
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Felix beringsut mundur dari posisinya sembari memegang sebelah rahang yang terkena bogem.
"Kak!"
Filen kaget dan langsung memekik. Perasaan takut mulai menguasainya, bersaing dengan rasa benci yang lama bersemayam dalam jiwanya. Namun, ia tak memiliki secuil saja keberanian dan kesempatan untuk membalas semua rasa sakitnya.
"Apa salah kakakku?" Pertanyaan itu lolos karena tekanan dari dalam jiwanya. Tanpa ia sadari, pertanyaan kecil darinya memicu amarah Alvino yang sudah ditahan sejak tadi.
Bugh!
Brakkk!
Kembali lelaki pemarah itu menghadiahkan tanda yang sama di rahang Felix yang sebelahnya lagi. Tak cukup sampai di situ, sebuah tendangan kuat membuat tubuh Felix terhempas ke belakang. Meja dan beberapa kursi pengunjung menjadi hancur bergeser dari tempatnya.
Alvino mendekat lalu dengan cepat mencengkram kerah kemeja yang dipakai Felix.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" tanya Alvino dengan nada pelan tapi penuh penekanan. Giginya bahkan sampai bergemeletuk menahan marah yang meluap-luap.
Alex menggeleng dan pukulan berikut tepat mengenai perutnya. Erangan kesakitan meluncur dari mulutnya.
Filen yang melihat kakaknya tak berdaya, mencoba berpikir untuk mencari bantuan. Ia pun bingung, kenapa kafe yang mereka datangi ini mendadak sepi. Tadi sebelum adanya keberadaan dua pria menakutkan itu, beberapa pengunjung masih terlihat di sana. Meski tak lama setelah itu kafe menjadi sepi tanpa seorang pun selain mereka. Dua barista di sana pun tak lagi terlihat. Semua seolah menghilang.
Wanita itu menganggap bahwa, menghentikan Alvino sendirian, sama saja menaruh samurai pada leher. Hanya dengan satu sentuhan kecil, sayatan penuh darah akan menodai raga.
Rossa! Ya, dia ….
Sebuah ide melintas di kepalanya, dengan refleks mengajak kakinya untuk segera berlari keluar. Namun, sebelum hal itu dapat ia lakukan, tangan besar Alex sudah lebih dulu mencegahnya cepat.
"Mau kemana?" Tatapan tajam Alex menahan lajunya nafas wanita itu sesaat.
"Duduklah dengan tenang di tempatmu. Kakakmu tidak apa-apa, itu hanya perkenalkan kecil dari Tuan Dharmawan." Seringai horor tercetak di wajahnya.
Otak licikmu itu sudah bisa terbaca, wanita bodoh.
"Lepas," pekik Filen. Tanpa takut ia membalas tatapan Alex tak kalah tajam.
__ADS_1
Alex terkekeh. "Ok, tapi duduk di tempatmu, dan jangan bergerak sedikitpun." Ancaman yang tak bisa dianggap sepele. Wanita itu lalu duduk dengan tenang seperti yang diperintahkan sekretaris Alvino.
"Benar kau tidak tahu apa kesalahanmu?" Wajah Alvino yang penuh amarah masih saja sama tak meredup.
"Dengar ini baik-baik, Tuan Felix Airlangga." Alvino mengeja nama keparat itu dengan penekanan. "Jangan coba-coba mengganggu milikku, jangan pernah mendekati istriku. Hari dimana kau mengantarnya pulang, itu yang pertama, dan hari ini untuk yang terakhir. Kesabaranku tak bisa terkontrol, jadi menjauhlah dari istriku, lupakan rencana jahat yang tersimpan di sini." Menunjuk otak Felix dan mengetuknya beberapa kali menggunakan telunjuk.
"Tadi itu … hanya teguran kecil. Ingatlah setiap perkataanku dengan baik. Aku bisa melakukan apa saja lebih dari ini, yang tidak bisa kau bayangkan sama sekali." Kecaman keras.
Dua kali tepukan pelan dari sebelah telapak tangannya menempel di pipi Felix. Setelah itu dengan tangan yang lain, ia melepaskan cengkeramannya pada baju lelaki itu dengan dorongan cukup kasar.
"Hah." Alvino sedikit menghela nafasnya. Ia merapikan kembali jas yang masih membalut tubuhnya.
Langkahnya sudah hampir berpindah, tetapi ekor matanya menangkap cepat sosok cantik yang masih duduk dengan tenang di sana.
Alvino berbalik arah. Tanpa kelembutan, ia menunduk lalu mencengkram pipi wanita itu dengan kuat. Suara ringisan yang terdengar hanyalah angin lalu baginya.
"Buang jauh niat burukmu mendekati istriku. Sehelai saja rambutnya kau sentuh, duniamu akan hancur lebih dari sebelumnya. Kau paham Nyonya Wijaya?" Nadanya pelan tetapi tajam seakan merobek kuping Filensya.
Wanita itu tersentak dalam rasa sakitnya. Di-dia mengenalku? Ja-jangan-jangan ….
Bola mata yang membulat memerah dengan sedikit genangan di dalam sana, menjelaskan semuanya pada Alvino. Perempuan di depannya tengah menahan marah dan pedih. Laki-laki itu menyunggingkan senyum sinis.
"I know your goal, *****! Menjauhlah dan menghilang dengan perlahan."
Alvino melepas tangan dari pipi Filen, kemudian mengebaskannya. Seolah menghempas kotor yang menempel. Ia menegakkan kembali punggungnya, tersenyum jahat menatap bergantian dua makhluk yang terlihat menyedihkan di sana.
Tidak lama setelah kepergian Alvino, entah dari mana munculnya, tiba-tiba saja salah satu barista sudah ada di sana. Alex tampak berbicara sebentar dengan orang itu, lalu kemudian menyusul atasannya.
"Aaarrrrggggghhhh, breng*sek, baj*ingan, ib*lis!" teriak Filen dengan berbagi umpatan tak terkontrol.
Wanita itu menjambak rambutnya frustasi.
"Fil, Filen! Hei, sabar, ini di tempat umum. Tahan emosi kamu. Okay?" Felix mencoba menenangkan sang adik.
Meski kesakitan, tetapi ia menahannya demi tidak terlihat lemah di depan orang lain. Tangannya berulang kali mengusap punggung sang adik. Deru nafas yang memburu wanita itu perlahan teratur dan tenang.
"Secepatnya, Kak. Secepatnya aku akan membalas perbuatannya hari ini dan di masa lalu. Mereka akan merasakan apa yang aku rasakan," ucap Filen dengan sungguh. Ucapan yang lebih kepada janji itu, telah terpatri dalam hatinya sejak lama.
"Iya, Sayang. Itu pasti, sekarang kita pulang dulu. Kita pikirkan rencana selanjutnya." Felix tampak lebih tenang dari pada adiknya. Meski tak dipungkiri bahwa ia juga sama menahan gejolak amarah yang tak terlampiaskan.
Di luar sana, Alvino membuka pintu mobil milik ibunya dan meminta Rossa berpindah ke mobilnya saja.
"Kak."
__ADS_1
"Hei, Honey. Ikut sama aku aja yah." Rossa menatap ibu mertuanya sejenak, begitu mendapat anggukan, ia segera turun dan bertukar mobil sambil dituntun sang suami.
"Loh, Kak Alex? Hempphh …." Ucapannya tertahan dengan gerakan lembut bibir Alvino yang membungkamnya.
"Jangan menyebut nama laki-laki lain. Siapapun dia, bibir ini hanya boleh menyebut namaku." Mengusap basah di bibir ranum Rossa menggunakan jemarinya.
Anggukan patuh dari Rossa sebagai jawaban atas permintaan suaminya. Ia menatap netra Alvino begitu lekat dan lama.
"Kenapa?" Kening Alvino mengkerut.
"Apa semuanya baik-baik saja?" Ragu dengan sikap tenang Alvino. Perasaannya mengatakan bahwa sesuatu telah terjadi di dalam sana. Apalagi dengan Alex yang belum terlihat. Rossa khawatir suaminya menyakiti Felix yang dengan sengaja memicu pertengkaran di antara mereka beberapa waktu lalu.
"Jangan pikirkan apapun. Ingatlah bahwa semua yang aku lakukan hanya untuk memastikan kalian berdua tetap aman." Mengelus perut besar istrinya. Tidak lupa satu kecupan manis di kening Rossa sebelum akhirnya ia menjalankan mobil dan meninggalkan area cafe.
Entah ketakutan apa ini ….
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hay semuanya 👋 ketemu lagi 🤗
Jangan lupa like dan komen yah 😍
Terima kasih buat yang selalu setia menunggu 🙏
Sampai jumpa lagi di episode berikutnya 🤗
Ig author : @ag_sweetie0425
_______________________
Oh iya, guys ... kalau ada waktu, mampir yah di karya teman aku yang satu ini. Atau jika lama nungguin bab selanjutnya, sabilah mampir dulu 😍
__ADS_1