
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Kediaman Dharmawan.
Dua mobil mewah memasuki gerbang utama keluarga Dharmawan. Sampai di depan rumah, Alvino keluar dengan cepat lalu mengitari mobilnya, membuka sisi pintu yang lain lalu menuntun Rossa keluar dari sana.
Beberapa pelayan menyambut mereka dengan sopan dan tentu saja dengan bahagia. Mereka mengambil semua barang yang ada di mobil dan membawanya masuk.
Alvino menuntun istrinya dengan lembut, sudah melewati kamar Rossa.
"Kamar aku di sini, Kak!" Rossa menahan langkahnya.
Alvino ikut berhenti. "Iya, aku tau, Honey. Aku belum pikun, kok. Ini aku cuman mau nunjukin sesuatu buat kamu, kejutan yang aku bilang tadi." Alvino tersenyum. "Dan kejutan itu ada di atas." Menunjuk ke atas.
"Apa mami juga boleh liat?" Ibunya tak mau ketinggalan.
"Boleh, tapi setelah Rossa melihatnya," ucap Alvino yang membuat orangtuanya dan yang lain hanya bisa tersenyum.
"Se-spesial itukah dia sekarang?" Kali ini ayahnya yang bertanya.
"Oh hiya dong, Pi. Seharusnya sih dari dulu udah spesial. Cuman … ya, gitu deh, bodohnya Vino aja waktu itu." Lelaki itu tertekeh sendiri. "Udah ah, Vino mau nunjukin dulu kejutannya buat Rossa, nanti setelah itu baru giliran kalian." Ia kembali menuntun istrinya lalu sama-sama menaiki tangga.
Rossa diam saja dengan pikiran yang menebak-nebak. Sampai di depan kamar Alvino, Rossa berhenti dengan raut wajah sedikit berubah.
"Kenapa, Honey? Kenapa berhenti di sini?"
Eh? Ja-jadi? …
"Bukan di sini, di sebelahnya lagi, Honey. Ayo!" Menarik lembut tangan Rossa. Gadis itu membuang wajahnya ke tempat lain merasa malu dengan dugaannya.
Apa sih, yang aku pikirkan?
Hanya butuh beberapa langkah, pasangan suami-istri itu sudah berada di depan pintu sebuah ruangan yang tidak jauh dari kamar Alvino.
__ADS_1
"Di sini?" tanya Rossa dan Alvino mengangguk.
"Masuklah!" Alvino merangkul pundak kecil istrinya.
Rossa masih menatap wajah suaminya untuk beberapa saat. Ragu-ragu tangannya meraih gagang pintu lalu memutarnya. Rasa penasaran yang menyerangnya, membuatnya dengan segera mendorong pintu berwarna broken white tersebut dan ….
"Aaaaaaa!" Bukannya teriak kegirangan atau semacam histeris menunjukan perasaan terkejut atau bahagianya dengan berlebihan. Rossa malah merengek manja hampir menangis. Eh, memang sudah menangis.
"Kakak." Menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tak mampu lagi untuk berkata-kata.
Alvino mendekat lalu membawa tubuh padat berisi itu dalam pelukannya.
"Kok nangis? Gak suka, yah?"
"Aaaa, bukan gitu. Suka, kok. Suka banget. Makasih, Kak. Hiks, hiks." Rossa makin menangis. Tidak sadar ia sudah membasahi baju kerja suaminya.
"Kalo suka, jangan nangis." Menepuk pelan punggung kecil istrinya yang tengah berguncang.
"Aku … aku terharu, Kak. Ini … ini gak pernah terbayangkan sama sekali di benakku. Terima kasih, Kak." Rossa tidak tahan dengan tangisnya, ia lalu membalas pelukan Alvino. Menumpahkan air mata bahagianya di dada bidang laki-laki yang telah lama menempati seluruh hatinya.
Alvino mengurai pelukan keduanya. Ia menangkup kedua pipi istrinya.
"Apa yang ada di benakmu selama ini, hm? Apa saja yang kamu bayangkan?" Menatap lekat ke dalam netra coklat Rossa. "Dia lahir dan kalian akan tidur berdua saja di kamarmu? Hidup berdua saja begitu?" Rossa membalas tatapannya dengan kening yang mengkerut. Kenapa selalu tau pikiranku? "Lalu aku ini apa? Aku akan sendirian saja seumur hidup?" Menghapus air mata di wajah istrinya. "Jangan pernah berpikir untuk sendiri lagi. Pikirkanlah aku di setiap detak jantungmu, ingatlah ada aku yang akan selalu menemani tiap langkahmu kedepannya." Alvino menengadahkan sebelah telapak tangannya yang terbuka. "Genggamlah tangan ini dan melangkahkan kaki bersamaku, menyusuri ruang dan waktu bersama sampai batas akhir yang ditentukan Tuhan." Rossa tersenyum dengan air mata yang tak kunjung mereda. Meskipun terisak, tetapi ia meraih tangan Alvino. Meletakkan tangannya di atas tangan besar Alvino, menaruh seluruh kepercayaannya yang ia simpan sendiri selama ini. Hatinya memilih untuk mempercayai lelaki itu mulai detik ini.
Genggaman tangan keduanya semakin terasa erat. Saling menautkan jemari dengan untaian asa yang melambung tinggi ke angkasa, dengan mata terpejam saling mengikat dalam doa lewat hati, terselami dengan bibir yang saling bertaut.
"Bernafas, Honey," bisik Alvino setelah melepaskan ciumannya. Ia tersenyum melihat Rossa yang kaget dan membuka matanya. Gadis itu tertunduk malu. "Nanti aku ajarkan cara bernafas saat melakukannya, agar kita bisa melakukannya dalam waktu lama." Alvino mengedipkan sebelah matanya menimbulkan semburat merah di pipi mulus Rossa yang masih tergenang. "Tidak mau liat-liat dulu?" tawarnya.
"Mau," ucap Rossa.
Alvino melepaskan tangannya membiarkan bumil cantik itu menyusuri setiap sudut kamar yang awalnya adalah ruangan fitness milik lelaki pemarah itu, tetapi kini telah disulap menjadi kamar calon baby boy mereka.
Raut bahagia tidak dapat terbantahkan di wajah cantik Rossa.
Kenapa semua hal yang dia lakukan selalu indah di mataku? Apa … dia punya sihir? Atau … dia punya sisi sempurna layaknya dewa? Ah, apapun itu aku semakin ingin mencintai dan memilikinya seorang diri.
Rossa tersenyum dan tiba-tiba raut wajahnya berubah sendu.
Apa sekarang aku boleh mencintainya tanpa izin darimu? Apa aku boleh mengabaikan perasaanmu? Bukankah kamu juga sudah jauh bahagia sebelum ini? Apa aku mulai egois?
"Ngelamun apa, sih?" Rossa terperanjat dengan sepasang tangan kekar sudah melingkar lembut di lehernya.
__ADS_1
"Eh, enggak. Cuman … cuman," Ngomong apa? Aaaaaa. "Oh, lagi mikir aja. Kok bisa sih, Kakak mikirin buat ini semua?" Alasan!
Alvino tertawa kecil. "Apanya yang gak bisa? Semua ini terselesaikan dengan cepat karena campur tangan desainer interior. Aku cuman kasih ide aja, dan mereka kerja sesuai yang aku inginkan. Sebenarnya aku ingin buat dengan tanganku sendiri, tapi kamu liat sendiri kan, aku sibuk, Honey." Alvino menunduk dan menenggelamkan wajahnya di pundak kecil istrinya.
Rossa tersenyum sambil mengusap tangan Alvino yang masih memeluknya.
"Aku tahu Kakak sibuk. Karena itu aku salut, kok sempat-sempatnya mikir buat ini semua. Siapapun yang ngerjain semuanya, tetap aja ide dari Kakak yang penting, dan … aku suka. Suka dengan semua hal yang Kakak lakukan."
Alvino melepaskan pelukannya dan membalikan tubuh Rossa menghadapnya.
"Aku tidak menemukan alasan untuk tidak mencintaimu. Aku jatuh cinta, Honey."
Mengusap bibir merona Rossa yang sudah menjadi candu baginya setelah beberapa hari terakhir. Sekali lagi Alvino ingin menunduk dan mereguk manis madu di bibir istrinya, tetapi suara di pintu menggagalkan niatnya.
"Tan, berasa tersesat di rumah sendiri gak, sih?"
Pengganggu sia*lan.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hay semuanya 👋 Ketemu lagi 🤗
Terima kasih buat yang selalu menunggu 🙏
Jangan lupa like dan komen yah 😍 Oh iya, bagi yang punya vote masih ada, boleh dibagikan dong 🤭 atau kembang or kopi juga boleh 😅🤭 Biar semangat otornya 😁
Yah, makasih buat kalian semua yang selalu setia di kapal Alvino dan Rossa. Kawal terus yah, guys 😍 Jangan sampai karam 😘
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗
__ADS_1
Ig author : @ag_sweetie0425