Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Ketakutan


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Rossa mematung dalam dekapan Alvino. Cairan bening itu terus rebas ria dari netra indahnya. Rossa terperangkap rasa yang selalu dipendamnya. Keraguan untuk meninggalkan lelaki itu mulai membelitnya kencang. Ia terisak pilu bersamaan dengan pelukan Alvino yang semakin erat.


Alvino pun masih terbungkam rasa damai yang melingkupinya. Harum rambut dan wangi tubuh itu begitu menenangkan jiwanya untuk pertama kali. Rasa betah menawannya untuk tetap dengan posisinya. Tubuhnya ikut berguncang pelan seiring sesenggukan Rossa.


"Maafkan aku!" lirih Alvino di teling Rossa setelah hampir 10 menit terlewati dalam hening.


Hal itu membuat tangisan Rossa semakin mengeras. "Tetaplah di sini menghadapi sikapku! Jangan pergi! Jangan pernah berhenti untuk mencintaiku!"


Rossa tertegun dalam tangisnya. Segenggam kebahagiaan seolah mengenyangkan jiwanya. Semua pikiran-pikiran untuk pergi dari lelaki itu seketika berlarian kocar-kacir tak tahu arah.


Lalu bagaimana denganmu? Adakah cinta yang sama di hatimu untukku? Haruskah aku bahagia saat ini? Atau tetap pergi?


Dilema berat mencekiknya. Cinta dan luka sama-sama besar memenuhi hatinya.


Di tengah hiruk pikuk pikiran-pikiran yang berseliweran di otaknya, dan juga lonjakan rasa bahagia mendadak beriringan dengan ledakan emosi yang menekannya di waktu yang bersamaan, rupanya menghasilkan reaksi lain pada tubuh Rossa.


Tiba-tiba saja kepalanya terasa berputar. Penglihatannya menjadi kabur, dan celah udara ke paru-parunya seolah menyempit.


Rossa yang saat itu berdiri kaku, seketika menyandarkan tubuhnya dengan lemah di raga kekar Alvino. Merasakan berat tubuh istrinya yang bertumpu penuh padanya, Alvino menegakan kepala dan berusaha melihat wajah sang istri.


Alisnya terangkat melihat wajah istrinya yang pucat pasi. Dengan tetap menahan berat tubuh Rossa, Alvino bergerak berusaha menuntun gadis itu agar duduk dan bersandar pada sofa. Ia bingung melihat gadis itu memukul dadanya sendiri berulang kali dengan cepat.


Nafas Rossa tersengal-sengal. Gadis itu berupaya menghirup pasokan udara sebanyak mungkin. Namun, rasa sesak itu makin mencekiknya tanpa ampun.


Alvino semakin bingung. "Kamu kenapa?"


"To-to-tolong, se-sesak." Rossa mendadak mencengkram kemeja yang dipakai Alvino begitu kuat.


Melihat itu Alvino mendadak panik, tapi ia tidak tahu harus berbuat apa. Sementara Rossa semakin kesusahan untuk bernafas.


"Sebentar," ucap Alvino dan berlari menuju pintu lalu membukanya. Tepat sekali mami Lusy dan papinya masih setia berdiri di sana.


Begitu pintu terbuka dan melihat wajah panik Alvino, kedua orangtua itu pun mendadak ikutan panik.

__ADS_1


"Ada apa, Vin? Mana Rossa?" tanya mami Lusy tak sabar.


"Tolong, Mi! Vino gak tau dia kenapa. Dia, dia tiba-tiba sesak nafas," jelas Alvino terburu-buru seperti dikejar perampok.


"Sesak nafas?" tanya Tuan Dharma.


Sedangkan mami Lusy terpaku linglung dan terdiam. Apa aku telah melakukan kesalahan?


"Mi, Mami! Rossa makin kesusahan, Mi!" pekik Alvino menyadarkan ibunya.


Wanita paruh baya itu tersentak dan langsung berlari masuk ke dalam kamar.


"Rossa! Sayang!" Mendekat lalu menepuk-nepuk punggung menantunya. "Vin, bawa istrimu, kita ke rumah sakit sekarang!" perintah mami Lusy pada putranya.


"Pi, panggil pak sopir siapkan mobil, cepat!" teriak wanita itu pada suaminya.


Tuan besar Dharmawan segera berlari keluar dan memerintahkan sopir keluarganya menyiapkan mobil secepatnya. Sedangkan Alvino meraup Rossa dalam gendongannya lalu segera melangkah cepat ke luar.


"Sini, Vin. Ayo, cepat!" ucap mami Lusy semakin panik melihat Rossa yang semakin lemas.


"Mami dan Papi bisa pegangin Rossa kan?" Begitu orangtuanya mengangguk, Alvino langsung memberikan Rossa pada kedua orangtuanya.


"Minggir, Pak! Biar Vino yang nyetir," ucapnya pada sang sopir.


Dari jauh pintu gerbang sudah terbuka lebar. Alvino mengendarai Toyota Alphard putih itu dengan kecepatan maksimal. Ia meminta ibunya agar menahan Rossa dengan kuat dan terus memanggil nama gadis itu. Tidak ingin terlambat, dan malah memungkinkan celah sedikit saja menghancurkan harapan yang baru ingin diwujudkannya.


Bertahanlah, Sayang! Maafkan mami, ini salah mami. Mami yang terlalu bodoh.


Batin wanita cantik berusia senja itu akhirnya menangis penuh sesal.


Alvino tetap fokus dengan kemudi di tengah-tengah kekalutannya. Berkat kelihaiannya dalam menyetir, mobil mewah itu pun tiba dengan cepat dan selamat di lobi rumah sakit. Alvino memarkirkan mobilnya serampangan lalu bergegas turun membuka pintu penumpang, dan kembali membawa Rossa.


Di depan lobi, seorang dokter dan beberapa perawat sudah berdiri di sana. Itu adalah dokter kandungan yang menangani pemeriksaan Rossa selama ini. Dalam perjalanan tadi, mami Lusy sudah menghubungi dokter tersebut terlebih dulu. Dengan sigap, perawat mendorong tempat tidur pasien mendekat ke arah Alvino. Ia meletakkan Rossa dengan hati-hati ke ranjang tersebut tanpa melepaskan genggaman tangannya.


"Ke unit gawat darurat khusus penanganan ibu hamil. Cepat!" perintah dokter kandungan Rossa. Sepertinya dokter muda itu sudah mengetahui kondisi pasien sebelumnya.


Para perawat mendorong ranjang tersebut dengan berlari kecil begitu melihat kondisi pasien yang sudah sangat lemah. Alvino pun mempercepat langkahnya dengan tangan yang masih bertaut.


Begitu tiba di ambang pintu, Alvino pun hendak ikut masuk ke dalam tetapi di cegah oleh dokter.


"Maaf, Tuan! Anda boleh menunggu di luar," ucap sang dokter.


Kening Alvino berkerut. "Saya suaminya, dan saya ingin menemani istri saya!" Lantang suara Alvino yang belum ingin melepas tangan Rossa.

__ADS_1


"Sekali lagi maaf, Tuan! Saya sebagai dokter yang menanganinya tidak memperkenankan siapapun untuk masuk!" tegas sang dokter.


"Dan saya sebagai suaminya tidak mengizinkan Anda menyentuh istri saya!" Tidak kalah tegasnya.


Mami Rossa yang melihat itu menjadi makin stres dan panik. Sedangkan tuan Dharma tidak habis pikir dengan jalan pikiran konyol putranya. Kecemburuan gilanya tidak pernah mengenal tempat dan kondisi.


"Vino, please! Mami mohon dengarkan apa kata dokter! Biarkan mereka menangani istrimu dengan cepat," ucap mami Lusy.


"Tapi kenapa harus dokter ini, Mi? Apa gak ada lagi dokter wanita di rumah sakit sebesar ini? Juga apa salahnya Vino nemenin Rossa di dalam sana?" Tidak mau mengalah.


Dokter muda itu menatap lelaki gila di depannya dengan tatapan tajam.


Kemana saja dia selama ini?


"Alvino, liat kondisi istrimu semakin lemah. Hentikan keras kepalamu! Buang jauh keegoisanmu. Kita bicarakan setelah ini, biarkan mereka bekerja dengan baik." Ucapan ayahnya menyadarkan lelaki keras kepala itu.


Dengan berat hati Alvino melepaskan tangannya, membiarkan tim medis membawa masuk istrinya. Mata legamnya terus terpaku pada sosok yang tengah terbaring lemah di ranjang kesakitan itu, hingga bayangan itu tertelan pintu ruangan yang tertutup.


Kuatlah, kumohon! Aku belum mengungkapkan perasaanku.


Segerombolan ketakutan menerjang lelaki garang itu tanpa ampun. Takut jika ia tidak sempat mengatakan isi hatinya, takut jika ia harus tenggelam dalam lumpur luka batin yang kedua kalinya.


Beri aku ruang dan kesempatan untuk bersamamu.


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya …...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Hay semuanya 👋 Selamat siang, dan happy mother's day buat semua emak² di sini 🥰


Terima kasih buat yang selalu menunggu dan makasih juga atas kunjungannya 🙏🥰


Jangan lupa like dan komen yah 😘

__ADS_1


Dan sampai jumpa di episode berikutnya 🤗


Ig author : @ag_sweetie0425


__ADS_2