
...~ Happy Reading ~...
...*...
...*...
...*...
Langit malam di kota yang berbeda. Suasana rumah minimalis milik Jenn dan Kenn begitu sepi tak seceria yang sudah-sudah.
Beberapa hari belakangan ini, Jenn lebih banyak diam di kamar ketimbang bergabung bersama Kay dan ibu lalu berbagi cerita bersama. Adik ipar serta mertuanya memahami betul suasana hati gadis itu. Setiap bertemu dengan anaknya Fio, Jenn sering sekali merasakan ketidaksempurnaan sebagai seorang perempuan.
Suami, ibu mertua,adik iparnya selalu berusaha meyakinkan dirinya bahwa mereka tidak pernah memikirkan hal itu. Namun, Jenn tahu sebenarnya mereka juga ingin, sama hal dengannya. Hanya saja mereka menjaga perasaannya.
"Sayang," sapa Kenn. Terdengar lembut dan mesra seperti biasa. Sejak dulu dan tidak pernah berubah sampai sekarang.
"Hm." Fokus dengan jemari tangan yang terus menari di atas keyboard.
"Liat aku dong." Saat ini keduanya sedang di kamar. Sama-sama di tempat tidur, hanya saja Jenn terlihat sibuk dengan laptopnya, sedangkan Kenn berbaring di sampingnya.
Jenn tidak peduli dan terus melanjutkan aktivitasnya dengan papan keyboard.
"Ngomong aja, aku denger kok." Tampak acuh.
"Sayang, kamu gak bisa dong kayak gini sama aku. Salah aku apa? Dimana coba? Berapa kali aku bilang, mau ada anak atau gak, aku tetap cinta sama kamu. Aku gak peduli mau Tuhan kasih atau gak, bagi aku yang penting kamu. Aku gak peduli dengan yang lain. Terserah sama Tuhan mau kasih kepercayaan lagi atau gak, yang penting bagiku itu kamu. Kamu yang terpenting dalam hidup aku, Jenn." Kenn sudah terduduk di samping istrinya.
"Kamu gak peduli tapi aku peduli!" bentak Jenn dengan keras. Gadis itu bahkan menghentikan aktivitas mengetiknya dan meremas rambutnya frustasi.
Kenn terperanjat, ia tidak menyangka respon istrinya akan sebarbar ini. Pertama kali sepanjang hubungan mereka sejak pacaran sampai menikah kini, baru pernah Jenn membentaknya.
"Orang-orang gak ngomong ke kamu, mereka ngomong ke aku! Bukan kamu yang dihujat, tapi aku, kamu gak pernah denger komentar pedas orang-orang di luar sana tapi aku! Kamu gak malu, tapi aku malu!" pekik Jenn semakin menjadi.
"Aku tahu kalian semua bohong, bilang gak papah, gak maksa, tapi sebenarnya kalian juga sangat menginginkannya. Iya kan?" Masih berteriak.
Kenn meraih kedua tangan istrinya dan menenangkannya. "Hei, udah Sayang. Udah cukup, yah." Tetap menghadapi Jenn dengan sabar dan lembut.
"Gak! Kamu gak akan pernah bisa ngerasain gimana sakitnya jadi istri yang tidak sempurna untuk suami itu kayak apa. Kamu gak akan bisa ngerti." Jenn menangis dan masih berontak.
__ADS_1
Kenn membuang nafasnya kasar. "Aku gak tau lagi mau ngomong apa sama kamu. Gak tau mau jelasin kayak gimana lagi. Terserah kamu saja, Jenn." Kenn memilih bangkit dan keluar dari kamar dengan membanting pintu sedikit keras.
Brakkk.
Ia kaget mendapati sang ibu yang sudah berdiri di depan pintu.
"Biarkan dia, Bu. Mungkin dia butuh waktu untuk sendiri." Tahu bahwa ibunya pasti sudah mendengarkan perdebatan kecil mereka tadi. Kenn memilih tidur di kamar Kay. Ia meminta adiknya itu tidur bersama ibunya untuk sementara waktu. Kenn juga butuh waktu untuk sendiri, ia pun tidak ingin bercerita apa-apa pada ibunya.
Malam itu berlalu dengan kesunyian memenuhi rumah mereka. Jenn yang menangis sendirian di kamar miliknya dan Kenn. Sedangkan Kenn sendiri di kamar lain, sibuk memikirkan cara apa yang bisa ia lakukan untuk menyembuhkan lara istrinya. Ibu dan Kay pun memilih diam tak mau mencampuri.
Ini perdebatan pertama Jenn dan Kenn sepanjang pernikahan mereka. Kenn bingung dan kehabisan cara menghadapi Jenn yang tak kunjung melupakan luka kehilangannya. Entah sampai kapan ia harus bersabar menanti jawaban Tuhan atas doanya dan Jenn selama ini.
Awalnya ia tidak mau banyak berharap, karena baginya masalah anak tidak akan mempengaruhi cintanya untuk Jenn. Namun, nyatanya hal itu mengancam keharmonisan rumah tangga mereka. Kenn takut Jenn terpuruk dan berubah. Ia tak akan sanggup melihat wanita yang begitu ia cintai itu kehilangan keceriaannya. Jenn adalah segalanya, Jenn adalah cahaya dalam hidupnya. Kenn takut cahayanya meredup dan gelap seluruh dunianya. Karena itulah, Kenn mulai memupuk harapan yang besar pada Tuhan. Sama seperti istrinya.
...*****...
Dua hari kemudian.
Terhitung sudah tiga hari Rossa di rumah sakit, dan hari ini ia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.
Tentu saja gadis itu bahagia bisa pulang dan melakukan banyak hal di rumah. Apalagi, hubungannya dengan Alvino kini terbilang membaik. Rumah megah itu sudah pasti akan sangat menyenangkan tidak seperti penjara lagi baginya.
Rossa semakin tersenyum lebar. "Iya, Mi. Kan mau pulang ke rumah, masa gak seneng? Seneng dong," ucapnya riang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, dan semua barang Rossa sudah dikemas. Pak sopir dan seorang pelayan juga telah membawa semuanya ke mobil. Rossa, mami Lusi, dan Tuan Dharma hendak melangkah keluar dari ruangan perawatan dengan seorang perawat yang mendorong kursi roda Rossa, dikagetkan dengan Alvino yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Vin? Kok balik lagi?" tanya mami Lusy. Pasalnya lelaki itu sudah ke kantor sejak pagi-pagi sekali.
"Iya, Mi. Kan mau jemput istri Vino." Tersenyum senang melihat wajah cerah istrinya, lalu melangkah mendekati sang istri. "Biar saya saja." Meminta perawat lelaki yang mendorong kursi roda istrinya untuk berpindah. Kini Alvino yang mendorong istrinya keluar dan disusul yang lain.
"Kenapa repot-repot jemput, sih?" protes Rossa saat melewati koridor rumah sakit.
"Gak repot sama sekali, Honey. Kenapa? Kamu gak suka?" Menunduk mengecup puncak kepala Rossa.
Rossa memejamkan matanya untuk sesaat, setelah itu ia mendongak menatap wajah tampan suaminya.
"Suka, Kak." Tersenyum manis. Kedua orang tua mereka turut tersenyum melihat kebahagian kecil anak-anaknya. Ini langka, ini luar biasa. Seorang Alvino yang tampan, cuek, arogan, dingin, kini terlihat hangat dan lebih manusiawi.
__ADS_1
Pemandangan indah sepanjang lorong rumah sakit itu menemani langkah mereka hingga ke luar. Alvino membawa istrinya masuk ke mobil, dan mereka segera berlalu dari pelataran rumah sakit.
Alvino dan Rossa duduk di bangku penumpang, dengan mobil yang dikendarai Alex. Smentara itu, mami Lusy dan Tuan Dharma, kembali ke rumah dengan mobil yang dikendarai supir pribadi Tuan Dharma.
"Masih ingat kan, yang aku bilang malam itu?" tanya Alvino membunuh kesunyian di dalam perjalanan.
Rossa tampak berpikir. Ia tengah bersandar nyaman di dada bidang suaminya. Laki-laki itu tak membiarkannya menjauh barang sedikit pun. Ia mendekap erat tubuh padat berisi itu dengan posesif.
"Yang mana, Kak?" Mendongak bingung.
"Sudahlah, itu memang kejutan. Nanti saja sampai di rumah." Mengecup sekilas bibir mungil istrinya.
"Ih, Kak!" Mendorong wajah Alvino dengan tangannya. Ia malu dengan seseorang yang berada di balik kemudi, tapi Alvino tampak acuh tak peduli.
Alex hanya tersenyum lalu menggeleng tanpa berkomentar. Memang sudah begitu seharusnya.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hey yooookkkk, ketemu lagi 🤗
Apa kabar semuanya 😊 sehat selalu yah buat kita semua 🥰
Terima kasih buat kalian yang selalu menyempatkan diri buat mampir, dan yang penting thanks a lot buat kalian yang selalu meninggalkan like dan komen 🙏🥰 Thank you so much, guys 🙏
Buat yang baca, tapi tidak pernah like dan berkomentar, tolonglah, kerja samanya. Anda baca puas, saya yang cape mikir juga senang 😊 Bisa kan, guys?!? Jangan jadi pembaca yang pasif.
__ADS_1
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗
Ig author : @ag_sweetie0425