
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
"No-Nona?"
Alex terperanjat begitu mendapati istri dari atasan sekaligus teman baiknya, baru saja keluar dari ruang kunjung tahanan. Lelaki itu salah tingkah dan gelagapan. Dia yang hendak mengunjungi wanita yang sudah membuatnya jatuh hati saat itu, merasa terciduk melihat Rossa.
Perasaan tak enak menyambangi hatinya. Alex merasa seperti seorang pengkhianat yang tidak setia pada tuannya. Ingin sekali ia bersembunyi saja kala itu, tetapi menjadi pecundang jauh lebih buruk dari sebuah pengkhianatan bukan? Akhirnya ia tetap di tempat dan menghadapi kenyataan yang ada.
Rossa hanya tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya sebagai bentuk sapaan yang santun. Ibu satu anak itu bukannya tidak ingin menyapa, tetapi peringatan dari suaminya sudah terpatri di setiap ingatan dan lakunya.
Rossa hendak terus melangkah, tetapi Alex seolah berusaha menahannya. Meskipun begitu, ia tetap menjaga batasannya dalam bertingkah. Tidak hanya Rossa, Alex pun selalu mendapat peringatan yang sama dari Alvino. Jangan sampai berbicara, apalagi sampai menyentuh seujung kuku saja tubuh istrinya.
"Ma-maaf, Nona ...."
"Rossa saja," sela Rossa dengan cepat menghentikan kekakuan yang terjadi. Wanita cantik itu berbicara tanpa melihat lawan bicaranya. Posisinya tetap lurus menatap ke depan, sementara Alex menempatkan posisi selayaknya, berdiri di samping Rossa dengan terus menunduk. "Jika ingin bertanya, tanyakan saja pada Filen. Maaf, aku harus pulang sekarang. Permisi!"
Rossa pun meneruskan langkahnya meninggalkan Alex dalam banyak tanya. Ada dan tidak adanya Alvino di samping, tetap saja Rossa tidak bisa bebas dalam berekspresi. Insiden sebulan lalu, membuat Alvino lebih posesif dan hati-hati. Oleh kerena itu, setiap langkah Rossa selalu diikuti anak buah Alvino dalam jarak dekat dan terang-terangan.
__ADS_1
Meskipun sempat menolak dan berdebat, tetap saja Alvino pemenangnya. Rossa hanya bisa menerima apapun itu. Satu hal yang ia pahami, mungkin cara Alvino mencintainya berbeda.
Sikap posesif lelaki itu, yang dulunya menjadi duri dalam hubungannya bersama Jenn. Rossa pun kerap kesal waktu itu. Kemauan Alvino yang kuat selalu melemahkan pasangannya. Tak jarang, Jenn merasa dikekang dan sekali terlepas, malah menambatkan hati pada yang lain.
Akan tetapi, Rossa berpegang teguh pada cinta dan keyakinan, bahwa semua yang Alvino lakukan adalah untuk kebaikannya. Maka dari itu, Rossa akan belajar menerima semua cara dsn sikap Alvino yang mencintainya dengan berlebihan.
Dalam perjalanan kembali ke rumah, Rossa termenung mengingat pertemuannya dengan Filen, saat tadi di ruang kunjung tahanan. Wanita itu begitu tersentuh mendengar semua penuturan Filen.
....
Maaf karena telah banyak menyakitimu. Ini bukan salahmu, tetapi aku malah melibatkan kamu. Aku minta maaf. Ini juga tidak sepenuhnya salah suami kamu. Dia hanya melakukan kebijakan di perusahaan, di mana yang bersalah harus tetap di hukum.
Aku pernah bercerita, bahwa aku sudah menikah tetapi suamiku meninggal dalam sebuah kecelakaan, dan aku mengalami keguguran.
Suamiku bekerja sebagai staf keuangan di Dharma Jaya. Awalnya dia bekerja dengan sangat baik, hingga suatu saat jabatannya naik, membuat dia menjadi gelap mata. Dia menggelapkan dana perusahaan dalam jumlah yang tidak sedikit. Aku yang tidak tahu apa-apa, diajak kabur saat itu. Apa yang dilakukannya, diketahui pihak perusahaan. Polisi dan anak buah suamimu mengejar mobil kami. Nasib sial atau memang karma sedang bekerja waktu itu. Ban mobil kami terkena tembakan dari pihak polisi, tetapi suamiku tidak mau berhenti. Dia terus melajukan mobil hingga menabrak pembatas jalan, dan kecelakaan pun tidak terelakkan. Suamiku meninggal saat itu juga, sedangkan aku mengalami luka parah hingga keguguran. Aku semakin hancur karena tidak lagi mendapat keturunan, dan diusir mertuaku.
Kebencianku makin besar, dan makin menyala. Melihatmu untuk pertama kali di restoran dulu, jujur aku iri. Apalagi aku sudah tahu sebelumnya, bahwa kamu adalah istri Tuan Alvino. Aku iri, benci, dan ingin membalas sakit hatiku. Aku selalu mengincar dan mencari tahu setiap hal yang berhubungan dengan suamimu. Identitasmu yang kerap ditutupi pun aku tahu. Pertengkaran hebat kamu dan suamimu waktu itu, sengaja aku yang memercikan apinya dengan meminta kakakku mengantarkan kamu pulang. Mendengar kamu masuk rumah sakit kala itu ... maaf, tapi aku senang sekali. Aku berharap kamu keguruan dan diceraikan suamimu, serta diusir mertua sepertiku dulu.
Aku ingin kalian merasakan sakitnya kehilangan yang aku rasakan. Nyatanya apa yang aku harapkan, tidak sesuai dengan ekspektasi. Suamimu malah semakin mencintai dan menjagamu. Aku wanita jahat dan tidak pantas untuk bahagia sepertimu.
Maafkan, aku ....
....
Rossa keluar dari mobil dengan wajah sembab. Mami Lusy yang melihat itu menjadi khawatir. Khawatir jika menantunya diapa-apakan oleh Filen.
__ADS_1
"Sa, ada apa, Sayang? Dia menyakitimu lagi?" tanya mami Lusy panik.
Rossa menggeleng dengan wajah sendu. "Gak, Mi." Menarik tangan sang mertua menuju ruang keluarga. "Dia itu wanita yang baik, hanya saja ... keadaan memaksanya menjadi jahat, Mi. Dia minta maaf sama Rossa atas perbuatannya selama ini. Rossa kasian liatnya, Mi. Rossa sayang banget liat dia, gak tega." Matanya berkaca-kaca. "Rossa mau minta sama papinya Gian buat cabut saja tuntutannya. Toh dia juga gak salah sama sekali, hanya terobsesi dendam," lanjutnya sambil mengusap ujung mata yang kembali berair.
Mami Lusy tersenyum. "Bujuklah dia dengan cintamu, maka dia akan luluh. Bukankah sekarang kamu bisa mengendalikannya?
Rossa ikut tersenyum. "Mami bisa aja. Baiklah, Mi, Rossa mau liat Gian dulu. Kangen ditinggal sejam."
Ia pun beranjak menemui putranya.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya .......
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Halo semuanya ✨
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah 😍
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗