Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Kecemburuan Gila


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


"Jangan seperti itu lagi, Nak! Mami bisa jantungan nanti. Mami stres banget ngebayanginnya tadi. Jangan ngulangin lagi yah, Sayang!" Tangan mami Lusy bergerak mengelus perut besar menantunya.


"Maafin Rossa, Mi." Tertunduk penuh sesal.


Mami Lusy menarik nafasnya dalam.


"Mami tau kamu merindukan masa-masa kuliah kamu kan?" Rossa mengangguk samar. "Bersabarlah sampai kamu selesai lahiran nanti. Mami akan memastikan kamu kembali menyelesaikan kuliahmu," ucap mami Lusy dengan senyuman tulus.


Rossa mengangkat kepalanya. Wajah penuh sesal tadi berubah terlihat berbinar.


"Makasih, Mami!" Rossa langsung memeluk mertuanya dengan riang.


Ada hati yang tidak senang mendengar pembicaraan ini. Terbesit ketidakrelaan yang tak mampu terucap. Padahal tidak ada larangan atau batasan untuk keberatan yang semestinya.


"Ekhem!"


Alvino pura-pura batuk. Nyatanya ia hanya mencari perhatian yang sebenarnya bisa ia peroleh dengan mudah.


"Vino berangkat, Mi." Berpamitan pada ibunya tapi mata itu melirik bumil cantik di samping sang ibu.


"Gak sekalian pamitan sama istri kamu, Vin?"


Alvino yang sudah melangkah hendak pergi, kembali berbalik. Lama ia menatap wajah istrinya dalam diam. Bungkamnya menyiratkan banyak makna yang tidak bisa terurai dalam waktu singkat.


"Jika kau merasa bosan, pergi dan bersenang-senanglah di luar. Tapi jaga batasanmu." Dari semua yang ada di benaknya, hanya itu yang terucap.


"Temani dia, Mi." Berkata pada sang ibu lalu pergi. Namun, baru beberapa langkah, ia berhenti lagi. "Dan, gunakan kartu yang kuberikan. Jangan hanya dijadikan pajangan." Setelah itu ia benar-benar berlalu.


"Makasih, Kak!" ucap Rossa sedikit teriak.


Jangan tanyakan lagi bagaimana rasa senang yang membuncah di hatinya. Ini yang ia harapkan. Diberi kebebasan menikmati dunia luar tanpa rasa bersalah yang membebani. Setidaknya kali ini ia benar-benar mendapat izin langsung dari tuan pemarah itu.


Senyum bahagia tergambar di wajah keriput mami Lusy.


Apa hambaMu ini sudah boleh berbahagia sekarang?


Sedangkan Alvino terus melangkah dengan suasana hati yang cukup baik pagi itu. Tanpa terlihat oleh yang lain, wajah dingin itu sedikit hangat dengan sentuhan senyum kecil yang samar.


Blam!


Bunyi bantingan pintu mobil begitu keras mengagetkan Alex.


"Lo marah sama gue?" tanya Alex begitu Alvino baru saja masuk ke mobil.

__ADS_1


Tidak ada jawaban sama sekali. Tidak ingin meneruskan pertanyaan yang hanya akan berlanjut dengan perdebatan, Alex menginjak pedal gas dan segera melaju dari halaman rumah mewah milik keluarga Dharmawan.


"Sorry kalo …."


"Lo bisa diem gak sih?" Alvino mendengus kesal. "Ia gue marah," ungkapnya ketus. "Kenapa gak langsung hubungi gue aja? Pake acara ngomong sambil ketawa-ketawa lagi. Lo tau gue kan?" Membuang pandangannya ke luar jendela.


"Lo gak suka?" Alex sengaja bertanya meski ia tahu maksud ucapan temannya.


"Jangan pura-pura gak tau," jawabnya acuh.


"Gue serius, Vin. Lo beneran ngaku sekarang kalo dia milik Lo?" Semakin ingin menguak rasa di hati Alvino.


"Pertanyaan konyol apa itu?" Balik bertanya. "Dia … dia ... ya, dia istri gue." Menjawab dengan masih berat rasanya. "Gak ada yang salah kan?" Grogi sendiri.


Alex terkekeh. "Gak, emang gak ada yang salah. Yang salah itu cuman gengsi Lo aja." Tawa laki-laki itu pecah.


Seperti itu kah? Apa aku harus mengakuinya pada semua orang mulai sekarang?


"Kan ngelamun lagi, mikirin istri yah," goda Alex.


Alvino berdecak kesal. "Ck, nyetir yang bener sana!" Alex semakin tertawa.


Tidak lama setelah itu, mereka pun tiba di kantor.


"Lain kali jangan mendekat atau berbicara dengannya lagi. Baik itu sengaja ataupun tidak. Kamu tau konsekuensinya." Alvino lalu turun setelah mengucapkan itu.


Ia tidak pernah menunggu sampai Alex harus membuka pintu mobil ataupun menutupnya. Lelaki yang bertugas menjadi sekretarisnya itu hanya mengantar jemput saja. Selebihnya Alvino tidak ingin diperlakukan terlalu berlebihan.


Kecemburuan gila macam apa itu? Yang benar saja cemburu sama teman sendiri.


Ia pun mempercepat langkahnya mensejajarkan dengan langkah Alvino.


...*****...


Di kediaman keluarga Dharmawan. Rossa dan mertuanya baru saja keluar. Bumil cantik itu tampak begitu bahagia. Senyum cerah tak pernah redup dari wajahnya, membuat kecantikannya berkali-kali lipat. Meskipun tampil sederhana dan tanpa make up, tidak justru mengurangi kadar cantiknya.


"Mau kemana, Sayang?" tanya mami Lusy saat keduanya sudah berada di mobil.


"Terserah Mami, deh. Rossa ikut aja, yang penting jalan-jalan," jawabnya masih dengan senyum manis. Mobil bergerak pelan keluar dari gerbang.


"Loh, kok terserah mami? Kan kamu yang mau jalan-jalan, mami gak tau. Mami mah ikut saja." Mami Lusy tertawa kecil merasa lucu.


"Mami ...." Merengek. Inilah kebiasaan Rossa saat bersama mertuanya. Kedekatan mereka yang sudah seperti ibu dan anak, membuat tidak ada sekat sedikit pun di antara mereka. Merengek manja dan menangis tanpa sungkan di depan sang mertua, sudah biasa bagi Rossa.


Mami Lusy tersenyum dan sedikit berfikir. "Belanja perlengkapan buat baby boy-nya gimana?" usul sang mertua.


"Aaaaaaa! Mau, mau, mau banget, Mi!" pekik Rossa sembari bertepuk tangan dengan girang.


Mami Lusy lalu meminta sopir untuk membawa mereka ke sebuah baby shop terbesar di kota tersebut. Sampai di sana, Rossa dan mami Lusy segera turun dan mulai menjelajah seisi toko itu dengan penuh semangat. Semua hal mereka belikan dalam jumlah yang tidak sedikit. Saking senangnya, Rossa dan sang mertua sampai lupa waktu makan siang.


Tiba-tiba ponsel Rossa berdering. Dilihatnya benda pipih persegi itu menampilkan nama Filen di sana.


πŸ“² "Halo, Fil?"

__ADS_1


πŸ“² "Hai, Sa. Lagi apa? Makan siang bareng, yuk!"


Rossa menoleh sejenak pada mertuanya. Mami Lusy yang memang sedang mendengar percakapan via telepon itu pun mengangguk.


πŸ“² "Boleh, Fil. Kebetulan aku lagi di luar sama mami."


Mami Lusy yang mendengar itu lantas menggoyangkan tangannya.


πŸ“² "Sama mami aku, boleh 'kan?"


πŸ“² "Boleh dong."


Sambungan telepon dimatikan setelah mereka sepakat bertemu di sebuah restoran. Rossa berulangkali mengajak sang mertua untuk ikut bersamanya. Namun, mami Lusy menolak keras untuk pergi. Meski dia tahu bahwa Alvino akan marah besar nantinya, tetapi entah kenapa sesuatu memberinya keberanian untuk membiarkan Rossa pergi berduaan dengan temannya.


Rossa pun mengalah. Ia memesan taksi untuk mengantarnya. Sedangkan mami Lusy memilih pulang setelah membayar semua belanjaan dan meminta pihak toko untuk mengantarkannya ke kediaman keluarga Dharmawan.


Dua jam berlalu sudah setelah mami Lusy kembali ke rumah. Mesin waktu menunjukkan hampir jam 3 sore, tetapi Rossa belum juga kembali. Dengan sedikit cemas, wanita paruh baya itu menunggu putrinya. Namun, bukan sang putri yang kembali melainkan putranya.


Entah harus senang ataukah khawatir melihat raut marah di wajah tampan anaknya.


"Di mana dia, Mi?" tanya Alvino dengan penuh emosi begitu masuk dan mendapati ibunya.


"Kenapa Mami biarkan dia pergi sendiri? Bukannya Vino minta Mami buat temani dia?" Tidak bisa terkendali sama sekali.


"Sekarang juga Mami telepon dia suruh pulang dengan segera!" titah Alvino penuh penekanan dan paksaan.


Tanpa melayangkan protes seperti hari-hari lainnya, mami Lusy yang juga sedang diliputi cemas segera menelpon.


πŸ“² "Ini sudah dalam perjalanan pulang, Mi."


Mendengar itu, Alvino bergegas naik menuju kamarnya dan langsung menuju balkon begitu tiba di sana. Ia berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya, sambil memandang ke bawah tepat di gerbang utama.


..._____πŸ¦‹πŸ¦‹ MR πŸ¦‹πŸ¦‹_____...


...Selanjutnya .......


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Hay, Hay πŸ‘‹ ketemu lagi 😍


Maap hari ini telat πŸ€­πŸ™ Gak papah yah, yg penting hadir 😁


Makasih buat yang setia menunggu 😘


jangan lupa tinggalkan like dan komen yah sayangΒ²ku πŸ₯°

__ADS_1


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425


__ADS_2