
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Alvino dan Alex baru saja tiba di kantor. Lelaki tampan itu keluar dari mobil dan membanting pintu mobilnya dengan kasar. Ia berjalan cepat melewati lobi tanpa menghiraukan sapaan maupun salam dari beberapa karyawan yang terlihat di sana.
Alex pun berjalan cepat mengejar langkah atasannya. Sama halnya dengan pintu mobil tadi, Alvino pun membanting pintu ruang kerja begitu tiba di sana.
Brakkk!
Alex terperanjat untuk kedua kalinya. Sambil mengusap dadanya, lelaki itu membuka pintu dan segera masuk.
"Semua laporan sudah saya kirimkan ke email Anda, Tuan." Alex melaporkan.
Ini jam kantor, dan baik Alvino maupun Alex sama-sama menyematkan sebentar status pertemanan mereka. Mode formal diaktifkan.
Alvino menarik nafas lalu membuangnya secara kasar. "Jadwal apa saja hari ini?"
"Hari ini ada ra …." Ucapan Alex terhenti mendadak karena ponsel Alvino yang berdering.
Laki-laki itu mengangkat tangannya memberi kode supaya Alex menahan ucapannya sebentar.
Tidak sampai beberapa detik panggilan telepon itu berakhir. Dapat Alex lihat dengan jelas seringai di wajah menyebalkan atasannya. Lelaki itu tampak membuka ponselnya dan melihat sesuatu di sana. Matanya memicing menatap layar ponsel begitu intens.
"Felix Airlangga." Alvino menyebut dan mengeja sebuah nama yang tertera pada gawainya.
Felix? Itu kan …
Mendengar itu, Alex langsung mengingat sebuah nama yang jelas ia tahu siapa orangnya.
"Sepertinya tidak asing." Alvino mencoba mengingat-ingat satu nama itu. "Kau kenal orangnya, Lex?" tanya Alvino pada Alex yang sedari tadi diam menatapnya.
Alex mengangguk tanpa perlu melihat fotonya. "Itu klien yang beberapa waktu lalu mengajukan kerja sama dengan perusahaan kita, Tuan," jawab Alex membuat Alvino menaikan sebelah keningnya. "Tentu saja saya sudah …."
"Tidak perlu se-formal itu, Lex! Lanjutkan," perintah Alvino memotong ucapan Alex.
__ADS_1
"Okhay, gue udah ketemu orangnya, waktu itu gue telepon, Lo lagi gak mood, dan terpaksa mau gak mau, ya gue yang gantiin Lo meeting dengan dia di hotel xx." Alex menjelaskan.
"Benarkah?" Alvino semakin menyeringai. "Siapa dia sebenarnya? Berani sekali mengusik kehidupanku." Lelaki itu memutar kursi kebesarannya membelakangi Alex. Ia mencengkram gawai di tangannya begitu kuat. "Hancurkan, Lex!" ucap Alvino pelan tetapi tegas penuh penekanan.
Alex terperanjat. "Kau gila, Vin!" desis Alex.
"Aku tidak gila, dan aku sedang memberimu perintah! Lakukan sesuai perintahku." Mode formal on. Padahal dia sendiri tadi yang meminta Alex agar tidak se-formal itu. Sekarang dalam nada memerintah yang tidak ingin dibantah, Alvino kembali mengaktifkan mode penting menurutnya. "Lakukanlah dengan mulus dan senyap. Jangan sampai meninggalkan jejak. Hancurkan perusahaan Airlangga sehancur-hancurnya," perintah Alvino panjang lebar kepada sekretaris sekaligus temannya itu.
"Tidak mungkin bisa, Vin?" sanggah Alex.
"Apanya yang tidak bisa?" balik bertanya dengan kesal.
"Perusahaan kita baru saja menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk perusahaan itu, dan sekarang kau malah ingin menghancurkannya? Perusahaan kita akan rugi besar, Vin!" cegah Alex.
"Kau pikir aku peduli? Lakukan saja sesuai perintahku dan jangan mengguruiku lagi!" Suara tegas itu menggelegar.
Kau gila Alvino Dharmawan!
Umpat Alex dalam hati.
Alvino memutar kembali kursinya menghadap Alex. "Dia sudah berani mengusik kehidupan pribadiku. Kau sudah sangat mengenalku, Lex. Aku tidak suka milikku didekati orang lain. Karena dia, istri dan anakku dalam bahaya kemarin, dan aku tidak akan membiarkan dia bersenang-senang begitu saja." Alvino menatap sekretarisnya dengan tajam.
"Ya, kau benar, sebentar." Alvino kembali meraih ponselnya dan membaca ulang dengan teliti, hasil pencarian dari orang suruhannya yang selalu mengawasi Rossa selama ini. Ada beberapa pesan yang belum dibacanya, karena ia terlalu fokus pada lelaki yang menjadi dalang pertengkaran hebat kemarin. "Ah, jadi ini dia? Tapi tidak mungkin dia sengaja mengantarkan istriku tanpa misi tertentu. Suka? Tidak mungkin! Dia bisa melihat dengan jelas istriku tengah mengandung, lalu apa maksudnya. Dia bahkan terlihat ingin memanas-manasiku, arrrrgggghhh!" geram Alvino frustasi.
"Dia siapa lagi?" gumam Alex yang masih bisa didengar Alvino.
"Teman barunya itu." Menunjukkan layar ponselnya pada Alex.
Alex memicingkan matanya. "Pernah lihat, tapi di ma … ah, di restoran. Iyah di restoran. Kau masih ingat saat kita makan siang di sana dan aku sempat menunjukkan seorang wanita yang tengah menangis di pojokan?" Alex berusaha menggali ingatan Alvino.
Lelaki itu tampak berpikir beberapa detik. "Ah, aku mengakui kehebatanmu dalam hal mengingat. Aku ingat sekarang, jadi?"
"Tidak mungkin dia tidak mengenalmu, Tuan Alvino Dharmawan. Dia bahkan dengan sengaja berani mengantarkan Nona muda Rossa kembali ke kediaman besar itu. Dia dan wanita itu pantas dicurigai. Sebaiknya kerahkan orang untuk segera mencari tahu hal ini sebelum terlambat. Karena wanita itu memang mencurigai sejak bertemu di resto." Alex memperingati.
Alvino tampak mengangguk-angguk lalu dengan cepat ia kembali melakukan panggilan telepon ke orang suruhannya. Memberikan perintah baru dalam waktu singkat. Alvino berkaca dari masalah mantan kekasihnya dulu, yang mengakibatkan wanita itu kehilangan bayinya. Lelaki berlesung pipi ini takut jika hal itu sampai terjadi pada istrinya.
...*****...
Di sebuah apartemen mewah, tampak dua orang berbeda genre tengah asik mengobrol di ruang tamu. Keduanya tampak begitu akrab dan sangat dekat.
"Kau yakin lelaki itu akan diam saja?" tanya seorang wanita cantik pada seorang pria.
__ADS_1
Pria itu menjentikkan puntung rokoknya, menggugurkan debu yang bergelayut rapuh di ujung rokok. Kembali ia menghisap zat nikotin dari dalam benda panas tersebut, lalu menghembuskan asap yang naik mengepul membentuk sebuah huruf.
Wanita yang duduk di depannya mengernyit melihat inisial yang mengudara di sana.
"Mungkin." Mengedikan bahunya. "Lelaki brengsek itu masih saja terikat masa lalunya, dan dia tidak mencintai istrinya sama sekali. Bukan begitu, Sayang?" tanyanya pada wanita cantik yang sedang duduk dengan anggun di depannya. "Dia pasti tidak akan peduli. Buktinya, saat ini istrinya terbaring di rumah sakit pun dia tidak peduli. Dia malah sibuk bekerja melampiaskan rindu pada mantan kekasihnya itu. Ha-ha-ha, menyedihkan sekali." Lelaki itu tergelak.
Ia bangkit dari duduknya dan membetulkan jas yang ia kenakan.
"Bergeraklah dengan cepat sebelum si brengsek itu mengetahui niatmu."
Ia segera melangkahkan kakinya keluar dari unit apartemen itu.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hai semuanya 👋 ketemu lagi 🤗
Hari ini agak lambat yah 😁 Maaf belum vit ✌️
Terima kasih buat yang selalu setia menunggu 🙏
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejaknya yah 🥰 like dan komen aja kok, gak susah kan? Ayolah, jangan jadi pembaca yang diam saja 😌 Aku butuh saran, dukungan dari kalian 🥰
Jangan pada bosen yah 😁
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗
Ig author : @ag_sweetie0425
______________________
__ADS_1