
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Gulita kini membawa serta bala tentaranya menduduki singgasana semesta. Rossa masih setia mengurung diri di kamar. Perkataan Alvino masih terngiang dengan jelas berulang kali di telinganya.
Suara berat yang tajam memperkatakan hal itu, bagaikan alarm yang setiap saat menggemakan luka dan kekecewaan. Menyadarkan Rossa setiap detik, bahwa sekeras apapun dia bertahan, hati lelaki itu tidak akan pernah luluh.
Gadis itu terlalu sadar diri. Sadar bahwa sampai kapanpun, ia tidak akan pernah bisa seperti Jenn yang dengan mudah mendapatkan hati seorang Alvino.
Bagaimana, kalau aku tidak bisa bertahan di sampingnya lagi, beb? Jika nanti itu terjadi, bencilah padaku, karena aku tidak bisa menepatinya. Terlalu berat rasanya ….
Rossa mengingat permintaan sahabatnya waktu itu.
Sama seperti Alvino, setiap hal yang terjadi diantara pasangan suami-istri ini, ujung-ujungnya selalu saja terhenti pada sosok yang sama-sama berarti bagi keduanya.
Jenn. Nama itu seakan tidak pernah bisa hilang dari hidup mereka. Bagaimana bisa? Dia sahabat baik sekaligus kesayangan Rossa. Sedangkan untuk Alvino, satu nama itu masih menempati hatinya hingga kini.
Rossa beranjak dari ranjang saat suara ketukan di pintu kamar berbunyi. Ia lalu menuju pintu dan membukanya. Seorang pelayanan berdiri di sana dengan membawakan makan malam untuknya.
"Terima kasih, Bu!" Hanya senyum samar yang ia tunjukkan untuk pelayan wanita itu setelah mengambil alih nampan. Kembali ia menutup pintu lalu segera memulai makan malamnya.
Sementara itu di ruang makan, hanya tampak sepasang suami-istri paruh baya yang tengah menikmati makan malam mereka. Suasana sunyi seperti hari-hari sebelumnya kembali terasa.
"Di mana mereka, Mi? Kok pada diem di kamar masing-masing?" tanya Tuan besar Dharmawan pada istrinya.
"Kayak gak tau aja, Pi. Biasalah ...," jawab istrinya santai.
Lelaki tua itu mengerutkan kening menatap istrinya heran. Ada apa dengan istrinya? Bicaranya seperti tidak terjadi apa-apa, tidak seperti hari-hari sebelumnya. Begitu yang terlintas di pikirannya.
"Ada apa, Pi?" tanya mami Lusy.
"Anak-anak bertengkar kok santai sekali? Tumben, gak kayak biasanya sibuk memarahi putramu, atau sibuk menghibur putrimu. Ini malah keliatan senang sekali. Ada gerangan apa? Atau udah gak peduli lagi sama mereka? Udah gak sayang lagi sama putrimu?" cecar Tuan Dharmawan.
"Sembarangan kalo ngomong, Pi!" Melotot pada suaminya.
"Tadi mami sudah meluapkan semua emosi pada anakmu yang gengsian itu." Wanita itu tergelak sendiri mengingat setiap pengakuan anaknya.
"Mami kenapa? Kok malah ketawa habis marahin anak?" Merasa aneh dengan sikap istrinya yang tidak biasa.
"Papi kalau denger apa yang dia bilang tadi, Papi pasti langsung terbahak. Mami aja yang marah-marah hampir ketawa tadi,tapi tahan takutnya dia malu," ucap mami Lusy.
Wanita itu lalu menceritakan kejadian tadi siang. Mulai dari Alvino yang pulang lebih awal, dan itu bersamaan dengan Rossa yang juga baru pulang. Semua sikapnya yang berbeda dari biasanya, tidak menolak saat Rossa yang menyiapkan makanannya, juga perkataannya yang seolah ingin membatasi istrinya, tetapi terkesan menyakiti. Hingga pengakuan perdana yang diakuinya dengan sadar.
__ADS_1
Uhuk, uhuk!
Tuan Dharma terbatuk-batuk saking kagetnya.
"Hati-hati, Pi!" Mami Lusy sigap menyodorkan segelas air putih. "Kan, kaget gak percaya."
"Sungguhkah, Mi?" Istrinya mengangguk. Tiba-tiba pria tua itu tergelak. "Mulai posesif, tapi gengsi buat nunjukin." Masih tergelak.
"Tenang aja, Pi. Kalau sampai dia tidak mau mengakuinya di depan Rossa, mami sudah punya rencana untuk itu." Tersenyum memikirkan rencananya.
"Apa itu?"
"Rahasia!"
...*****...
Di kamar Alvino.
Di atas tempat tidur king size, tampak lelaki pemilik kamar tersebut tengah duduk sambil menggeledah sebuah tas selempang berukuran mini. Semua isi yang terdapat dalam benda cantik tersebut, dikeluarkan dan dihamburkan di atas ranjangnya begitu saja.
Siang tadi saat baru saja selesai makan dan hendak meninggalkan meja, ia melihat seorang pelayan membawakan tas milik Rossa yang ditinggalkan di dapur, saat menyiapkan makanan untuknya. Ia lalu meminta tas itu dari pelayan dan membawakannya.
Alvino mulai memeriksanya satu per satu. Tidak seperti isi tas milik kebanyakan wanita lain, yang selalu membawa perlengkapan make up, cermin kecil, atau minimal lipstik dan hal-hal lainnya. Tidak! Isi tas bumil satu itu hanya ada sebuah dompet kecil, ponsel, tisu, dan yang terpenting baginya ialah minyak angin.
Hal pertama yang di ambil Alvino adalah ponsel. Penasaran, laki-laki itu mulai membuka benda pipih yang tidak terkunci sama sekali. Tidak ada hal-hal yang aneh di sana. Isi pesan hanya satu. Itupun dengan Filen saja. Kontak pun hanya beberapa. Tidak ada nama kontaknya di sana.
"Cih, kontak pelayan saja di-save, suami sendiri gak." Entah dia sadar atau tidaknya, yang jelas lagi-lagi ia sendiri mengakui bahwa dirinya suami dari gadis itu.
Jemarinya bermain lincah pada layar ponsel, mencetak nomor serta namanya di sana. Selesai dengan itu, ia hendak memeriksa yang lain lagi dan matanya tertuju pada dompet.
"Buka gak yah?" Bertanya pada diri sendiri. Sempat ragu membuka privasi istrinya.
"Mumpung gak ada orangnya, istri sendiri juga."
Lagi-lagi kan? Andai ada orang di sana dan mendengarnya. Ragu-ragu Alvino membukanya.
...*****...
Malam hampir larut, Rossa yang hendak tidur tiba-tiba berniat ingin mengirim pesan untuk teman barunya, Filen. Ia mencari ponselnya ke sana kemari tetapi tak ditemukan.
"Di mana yah?" Mencoba mengingat-ingat "Ah, iya masih di dalam tas. Tapi …."
Bersamaan dengan itu, suara ketukan pada pintu menarik langkahnya tuk segera membuka.
"Maaf mengganggu waktu anda, Nona. Hanya ingin memberikan ini, tadi ketinggalan di dapur."
Seorang pelayan mengembalikan tas miliknya.
"Kebetulan sekali aku sedang mencari ini. Makasih ya, Bu!" Selalu tersenyum meski matanya tampak bengkak karena tangis.
__ADS_1
Ia kembali menutup pintu setelah kepergian pelayan tadi. Cepat-cepat ia mengambil ponsel dan mengirimkan pesan untuk temannya. Tanpa menyimpan tasnya terlebih dulu, Rossa langsung merebahkan tubuh dan tertidur.
...*****...
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Alvino sudah bersiap-siap untuk ke kantor. Sang ibu terheran-heran melihat hal itu. Pasalnya, ini baru jam 7. Sedangkan biasanya sekitar jam 8 ke atas baru ia ke kantor.
Keanehan apalagi ini?
Batin mami Lusy. Wanita itu lalu melangkah menuju ruang makan dan menemani putranya sarapan. Tidak ada obrolan lagi kali ini. Wajah Alvino datar dan sulit ditebak.
Sesudah menyelesaikan sarapannya, Alvino pamit pada sang ibu dan langsung berlalu pergi. Baru beberapa langkah ke depan, ia kembali berbalik dan menatap ibunya.
"Oh, ya, Mi. Pesan aku hari ini, jangan memberinya izin ke manapun, atau melewati pintu rumah ini sedikit saja!" titahnya dan langsung berlalu pergi.
"Kenapa? Suka-suka mami dong, gak ada urusannya sama kamu," sanggah mami Lusy dengan santai. Sengaja memancing anaknya.
Alvino berbalik sekali lagi dan menatap malas pada ibunya.
"Jangan mulai lagi, Mi!" Hanya itu yang terucap, dan ia pun benar-benar berlalu pergi tanpa berbalik lagi.
Lihatlah, pi. Mulai posesif dia, tapi gak mau nunjukin. Kita lihat saja nanti, sampai kapan dia akan menahannya.
Wanita paruh bayah itu tertawa bahagia dalam hati.
Alvino mengendarai mobilnya sendiri pagi ini. Sampai di depan gerbang, penjaga dengan sigap membukakan gerbang megah itu. Namun, Alvino tidak juga bergegas melaju keluar. Ia menurunkan kaca mobilnya, dan memanggil dua penjaga tersebut mendekat.
"Jangan pernah bicara lagi dengannya seperti kemarin. Jika dia yang memulai, abaikan saja. Ngerti?"
Kedua penjaga itu mengangguk patuh meskipun bingung setengah mati.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hay semuanya 👋 telat up hari ini 🙏
Makasih buat yang mampir,
Jangan lupa like dan komen yah 🙏😊
__ADS_1
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗
Ig author : @ag_sweetie0425