
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
"Apa yang Kakak bilang tadi? Tidak tega?"
Filen menatap tak percaya pada lelaki yang duduk di sampingnya. Suaranya mengecil diakhiri desa*han berat.
"Look at me!" pinta Filen dengan pelan.
Matanya mendadak perih dengan bagian ujung yang terasa penuh ingin meluap. Wanita itu berusaha mengendalikan emosinya tetapi tidak semudah keinginannya.
"Lihat aku, Kak!" pekiknya lagi.
"Ini, ini, ini ... ini semua apa hah? Apa yang Kakak lihat di tubuhku?" Filen berteriak sambil menunjuk beberapa memar di tubuhnya.
"Apa ini lelucon? Kakak pikir ini gak sakit, jadi buat bahan tertawa aja hah? Kakak menyepelekan sakit di tubuh aku, bahkan sakit hatiku, dan Kakak lebih tidak tegaan sama perempuan itu?" cecar Filen habis-habisan.
Wanita itu berkoar-koar di hadapan kakaknya. Felix hanya bisa diam, mendengarkan kemarahan sang adik.
"Ada apa dengan Kakak?" Lagi-lagi tanya Filen tak habis pikir. Tiba-tiba saja tawa wanita itu pecah melihat tak ada respon apapun dari kakaknya.
"I don't believe it! Sungguh aku tidak percaya ini. Kakakku sendiri lebih mengasihani orang lain daripada aku yang jelas-jelas adiknya?" Filen menggelengkan kepalanya dengan masih tertawa.
"Aku rasa Kakak sudah berubah, bukan lagi Kakakku yang dulu. Aku kecewa sama Kakak!"
Setelah mengucapkan itu, Filen membuka pintu lalu segera berlari keluar dari sana.
"Fi-Fil, Sayang! Dengerin kakak dulu." Alex turut membuka pintu dan mengejar adiknya.
"Kakak minta maaf, Sayang! Fil!" panggil Felix tetapi Filen tak menggubris.
__ADS_1
Gadis itu terus berlari, bahkan ia bersembunyi dari kakaknya. Felix yang tidak bisa menemukan jejak sang adik, berlari kembali ke arah mobil. Cepat-cepat ia mengendarai mobilnya keluar dari pelataran butik.
Setelah kepergian sang kakak, Filen keluar dari persembunyiannya dengan perasaan kecewa dan kesal bercampur aduk. Ia pun dengan cepat hendak merogoh ponselnya untuk memesan taksi, tetapi ….
"Sh*it! Ketinggalan lagi," umpat Filen. "Gimana dong?" Wanita cantik itu menjadi bingung sendiri.
Di tengah situasi yang dipenuhi marah, kesal, dan kecewa, otaknya tidak bisa berpikir dengan baik. Saat itu juga ia melangkah cepat menggapai tepian jalan, dan langsung menghentikan sebuah mobil yang melintas.
Begitu masuk, Filen tidak memperhatikan sekitarnya. Wanita itu memejamkan mata begitu mendaratkan tubuhnya ke kursi penumpang.
"Tega banget sih sama adik sendiri, bisa-bisanya mentingin kondisi orang lain." Dengan mata yang masih setia terpejam, tangannya bergerak naik memijat pangkal hidung.
"Breng*sek! Wanita sia*lan!" Lagi-lagi Filen mengumpat. "Seharusnya dia mati, biar suaminya yang angkuh itu merasakan apa yang aku rasakan, aaarrrrggggghhhh!"
Perasaan kesal yang melambung tinggi tak terkendali, menggerakkan kaki wanita itu hingga dengan spontan ia menendang bagian belakang kursi penumpang depan.
"Dia tidak akan pernah merasakan hal seperti yang Anda harapkan Nona, Filen!"
Suara berat dari arah depan menyentak wanita bertubuh ramping itu. Kelopak matanya langsung terbuka, kala suara itu menembus pendengarannya, seperti angin yang bertiup sepoi tetapi mengancam.
Filen yang saat itu duduk dengan gaya malas, bersandar seenak jidat, seketika langsung membetulkan posisinya dengan baik dan sedikit was-was.
"Si-siapa kalian?"
...*****...
Alvino baru saja keluar dari ruang meeting. Laki-laki itu berjalan terburu-buru dengan langkah lebar menuju ruangan kerjanya. Alex, sekretaris setia itu dengan siaga mengekor.
Baru saja membuka pintu ruangan, ponsel di saku jasnya berbunyi. Alvino dengan antusias merogoh benda pipih itu. Sedari tadi di ruang meeting, ponselnya sudah berisik mengganggu konsentrasinya.
Ia sempat melihat nama penelpon kala tadi, tetapi situasi tidak mengizinkan dirinya tuk menjawab. Melihat nama yang muncul di layar ponselnya, perasaan Alvino sudah tak karuan.
📲 "Apa yang terjadi?"
Alvino langsung pada intinya. Ia sudah tak sabar ingin mendengar laporan dari orang-orang, yang ia tugaskan untuk memantau pergerakan istrinya kala berada di luar rumah.
Baru saja menyodorkan sebuah tanya, tiba-tiba saja raut wajah tampan itu berubah warna. Merah padam yang terlihat, mewakilkan rasa marah yang menyembul mendadak.
__ADS_1
Namun, sepersekian detik, tampak senyum devil tercetak di wajahnya.
📲 "Good job! Tunggu sampai saya datang!"
Sambungan telepon itu pun dimatikan oleh Alvino. Ia tersenyum menatap ponsel di tangannya. Sejurus kemudian, mata elangnya mengamati Alex yang hanya berdiam dengan posisi masih tetap berdiri.
"Kau tahu kan, apa yang harus kau lakukan?" tanya Alvino pada sekretarisnya.
Alex mengangguk kecil. "Iya, Tuan!"
Ini masih jam kantor, dan mode formal masihlah diberlakukan. Dalam hal ini, Alex tidak akan bisa membantah apapun yang dijatuhkan Alvino kepadanya.
"Aku ingin memberikan penghargaan untuk wanita itu atas keberaniannya yang begitu besar, ha-ha-ha!" Alvino tergelak, sedangkan Alex menunduk dalam gemingan.
Entah mengapa, Alvino menangkap keganjalan dalam sikap tenang sekretaris sekaligus atasannya. Lelaki berlesung pipi itu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Selesaikan pekerjaanmu, dan satu jam lagi kita ke sana!" titah calon ayah mudah itu.
Terdengar desa*han kecil yang merembes pelan dari sela-sela bibir sekretaris setia itu. Ia menundukkan kepala dan segera kembali ke ruangannya.
Apalagi yang terjadi? Arrrrgggghhh, aku … aku kenapa? Ada apa denganku?
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hay semuanya 👋
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah 😍
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗