
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Rossa telah selesai mengikuti kelas senam hamil, ia langsung bergegas menemui temannya. Siapa lagi kalau bukan Filen.
Setelah membaca pesan dari temannya pagi tadi, Rossa sudah menghubunginya dan mengatur pertemuan mereka setelah ia mengikuti senam hamil.
"Sudah, Sayang?" tanya Mami Lusy begitu Rossa keluar dari ruang ganti.
Rossa mengangguk. "Udah, Mi. Yuk!" ajaknya.
Kedua wanita berbeda generasi itu lalu bergegas keluar dari studio menuju parkiran.
"Mi," sapa Rossa saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Ya, ada apa, Nak?" tanya sang mertua santai.
"Rossa boleh izin gak sama Mami?" Agak ragu tuk bertanya.
Ibu mertuanya mengangguk dengan masih tetap bersikap santai.
"Boleh, tapi izin apa dulu, nih?"
Rossa mendekat lalu menggenggam tangan mertuanya.
"Rossa mau ketemu Filen, tapi kakak gak ngebolehin." Wajahnya memelas. "Dia selalu minta ketemuan, tadi Rossa udah janji buat nanti ketemuan hari ini. Kebetulan kakak gak ada. Boleh yah, Mi. Rossa kangen, bosen di rumah terus." Memohon.
Mami Lusy tak langsung menjawab. Ditatapnya wajah sang menantu untuk beberapa detik.
"Ok, mami izinin, mami temenin. Cuman kali ini, yah. Dan … gak pake lama."
Rossa kegirangan diberi satu kali lagi kesempatan dari mertuanya.
"Siap! Makasih, Mi." Memeluk ibu mertuanya dengan bahagia.
Lima belas menit setelah itu, sopir menghentikan mobil di depan sebuah cafe. Tadinya Filen meminta agar mereka bertemu di sebuah pusat perbelanjaan, tetapi Rossa yang tidak ingin kelelahan memilih bersantai saja di cafe.
"Mana temannya?" tanya mami Lusy.
Filen belum terlihat di sana. Rossa mengedarkan pandangan dan tidak melihat adanya wanita yang beberapa waktu lalu dekat dengannya. Ia mengambil ponsel lalu mencoba menghubungi.
"Bentar lagi sampai katanya, Mi."
Mami Lusy mengangguk kemudian menuntun menantunya untuk duduk.
"Capek?"
Rossa tersenyum kecil. "Sedikit, Mi."
__ADS_1
Beberapa menit setelah itu, mami Lusy beranjak ke toilet. 2 menit kemudian, tampak seorang wanita cantik berjalan masuk dari depan sana dengan seorang pria di belakangnya.
"Rossaaaa!" teriak Filen begitu melihat temannya. Dengan sedikit berlari, ia menghampiri Rossa.
Duh, kenapa dengan kakaknya lagi sih? Masalah lagi nih.
Rossa sedikit tak suka dengan kehadiran lelaki yang tak lain adalah kakaknya Filen. Dia sudah mewanti-wanti hal ini dengan menanyakan langsung pada Filen.
Katanya n'tar datang sendiri, gimana sih? Mana ada mami lagi.
Rossa celingukan ke sana kemari dengan khawatir.
Sepertinya aman, gak ada mata-matanya kan?
Ia sekarang tahu bahwa, setiap langkahnya akan selalu diikuti anak buah suaminya. Namun, setelah memastikannya ia yakin sekali tidak ada mereka di sana. Rossa menghela nafasnya lega.
"Aaa, kangen banget." Rossa bangkit berdiri lalu keduanya berpelukan sebentar.
"Sama, aku juga," jawab Rossa sambil melepas pelukannya. Bumil berparas ayu itu kembali duduk. Ia pura-pura tidak melihat lelaki di belakang Filen.
"Udah lama?"
"Hm, lumayan," jawab Rossa dengan mata yang tertuju ke arah toilet.
"Maaf, udah buat bumil cantik ini menunggu." Filen menarik kursi lalu duduk di sebelah Rossa.
"Never mind." Senyum kecil menghias bibir ranumnya.
Seseorang merasa terabaikan. Ia tahu bahwa Rossa sudah melihatnya, tetapi gadis itu berpura-pura tidak melihat. Tiba-tiba saja banyak rasa yang berbaur bercokol dalam benaknya. Seringai tipis terlihat samar di wajahnya.
"Hai, cantik," sapanya.
"Eh … hai, Kak. Ikut juga? Maaf gak liat." Pura-pura kaget dengan sedikit berbasa-basi.
Layaknya makhluk transparan. Ya, ya, seperti itu kau di mataku.
Rossa masih kesal. Kesal karena kehadiran lelaki itu yang membuat Alvino marah besar beberapa waktu lalu.
"Sorry, aku benar-benar gak liat. Silahkan duduk, Kak."
"Ah, aku pikir tidak dibolehkan bergabung di sini." Menarik kursi di depan Rossa agar bisa duduk berhadapan dengan bumil berparas ayu itu.
Rossa melirik Filen. Wanita cantik itu tertawa kecil. Ia tahu bahwa Rossa tidak nyaman dengan kehadiran kakaknya. Masalah Rossa yang masuk rumah sakit waktu itu juga dia tahu. Hanya sengaja tidak mengungkit saja.
"Tadi pas sampai di depan, gak sengaja aku liat Kakak di jalan seberang. Habis meeting katanya, ya udah aku ajak sekalian kesini. Gak papah kan?" terang Filen yang sebenarnya hanya alasan.
Rossa mengangguk kecil. "Oh, ya, gak masalah kok." Memaksakan senyum. "Btw, mau pesen apa? Pesan aja, aku yang bayarin," tawarnya kemudian.
"Kamu sendiri apa? Dari tadi tapi gak pesan apa-apa?"
"Aku gak dibolehin makan dan minum di luar. Dimarahin suami nanti. Gak bisa sembarangan makan lagi kaya sebelumnya." Rossa tersenyum kecil lalu mengeluarkan persediaan minum dari tasnya. Jus buatan sang mertua. "Nih punyaku ada. Stok bekal yang lain pun ada di mobil, lagian belum lapar juga."
Yang dikatakannya bukanlah sebuah dalih. Memang faktanya seperti itu. Kemanapun ia pergi, mobil yang mengantarnya akan berubah menjadi minimarket berjalan. Semua keperluan snack, cemilan, susu, air mineral, segala keperluan ibu hamil lengkap di dalam. Belum lagi bekal yang dimasak sang mertua juga turut serta dibawa kemana-mana. Rossa menurut saja, ia tahu bahwa semua yang dilakukan untuknya adalah bentuk kasih sayang mereka.
"Oh, udah baikan sama suami?" Filen keceplosan. Seharusnya ini menjadi rahasia.
Rossa mengernyit, menatap wanita di sampingnya dengan perasaan sedikit curiga. Apalagi ia dengan jelas menangkap nada ketidaksukaan dalam suara Filen.
"Memangnya aku pernah cerita kalo lagi berantem sama suamiku?"
__ADS_1
Filen salah tingkah. "Ma-maksudnya … maksudnya tadi kamu bilang makan di luar dimarahin, sekarang gak lagi kan?" elaknya.
Rossa masih diam menatapnya lama. Baik Filen maupun kakaknya mendadak bodoh kehilangan akal.
"Ah, mungkin dia tidak fokus. Dia sedang ada masalah jadi …."
"Are you okay?" tanya Rossa pada Filen. Ia menghentikan ucapan lelaki di depannya. Kecurigaannya berubah menjadi khawatir.
"Em, yah, i'm okay! Aku gak papah."
Filen memaksakan senyum. Dalam hati ia merutuki kebodohannya sendiri. Ia melirik kakaknya, dan gelengan kecil sebagai tanda kekecewaan yang ia dapatkan.
Lelaki itu lalu memesan minuman untuknya dan sang adik, sekedar menetralkan suasana.
Entah kenapa, perasaan Rossa mendadak tak enak. Sesuatu menggelisahkan jiwanya. Mata indah itu lagi-lagi menatap ke arah toilet.
Mami kok lama banget yah? Apa ….
Belum selesai membatin, sebuah suara yang sangat ia kenal terdengar lembut memanggilnya, menyentak Rossa dari kegelisahannya.
"Honey!"
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Halo semuanya 👋 Aku kembali lagi 🤗😍
Apa kabar? I miss you so much, guys 🤗😘
Ada yang kangen gak nih? 😅
Ah, liburan udah cukup. Saatnya berkutat lagi bersama dunia halu 😂😂
Terima kasih buat kalian yang selalu setia menunggu 🙏🤗
Jangan lupa tinggalkan like dan komen yah. Kalo boleh, vote atau kembang juga boleh 🤭
Jangan pelit loh, mudah-mudahan otor makin rajin setelah ini. Amin 😇
Ya udah, sampai ketemu lagi di episode berikutnya 🤗
Ig author : @ag_sweetie0425
___________________
Ah, aku punya rekomendasi bacaan juga nih, kalo lama nunggu up, boleh mampir di karya teman-teman aku di bawah ini 👇:
__ADS_1