Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Flashback 1


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


"Sh*it!"


Alvino menendang ban mobil dengan kesal. Bagaimana tidak, sudah lelah seharian berkutat dengan pekerjaan. Ia ingin cepat-cepat pulang melihat wajah cantik istrinya. Nyatanya harus terhalang ban mobil yang kempes.


Alex mendekat dan memeriksa kondisi ban. Ternyata ada yang sengaja mengempiskan bannya.


"Loh, ada yang sengaja, Vin."


Alex tampak curiga. Jelas saja, ini bukan lah sebuah ketidaksengajaan. Hal yang membuatnya bingung, siapa orang yang berani melakukan ini. Yang jelas, hanya orang kantor saja.


"Brengsek! Berani-beraninya …."


"Udah, Lex. Lo urus ini, gimana caranya. Gue mau balik sekarang aja. Sorry yah, gak bisa nemenin. Dah kangen banget sama istri." Memotong ucapan Alex dengan santai.


Alvino tergelak dan hendak memesan grab, tetapi dengan gesit Alex meraih ponsel di tangannya.


"Enak banget Lo yah. Main tinggal aja. Lo enak cuman kangen, lah gue lebih capek dari pada Lo, nyuk," sungut Alex. "Gak bisa, pokoknya temenin gue."


Alvino berdecak. "Wah, wah, berani banget Lo sama bos, hah? Gue pecat juga, nih."


Giliran Alex yang tergelak sambil mengotak-atik ponselnya menghubungi pihak bengkel resmi terdekat.


"Jangan sok ngancem. Ini udah selesai jam kantor. Suka-suka gue dong," ucap Alex dengan santainya.


"Ok, fine. Gue temenin, tapi gaji Lo tetep gue potong."


Alvino memutuskan untuk menemani Alex dan mereka akan pulang bersama. Tiga puluh menit berlalu bagi Alvino sangatlah lama. Beberapa kali ia terus melayangkan kata-kata umpatan pada Alex dengan kesal.


Langit malam saat itu juga tidak bersahabat. Awan hitam tampak bergelayut, membentang dengan siaga, menghalangi cahaya bintang yang mulai redup. Terpaan angin malam yang kencang menampar Alvino dengan keegoisannya, lalu menerbangkan rindunya pada sang istri tercinta yang mungkin saja tengah menantinya.


Pada akhirnya, datanglah seorang mekanik mengatasi masalah yang dialami kedua lelaki itu. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mengisi udara.


Selesai dengan urusan ban mobil yang kempes dan juga urusan dengan mekanik, Alex segera menjalankan mobil melesat dari sana.


Baru beberapa meter jauh dari kantor, Alvino meminta Alex untuk berhenti di sebuah toko bunga. Dia ingin pulang ke rumah dengan membawakan sesuatu untuk istrinya.


Namun, tiba-tiba saja masalah baru muncul kembali. Alex yang saat itu ingin menginjak pedal rem, ternyata tidak bisa. Disfungsi rem menyebabkan pengereman tidak bisa berfungsi.


Berulang kali lelaki itu menginjak pedal rem dengan gerakan cepat dan terkesan terburu-buru, bahkan injakannya sangat kuat. Namun, sama saja tak kunjung bisa. Remnya tidak bekerja.

__ADS_1


Alex mulai sedikit panik. "Loh, loh, Vin!" panggilnya.


Alvino yang tengah fokus dengan ponsel di tangannya, tidak begitu memperhatikan dan tidak tahu sama sekali dengan situasi tegang yang tengah terjadi.


"Vin, Vino!" panggil Alex sekali lagi.


"Hmm, jangan lupa berhenti di …."


Alvino mengangkat pandangannya dan kaget saat mobil sudah melewati toko bunga yang ia maksud.


"Ck, udah gue bilang stop di toko bunga, bege." Alvino berdecak kesal. "Gak bisa! Putar balik, putar balik!"


Alvino yang saat itu langsung menggeplak bahu Alex, merasa aneh dengan ekspresi temannya. Tidak seperti biasanya ia akan melayangkan protes dan menciptakan suasana yang berisik.


Lelaki di sampingnya yang tengah mengemudikan mobil, terdiam dan tampak tegang.


"Lo kenapa?" tak ada sahutan.


Mungkin karena panik, fokus lelaki itu buyar. Alhasil, Alvino merasa sedikit oleng dengan laju mobil yang mulai menyalip secara kacau.


"Alex ngomong, Lex!" teriak Alvino dengan keras menyadarkan lelaki di sebelahnya.


"Lo mau bunuh diri hah? Lo aja yang mati. Gue masih mau hidup sama istri dan anak gue."


Alvino yang kesal terus berteriak dan menyumpahi temannya.


"Rem? Rem kenapa?" Sebelah alisnya terangkat.


"I-ini remnya blong," ucap Alex yang sudah gugup setengah mati.


"Lo jangan ngadi-ngadi, yah. Nyetir yang benar, mau gue potong lagi gajinya, hah?"


"Terserah, Vin. Gu-gue rasa gue lebih butuh tambahan nyawa sekarang dari pada gaji."


Alex berucap dengan gemetaran. Alvino baru akan percaya ketika ia menyentuh dahi asisten sekaligus temannya itu. Keberaniannya seolah diperas habis oleh keadaan. Menyisakan keringat dingin yang menempel di sana lalu menetes setetes demi setetes, menggugurkan butiran-butiran semangat dan rasa percaya diri.


Tidak menunggu lama lagi, Alvino langsung bergerak mengambil alih kemudi. Ia memerintahkan Alex agar berpindah dengan pelan ke kursi penumpang, bertukar tempat dengannya.


"Lo kasih tahu mami dan papi sekarang, cepetan! Biar kalau ada apa-apa, mereka juga tahu. Jangan kita mati percuma di sini." Lagi Alvino memberi perintah. "Bilang sama mami temani istri gue, kita kayaknya kejebak gak bisa pulang cepat."


Alex dengan masih gemetar mengikuti apa yang diucapkan teman sekaligus atasannya.


Alvino pun mulai fokus menyetir. Lelaki berlesung pipi ini benar-benar memusatkan konsentrasi penuh pada kemudi.


Hal pertama yang Alvino lakukan saat itu adalah menurunkan gigi secara bertahap dari tinggi ke rendah. Ia melakukannya secara perlahan dan sangat hati-hati. Banyak orang menyebut ini teknik pengereman mesin.


Di samping melakukan hal itu, Alvino juga mengimbanginya dengan rem tangan. Entah dimana dan dari mana ia mempelajari hal itu, tetapi ia terlihat sangat tenang dan melakukannya dengan begitu ahli.


Selanjutnya, ia tidak langsung mematikan mesin mobil. Namun, ia tetap mempertahankan mesin untuk tetap menyala. Alvino memperhatikan sisi kiri dan kanan lewat kaca spion, ia mulai menepi begitu ada cela. Kebetulan jalanan malam sudah tak begitu ramai.

__ADS_1


Terdengar helaan nafas lega dari lelaki dengan senyuman manis itu. Kontrol penuh sudah ia dapatkan. Namun, Alvino masih tetap fokus dengan menjauhkan kakinya dari pedal gas. Jangan sampai ia kehilangan kontrol dan tidak sengaja menginjakkan kaki pada bagian itu. Bahaya.


"Are you ok, Lex?" tanya Alvino membunuh kepanikan sekretarisnya.


"Lebih baik dari yang tadi, Vin!" jawab Alex dengan sedikit lega. "Bagaimana Lo bisa melakukan ini, Vin?"


"Udah itu nanti aja dulu. Sekarang Lo cek kondisi remnya, gih. Apa ada hal yang menghalangi atau mengganjal gitu?"


Perintah Alvino dan Alex langsung melakukan apa yang diperintahkan padanya. Lelaki itu terlihat mengguncang pedal rem sesuai instruksi Alvino.


"Kayaknya emang ada yang sengaja, Vin!" kata Alex.


"Udah, itu nanti kita pikirkan. Sekarang gue harus menabrakkan mobil ini ke sesuatu. Coba Lo liat-liat objek apa yang lunak gitu, gak mungkin gue nambrak ke pohon, kalo ancur mobil dengan Lo sih gak papah. Asal jangan hidup gue yang hancur."


Alvino terkekeh sedangkan dengusan kecil terdengar dari mulut Alex. Di saat seperti ini lelaki itu masih sempat-sempatnya melawak.


Namun, lagi-lagi kesialan menimpa keduanya. Belum mendapatkan landasan yang tepat untuk membenturkan mobil, alam semesta seolah berkonspirasi menjebaknya.


Dengan tega langit mencurahkan kerinduannya pada bumi. Mereka bersua dan bercumbu, tanpa mempedulikan perasaan Alvino yang saat itu juga tengah merindukan istrinya.


Alvino terjebak di dalam hujan dan rindu.


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya …....


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Haloha 👋


Bab berikutnya meluncur yah 😊


Jangan lupa like dan komen.


Vote-nya juga jangan lupa 😁


Sesajen setiap Minggu yah 😅🤭


Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗


Ig author : @ag_sweetie0425

__ADS_1


__ADS_2