Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Pawang Buaya


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Hujan semalam belum sepenuhnya reda, menyisakan rintik-rintik yang menyambut hari. Mentari tak terlihat pagi ini, bersembunyi di balik awan yang masih menggelap.


Jam dinding telah menunjukkan pukul 08.00. Namun, rumah besar keluarga Dharmawan masih sepi. Hanya aktivitas para pelayan yang menghidupkan suasana seantero kediaman megah ini.


Nyonya besar rumah itu baru saja terbangun. Ia kaget begitu melihat arah jarum jam. Tiba-tiba saja sekelebat ingatan tentang semalam langsung menyambutnya. Wanita paruh baya itu bergerak cepat menyibak selimut dan turun dari tempat tidurnya.


"Mana Alvino, Pi? Papi udah liat keadaannya belum? Gimana keadaan dia sekarang?"


Bangun-bangun dengan rentetan pertanyaan, tanpa sapaan hangat seperti biasanya. Tuan Dharma yang sudah bangun lebih dulu, hanya geleng-geleng melihat tingkah istrinya. Pria tua dan berwibawa itu tengah duduk di sofa dengan koran di tangannya, ditemani secangkir teh hangat.


Tidak mendapatkan respon apa-apa dari sang suami, mami Lusy dibuat jengkel.


"Pi!" pekik mami Lusy. "Kok diem aja? Mami tuh Lagi nanya, gimana keadaan Vino?" lanjut mami Lusy masih dengan pertanyaan yang sama.


Tuan Dharma menurunkan kaca matanya, lalu menarik nafas sejenak.


"Sini duduk dulu, Mi." Balik memanggil istrinya sambil menepuk sisi kosong di sampingnya.


Mami Lusy berdecak kesal lalu meraih ponselnya. "Papi gimana sih? Gak ada khawatir-khawatirnya sama anak."


Melihat sang istri yang hendak berjalan keluar kamar, suara bariton pria berusia senja itu segera mencegahnya.


"Anakmu baik-baik saja, Mi. Dia bukan anak kecil lagi. Mami lupa kalau dia punya istri?" Tuan Dharma berbicara dengan santai dan tetap tenang.


Ah, iya yah … dia pasti jauh lebih baik bersama istrinya.


Wanita paruh baya tersenyum kecil. Ia menyadari bahwa, putra semata wayangnya itu kini telah bahagia. Bukan lagi Alvino dulu, yang senang berteman dengan sepi. Meskipun begitu, ia meneruskan langkahnya menuju arah pintu.


"Mi, udalah, Alvino sekarang lebih butuh mantu kita dari pada mami." Perkataan sang suami membuat mami Lusy mendengus.


"Mami juga tau." Menjawab ketus lalu memutar handle pintu dan segera berlalu dari sana, meninggalkan suaminya.


Masih menggunakan piyama, mami Lusy keluar dan memeriksa keadaan rumah megah tersebut.


"Kok sepi, belum pada bangun kali yah?" Bergumam sendiri.


Wanita cantik berusia senja itu melangkah ke ruang makan, mungkin saja ada Alvino dan Rossa di sana yang tengah sarapan, pikirnya demikian. Namun, nihil ternyata. Ia pun memeriksa keadaan dapur, jangan-jangan ada Rossa di sana yang menyiapkan sesuatu untuk Alvino. Tidak juga.


"Hm, pasti masih tidur." Tidak ingin pusing menduga-duga, mami Lusy memilih melihat langsung ke kamar.

__ADS_1


Segera ia melangkahkan kakinya menuju kamar Rossa. Begitu tiba di depan pintu berwarna broken white itu, mami Lusy berdiri sejenak. Ia bingung, antara ingin mengetuk ataukah langsung membuka saja pintunya. Jika diketuk, takut mengganggu kalau keduanya sedang tidur. Jika langsung dibuka, takut terciduk kalau-kalau mereka sedang bermesraan misalnya.


Ha-ha-ha ….


Wanita paruh baya itu membayangkan dan merasa lucu sendiri.


Didorong rasa penasaran, ia langsung membuka pintu dan melongokan kepalanya. Sepi.


Tuh, kan? Masih tidur ….


Mami Lusy tersenyum sambil menarik nafasnya lega. Pandangannya langsung jatuh pada sepasang suami-istri yang tengah tidur dengan posisi yang lucu tetapi terlihat romantis. Alvino yang posisinya agak ke bawah berhadapan dengan perut buncit istrinya. Posisinya seolah memeluk bayi mereka dengan posesif. Lelaki itu menyandarkan kepalanya di perut Rossa, terlihat begitu lucu dan menggemaskan. Di samping itu, posisi Rossa terlihat imut saat memeluk kepala Alvino.


Tidak ingin momen manis itu terlewat begitu saja, mami Lusy yang memang sedang membawa ponsel, langsung berinisiatif mengabadikan pemandangan indah tersebut.


Cekrek!


Cekrek!


Dua kali mami Lusy menjepret pose imut anak dan menantunya, layaknya maternity shoot, menggunakan benda pipih dengan logo Apple pada bagian belakang. Ia tersenyum bahagia melihat hasil jepretannya sendiri.


"Manis sekali," ucapnya dan langsung bergegas keluar dari sana.


Saat hendak kembali ke kamarnya, Mami Lusy dikagetkan dengan suara Alex yang menyapanya.


"Selamat pagi, Tante!"


Karena tahu putranya masih tidur, mami Lusy mempersilahkan Alex agar duduk sebentar di ruang tengah.


"Sarapan aja dulu kalo gitu, Lex. Biar sambil nunggu Vino-nya bangun," kata mami Lusy lagi. Mereka kini sudah di ruang tengah.


"Hah? Vino masih tidur dong, Tan?" Alex kaget. Pasalnya ini sudah jam 8 lewat.


"Iya, mereka masih pada tidur." Mami Lusy mengangguk.


"Astaga naga dragon ball." Alex menepuk jidatnya. "Pantesan betah tidur sampe jam segini, sama pawangnya sih." Sekretaris Alvino sekaligus temannya itu berdecak, antara kesal dan kagum.


"Pawang? Emang anak saya hewan buas?"


Bukan suara mami Lusy. Itu suara Tuan Dharma yang baru saja bergabung. Pria berusia senja yang selalu penuh wibawa itu lalu duduk di samping sang istri.


"Selamat pagi, Om!" sapa Alex memberi salam. Ia sedikit menunduk sebagai tanda hormatnya pada lelaki yang sudah seperti ayahnya. Papinya Alvino hanya mengangguk.


"Maafkan Alex, Om. Ta-tadi keceplosan, gak ada maksud apa-apa kok,Om," ucap Alex sambil nyengir. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kedapatan tengah bergosip tentang atasannya.


"Bukan masalah, Lex. Om pikir juga begitu." Mami Lusi sontak menoleh pada suaminya dengan kening yang berkerut. "Kamu pasti tau, Om juga tau, kita semua tau kalau dia kan mantan penjahat wanita. Gak ada bedanya sama predator." Seketika mami Lusy melotot suaminya dengan tajam. "Om setuju dengan statement kamu. Pas ketemu pawangnya langsung jinak, gak memangsa lagi dia." Kedua lelaki berbeda generasi itu seketika tertawa kompak.


"Kalian, mami kasih tau sama Vino n'tar." Ancaman yang membuat Alex bergidik.


"Ja-jangan, Tante. Kita sering kerja sama loh, Tan. Tante lupa yah? Wah, parah sih kalo gini. Mentang-mentang impian Tante udah tercapai, aku dilupakan." Alex menggeleng pura-pura kecewa.

__ADS_1


Mami Lusy langsung tertawa mengingat usahanya yang selalu ingin mendekatkan anak dan menantunya. Alex selalu menjadi partner kerja sama yang baik dalam memuluskan rencananya.


"Yang lalu sudah berlalu, sekarang gak lagi." Wanita tua itu masih saja tertawa.


"Tapi … tante juga seneng loh, dia seperti buaya yang ketemu pawang." Ketiga orang itu akhirnya tertawa bersama. Tiba-tiba saja tawa mereka terhenti.


"Ssttt, pawang buayanya datang," ucap mami Lusy.


Tidak ada lagi tawa melainkan suara cekikikan yang terdengar menggelitik telinga.



Noh, pawang buaya 😅 Peliharaannya masih dikurung 🤭


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Yang mencintaimu bukan hanya aku....


...Tapi, yang tetap mencintaimu di saat kamu mencintai orang lain, hanya aku!...


..._Rossa Glyn_...


...[ig - cukup.aku.saja]...


...🦋...


...Selanjutnya …....


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Halohaaaa 👋 Ketemu lagi 😊


Jangan lupa apa?


Like dan komen dong pastinya 😁


Thanks buat yang udah mampir 🙏


Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗


Ig author : @ag_sweetie0425

__ADS_1


__ADS_2