
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
"Kak!"
Pekik Rossa langsung menyambar tubuh kekar sang suami yang tengah menggigil. Dipeluknya tubuh dingin berbalut pakaian yang basah kuyup tersebut.
Sedetik kemudian ia tersadar dengan basah yang merembes ke pakaiannya, juga bulir-bulir sisah air hujan yang menetes dari surai legam sang suami.
Ia melonggarkan pelukannya agar bisa melihat wajah Alvino dengan jelas. Bibir indah yang sering sekali mencumbunya dengan nakal itu, tengah pucat dan sedikit bergetar. Binar mata yang selalu membuatnya tak berdaya, tampak sayu dan redup.
"Dari mana aja, Kak? Kenapa bisa sampai hujan-hujanan gini?"
Rossa langsung bergerak turun dari tempat tidur. Hendak melepaskan pakaian sang suami. Namun, ketika tangannya baru akan menyentuh, Alvino sudah lebih dulu menangkap tangan mungil itu.
"No, Honey! Aku bisa sendiri."
Sudut bibir yang bergetar itu sedikit terangkat. Rossa menatap lekat bola mata tajam yang sering membuatnya tak berkutik. Mencoba menyelami sesuatu yang seolah bersembunyi di dalam sana.
Alvino semakin melebarkan garis yang melengkung di bibirnya. Perlahan ia mendudukkan tubuh Rossa kembali ke bibir ranjang.
"Tunggu aku di sini."
Baru saja selangkah ia berbalik, suara Rossa kembali menahannya.
"Aku ikut." Sudah berdiri dan melangkah mengikuti Alvino.
Lelaki itu berhenti sejenak lalu menarik nafasnya dan menghembuskan dengan perlahan.
"Aku gak kenapa-napa, Honey. Tetap di sini dan tunggu aku."
Tanpa menunggu lama, Alvino kembali melangkah, dan lagi-lagi Rossa menghentikannya.
"Pertanyaan aku belum dijawab," ucap Rossa pelan.
Alvino berbalik. "Aku gak lama. Wait for a moment, okay?"
Rossa mengalah dan membiarkannya berlalu begitu saja. Ia masih berdiri di sana dengan perasaan yang tak menentu.
Kenapa? Kenapa aku gak boleh ikut?
Bukannya dia senang dan selalu minta dilayani?
Ada apa ini? Aneh.
2 menit.
3 menit.
4 menit.
__ADS_1
Sampai 5 menit berlalu, Alvino belum juga keluar dari dalam sana. Rossa memutuskan duduk di sofa sembari menunggu sang suami. Tambah lagi 10 menit, tetapi belum juga tampak batang hidung laki-laki itu.
Rossa yang sudah lelah menunggu, langsung bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Tepat saat langkahnya terhenti di depan pintu dengan tangan yang meraih gagang pintu, tiba-tiba Alvino sudah berdiri di depannya.
Wajah tampan itu terlihat segar dengan senyum kecil menatapnya.
"Kangen yah? Sampai gak sabar nunggu lama-lama?" Alvino terkekeh lalu secepat kilat mengecup singkat bibir Rossa.
Rossa yang sudah terbiasa dengan hal itu tak lagi kaget. Ia tak bergeming. Berdiri tegak di depan Alvino dengan wajah yang menengadah menatap dalam netra legam suaminya.
Alvino tersenyum melihat tingkah sang istri. Dia tahu, gadis manis itu tengah mencemaskan dirinya.
"Apa, Honey? Tidur, yuk!"
Mencoba merayu, menenangkan, dan mengalihkan perhatian istrinya.
"Ada yang Kakak sembunyikan dari aku?" Tepat sasaran, tak melesat sedikit pun.
Alvino terkekeh. "Serius banget mukanya." Ia mencubit pelan pipi istrinya. "Gak ada apa-apa, Honey."
Lelaki itu mencoba tenang dan membalas tatapan sang istri. Namun, gadis itu masih tak mau percaya begitu saja.
Matanya memindai Alvino dari ujung rambut hingga ujung kaki, begitu pula sebaliknya. Dari kaki hingga ujung rambut. Belum puas, Rossa berjalan mengitari lelaki itu dengan tatapan penuh selidik.
Alvino memejamkan matanya dengan nafas yang tertahan. Sedetik kemudian ia membuang nafasnya dengan berat.
"Come on, Honey. Aku baik-baik saja."
Rossa berhenti di tempatnya semula, tepat di depan Alvino. Masih seperti sebelumnya, menatap wajah tampan itu dengan perasaan yang masih sama, cemas.
Tidak menjawab, Rossa berbalik dan melangkah menuju pintu kamar tanpa sepatah katapun.
"Honey, hey! Mau kemana? Hon, Honey!"
Rossa seolah tak mendengar. Ia terus berjalan hingga keluar dari sana.
"Kok aku ditinggal?" Alvino mengedikan bahunya lalu berjalan perlahan menuju ranjang. Dengan gerakan sepelan mungkin ia membaringkan raganya. Kemudian langsung menarik selimut membalut tubuhnya yang sedari tadi disiksa dingin tanpa belas kasih.
Apa dia marah?
Mana pernah dia marah?
Alvino membatin sambil terkekeh sendiri. Ya dia tahu, gadis itu tidak pernah sekalipun marah padanya. Bukan saja padanya, tetapi kepada siapa saja.
Pikir Alvino, istrinya itu adalah satu-satunya makhluk yang tidak pernah mengenal kata marah. Gadis ayu berparas lembut itu, belum pernah ditemukan berucap atau bertingkah kasar dengan siapapun.
Sungguh Alvino takjub dengan ciptaan Tuhan yang satu itu. Ia benar-benar bersyukur memiliki Rossa, seolah dia memang diciptakan dan didesain khusus dan unik untuk melengkapi dirinya.
Ah, aku memang beruntung memilikimu ….
Alvino menggeleng dengan ujung bibir yang terangkat sempurna.
Dalam lamunannya, pintu kembali terbuka, menampakan sosok anggun yang masuk dengan nampan kecil di tangannya.
Setelah menutup pintu, Rossa berjalan cepat menghampiri sang suami yang sudah berbaring. Diletakkannya nampan di atas nakas. Lalu dengan gerakan cepat, ia menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuh suaminya dalam sekali hentakan. Melihat itu, Alvino refleks bangun dan duduk.
Kembali Rossa mengambil cangkir berisi teh jahe dan memberikannya pada Alvino.
__ADS_1
"Apa? Ayo, diminum!" ucap Rossa begitu mendapat tatapan tajam dari suaminya.
"Gak ada protes-protes kali ini. Habiskan sekarang juga!" perintah Rossa.
Seketika wajah Alvino berubah. Laki-laki itu melipat bibirnya menahan tawa. Dengan senang hati ia meraih cangkir teh itu lalu menyesapnya secara perlahan.
"Thank you, Honey. Padahal gak perlu sok galak juga aku tetap akan minum kok. Kamu gak cocok marah, Hon." Alvino terkekeh sembari membelai wajah ayu Rossa dengan penuh cinta.
"Terus, kenapa natap aku kek tadi?" Sebelah kening Rossa terangkat.
Alvino kembali menyesap teh dan mengulangnya sekali lagi, lagi, dan lagi sampai minuman berkhasiat itu habis tak tersisa.
Setelah mengembalikan cangkir kosong ke atas nakas, Alvino lalu menarik lembut tangan istrinya. Rossa menuruti keinginan lelaki itu. Ia naik dengan perlahan dan duduk di samping suaminya.
Alvino menghadiahkan kecupan bertubi-tubi di seluruh wajah cantik sang istri.
"Aku marah. Tau Kenapa?" Rossa menggeleng. "Aku gak suka liat kamu menyibukkan diri seperti ini. Aku gak mau kamu kecapean, apalagi ini tengah malam, Honey." Alvino berbicara dengan begitu pelan, sambil merapikan beberapa helai rambut yang menghalangi wajah ayu Rossa.
"Gimana kalo kamu kenapa-kenapa tadi di dapur? Gak ada yang liat, Hon. Dan itu bahaya, jelas saja aku marah. Jangan diulangi yah," pinta Alvino dengan lembut.
Rossa menatap suaminya dengan binar penuh cinta. "Kakak tahu? Aku khawatir dari tadi. Tidurku gak nyenyak. Aku cemas. Apalagi liat Kakak kedinginan kek tadi. Aku gak mau Kakak sakit. Lagian hanya melakukan hal kecil itu gak papah, Kak. Itu memang tugas Rossa. Udah seharusnya kek gitu, kan?"
Alvino menghembuskan nafasnya berat. "Asal kamu selalu berhati-hati. Sekarang istirahat yah. Tadi gak nyenyak kan? Tidur lagi, yuk!"
Saat Rossa sudah berbaring dan hendak merapat ke pelukan suaminya, tiba-tiba saja Alvino meringis. Meskipun suara itu sangat pelan, tetapi Rossa dapat mendengarnya dengan jelas.
"Honey, a-aku … aku …."
Alvino tergagap begitu Rossa dengan spontan melayangkan tatapan tajam penuh intimidasi.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hay semuanya 👋 ketemu lagi 🤗
Udah like belom?
Udah komen belom?
Udah vote belom?
Jangan lupa sama tiga hal di atas yah 😅
Terima kasih buat yang selalu mampir 🙏
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗
__ADS_1
Ig author : @ag_sweetie0425