
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
"Eh, pelan-pelan aja jalannya. Gak usah buru-buru gitu."
Seorang wanita cantik berdiri dari duduknya, menghampiri Rossa dan menuntunnya ke tempat duduk dengan lembut.
"Maaf telat," ucap Rossa begitu sungkan. "Udah lama nunggu, ya Mbak?" Bicaranya sedikit ngos-ngosan.
"Gak juga, belum lama. Santai aja." Wanita cantik di depannya tersenyum.
Kedua perempuan itu kini berada di sebuah cafe. Pertemuan kemarin di resto, akhirnya mampu memberi sedikit ruang untuk Rossa. Dalam benak gadis manis itu, ia akan menggunakan waktu ini sebaik mungkin. Kapan lagi bisa keluar tanpa pengawalan dan pengawasan dari sang mertua? Begitu pikirnya.
Tak hanya itu, ia bahkan memikirkan untuk menjadikan wanita asing itu temannya di kota asing ini. Setidaknya dengan begitu, ia memiliki orang yang dikenalnya selain keluarga suaminya sendiri.
"Oh iya, dari kemarin belom kenalan." Wanita itu tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya untuk Rossa. "Filensya, panggil aja Filen."
"Rossa." Menyambut tangan wanita di depannya dengan senyuman tak kalah manis.
"Teman?" tanya Filen.
Kening Rossa sedikit mengerut. Maksudnya apa?
"Seperti katamu kemarin pada …."
"Oh … really?" Rossa berbinar tak percaya. "Dia ibuku." Dengan bangga ia mengatakan mami Lusy adalah ibunya.
"Of course. Teman mulai sekarang!"
"Karena kamu sedang hamil, aku pesanin kamu frappuccino aja deh, gak boleh nolak," kata Filen.
Sebelum kedatangan Rossa, wanita itu sudah lebih dulu memesannya minuman dan cemilan.
"Kenapa harus yang ini, gak boleh yang lain?" tanya Rossa.
"Karena, wanita hamil dilarang mengkonsumsi kafein lebih dari 200 mg per hari. Sedangkan kandungan pada frappuccino hanya sekitar 75 sampai 165 mg," terang Filensya. Rossa mengerti dan mengangguk kepalanya. Keduanya lalu melanjutkan obrolan.
Rossa bertanya soal tangisan kemarin saat di toilet. Terlihat wanita itu enggan untuk menceritakannya, tapi menghargai jalinan pertemanan yang baru saja diproklamirkan keduanya, Filen pun menceritakan hal itu.
Melihat Rossa yang begitu bahagia dengan kehamilannya dan diperhatikan seperti kemarin, membuat wanita itu mengingat kepedihan dalam hidupnya. Ia baru saja kehilangan bayinya dua bulan lalu karena sebuah kecelakaan bersama sang sumami. Suaminya meninggalkan dalam kecelakaan itu, dan ia pun kehilangan bayinya. Hal itu pula, membuat mertuanya menganggap ia wanita pembawa sial. Merasa tidak ada yang perlu dipertahankan lagi di dalam keluarga besar almarhum suaminya, Filen pun kembali ke rumah orangtuanya.
"Maaf untuk pertanyaanku. Aku turut berdukacita." Rossa merasa tidak enak karena mengusik masa lalu wanita itu.
__ADS_1
"Gak masalah, aku udah ngiklasin semuanya kok. Hanya melihat kamu kemarin ... jadi keinget lagi." Senyum yang terkesan memaksakan, dan itu terlihat jelas di mata Rossa.
"How about you? Apakah keluarga suamimu baik?" Pertanyaan yang otomatis menerbitkan senyum cerah di wajah Rossa.
"Lebih dari baik. Gak bisa dijelasin dengan kata-kata." Rossa tertawa kecil.
Mami, papi, semua pelayan menyayangiku. Hanya ….
"Suamimu sendiri?" Telak.
Deg!
Ini yang ingin sekali dihindari olehnya. Rossa benci pertanyaan ini.
"Dia … ya dia baik. Sangat baik!" Tersenyum. Senyum yang dipaksakan dan itu terlihat aneh.
Baik apanya? Menyebalkan level dewa, iya. Untung hatiku made in Indonesia. Apapun situasinya, selalu sedap seperti Indomie. Eh apaan sih, hahaha.
"Beruntungnya jadi kamu."
Rossa hanya tersenyum kecil.
Buntung yang ada dan terpaksa ngikutin dia, iya.
"Gak juga, Fil."
Gak seberuntung yang kamu kira.
"Semua kejadian itu pasti ada hikmahnya. Ambil yang positifnya aja. Mungkin Tuhan punya rencana yang jauh lebih baik dari apa yang kamu rencanakan saat itu," ucap Rossa dengan bijak.
Dalam obrolan mereka, tiba-tiba ponsel milik Rossa berdering. Belum juga melihat siapa yang menelepon, ia bisa menebak sendiri bahwa pasti mami Lusy. Ya, dan itu benar.
Tidak ada orang lain lagi yang akan menghubunginya seperti ini. Kontak dalam ponselnya pun hanya orang rumah dan dokter kandungannya saja, ditambah Filen baru semalam. Kontak suaminya sendiri pun tidak ada di sana.
Semenjak pertama kalinya tiba di kota ini, Alvino memberikannya ponsel dan sim card yang baru. Ponsel lama yang menyimpan kenangan bersama dua sahabatnya, dibuang oleh lelaki itu. Ia juga dipaksa memblokir semua akun sosial media kedua sahabatnya. Rossa sempat stres dengan hal itu, tapi akhirnya terbiasa juga.
📲 "Halo, mi!"
📲 "..."
📲 "Iya, iya. Dah mami!"
Sambungan telpon pun terputus.
Filen menatap bumil di depannya dengan tatapan penuh tanya.
"Itu, Mami. Cuman ingatin makan dan cepat pulang," jawab Rossa tanpa sebuah pertanyaan.
Filen mengangguk paham sambil membulatkan mulutnya membentuk huruf O, tanpa suara. Ia melirik pada jam tangan cantik yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Udah jam 12 nih, mau makan di mana?" Rossa tampak berpikir. Tidak tahu harus menjawab apa, sementara seluk beluk kota ini pun ia tidak tahu. "Ke rumahku, mau gak? Sekalian kenalan sama mama dan papaku, yuk!" ajaknya yang memahami raut bingung Rossa.
"Boleh emang?" tanya Rossa antusias, dan Filen mengangguk mantap. "Tapi, jangan deh, nanti aku pulangnya telat, dicariin mami. Next time aja yah," katanya lagi.
__ADS_1
"Ok! Kalo gitu kita makan di tempat lain aja, setelah itu langsung pulang."
Keduanya lalu bergegas keluar dari cafe. Filen menuntun Rossa menuju parkiran, lalu keduanya segera melesat dari sana menuju sebuah gerai makan.
Tampak seseorang juga baru keluar dari kafe, dan menyusul keduanya. Sedari tadi Rossa tidak menyadari orang itu duduk membelakangi dan mengawasinya begitu dekat. Dia masih terus setia mengikuti ke mana wanita itu membawa menantu keluarga Dharmawan.
Hingga waktu menunjukkan pukul 14.00, Rossa baru tiba di rumah dengan menggunakan taksi. Tadinya Filen ingin mengantarnya, tapi dia menolak. Alasannya, ia tidak ingin ada yang mendatangi kediaman megah itu.
Jelas saja dia tidak enak, karena itu bukan rumah pribadinya. Alasan lain, ia tidak mau orang lain tahu tentang kesenjangan dalam rumah tangganya. Biarlah itu menjadi rahasia keluarga saja. Orang lain hanya boleh melihat Rossa yang kuat dan mandiri.
"Selamat siang, Pak!" Rossa memberi salam begitu ia melewati gerbang.
Senyum manis dan sikap santunnya membuat dua penjaga gerbang itu begitu sungkan. Mereka tidak tahu harus bersikap seperti apa.
"Selamat siang, Nona!" Keduanya hanya bisa menunduk. Meskipun tahu hubungan gadis manis ini bersama putra majikannya tidaklah baik, tetap saja mereka menghormatinya. Apalagi melihat tingkah sopan dan keakrabannya bersama nyonya besar.
Rossa berbalik dan menatap kedua pria di sana.
"Panggil Rossa aja, Pak. Jangan gitu, Rossa malu." Jelas ia merasa malu dengan panggilan itu.
"Maaf, Nona! Kami tidak berani," jawab keduanya bersamaan sambil menunduk.
Rossa tertawa kecil sambil kembali menghampiri keduanya.
"Kenapa, Pak? Diminta sama mami, yah?" Tebaknya. "Tenang aja, kalo lagi gak ada mami, Bapak boleh panggil Rossa aja yah," pinta Rossa dengan senyum manis. "Rossa cuman orang biasa, gak cocok banget sama panggilan kek gitu, Pak."
Tiba-tiba bunyi klakson mobil dari depan mengagetkan mereka bertiga. Bersamaan dengan itu juga, suara mami Lusy terdengar memanggil Rossa. Kedua penjaga bergegas membuka gerbang, sedangkan Rossa sedikit menepi dan menoleh ke arah rumah besar.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hay semuanya 👋 ketemu lagi 😍
Terima kasih buat kalian yang menunggu ini 🙏
Jangan lupa like dan komen yah 🙏 kalo berbaik hati boleh bagikan kembang atau kopi, atau vote mungkin 😁🤭
Apapun itu, maksih banget genkz 😘
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗
Ig author : @ag_sweetie0425
__ADS_1