat duduk.
Ada apa dengannya yah? Aku yakin pasti ada kaitannya sama kakak.
Sebuah tanya yang sejak tadi bertandang di kepalanya, berhasil mengaduk-aduk perasaan bumil cantik itu.
...*****...
"Udah jangan bawel terus, cepat mandi dan pulang yah. Kasian mama khawatir dan kesepian di rumah."
Felix membujuk sembari mendorong pelan tubuh adiknya menuju kamar mandi. Ia tidak ingin dua wanita yang dicintainya itu berseteru.
"Nanti kakak yang jelasin ke mama masalah ini. Cepetan, lima belas menit udah kelar pokoknya!"
Lelaki itu segera melangkah keluar, meninggalkan adiknya bergegas dengan waktu yang sudah ia tentukan.
Ia memilih menunggu di ruang tengah, sambil memikirkan sederet kata-kata yang akan ia ucap untuk sang ibu nanti. Penjelasan seperti apa yang tidak berdampak memicu kekhawatiran?
Ah, dengan dua mata sudah pasti lebih bisa meyakinkan, dari pada satu mulut hanya dengan kata-kata yang belum tentu bisa dipercaya.
"Gak ada cara lain selain pasrah dengan kepanikan dan omelan macan. Biar saja tuan putrinya dikurung dulu, pusing juga ngadepain mood dia."
Lelaki itu asik bermonolog dengan mata yang terpejam sembari memijit pangkal hidungnya. Tanpa ia sadari, sang adik sudah berdiri di hadapannya dengan berkacak pinggang.
"Oh, jadi di pihak mama sekarang?" tanya Filen tiba-tiba.
Felix tersentak dengan nada horor yang menyelenong ke pendengarannya. Ia membuka mata dan langsung disorot tatapan horor sang adik.
"Eh, enggak, Sayang!" Menunjukkan cengiran yang justru membuat Filen semakin kesal.
"Kakak selalu mendukung kamu kok, iya kan?" Felix menaik-turunkan alisnya menggoda sang adik. "Ayo, ngaku! Faktanya gitu kok."
Filen mendengus. "Pokoknya jelasin sama mama, jangan sampai aku dikurung!" Tuan putri bertitah.
Felix tertawa sambil mengangguk. "Siap, Tuan Putri! Dah ah, ayo jalan!"
Ia langsung bangkit dari duduknya dan menggamit jemari lentik sang adik, menuntunnya keluar dari unit apartemen.
__ADS_1
...*****...
"Sebentar, Sayang. Ponsel mami kayaknya ketinggalan di dalam deh."
Di depan sebuah butik ternama, Rossa dan mertuanya tengah berdiri di sana. Baru saja keluar, mami Lusy kembali masuk karena ponselnya ketinggalan.
Rossa yang saat itu pikirannya kosong, memilih diam di tempat sambil menunggu sang mertua. Beberapa meter dari tempatnya berdiri, sebuah mobil yang juga hendak masuk ke area butik, tiba-tiba berhenti mendadak.
Lama mobil itu berhenti hingga beberapa saat kembali bergerak maju ke arah Rossa. Jalannya mobil itu menyalip kanan-kiri tak beraturan, seolah berada di tikungan lintasan balap.
Rossa masih di tempatnya, menatap nanar semua benda yang ada di sana. Ketidaksadaran membuatnya tidak peka dengan situasi yang membahayakan.
Beruntung, saat itu tukang parkir membunyikan refri dengan panjang berusaha menghentikan pengemudi mobil tersebut.
Di saat yang bersamaan, mami Lusy keluar dan menyadarkan Rossa.
"Sayang, kamu tidak apa-apa kan?"
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hay semuanya 👋 AG datang lagi 🥰
Maaf yah, akhir-akhir ini, AG sibuk banget, jadi up-nya juga jadi gak maksimal.
Mohon pengertiannya yah 🙏 AG usahakan buat selalu up kok 🥰
Jangan lupa dukungannya yah 😘😘
Thanks buat semuanya 🙏🙏
__ADS_1
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗