
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Sebuah Ferarri F12 Berlinetta berwarna merah, baru saja memasuki gerbang besar kediaman keluarga Dharmawan. Mobil mewah itu tidak lanjut sampai ke garasi, hanya berhenti tepat di depan gerbang. Pengemudi di dalam sana tidak juga bergerak turun.
Dari balik kaca mobil, sepasang mata elang menatap lekat pada sosok manis yang berdiri di depan sana dengan perut yang membuncit. Melihat gadis itu berbicara dengan dua penjaga gerbang, sebersit rasa aneh menyentil hatinya.
Apalagi saat gadis itu tersenyum manis dan melambaikan tangan pada dua pria di sana, perasaan aneh itu semakin mengusiknya.
"Ck," decak kesal terlontar dari mulutnya. Kembali ia menjalankan mobilnya hingga ke garasi.
Tampak seorang lelaki tampan keluar dari sana dengan wajah kesal. Langkah lebarnya berhasil menyusul langkah kecil bumil cantik yang baru saja berhenti di depan pintu rumah besar.
Mami Lusy yang sedari tadi berdiri menyambut kepulangan menantunya, malah kaget mendapati putranya yang juga pulang siang itu.
"Vin, pulang juga? Tumben kok pulang siang begini? Ada angin apa?" tanya mami Lusy.
Rossa yang mendengar itu lantas berbalik dan mendapati suaminya di belakang. Seketika debaran di hatinya bergetar gila. Ia memalingkan wajahnya ke tempat lain dengan nafas yang tertahan. Setiap berada di dekat lelaki itu, Rossa seolah kehabisan oksigen di sekitarnya.
"Kenapa? Emang kalo mau pulang Vino harus izin dulu gitu?" Mensejajarkan langkah tepat di samping Rossa. Ia melirik gadis itu sekilas.
"Ya, bukan gitu juga. Maksud mami ... tumben aja. Ini perdana loh sejak kamu menikah." Wanita itu tersenyum. "Mana pulangnya barengan lagi, jangan-jangan …."
"Ck, gak usah aneh-aneh, Mi. Vino laper." Memotong ucapan ibunya.
"Loh, udah jam berapa ini? Kok belom makan sih?" Heran. Ada apa dengan anaknya hari ini? Begitu yang terlintas di pikiran mami Lusy.
"Gimana mau makan? Maminya sibuk merhatiin yang lain dibanding anak sendiri." Lagi-lagi melirik gadis di sebelahnya, dan hal itu tertangkap penglihatan sang ibu.
"Jangan cuman ngasih perhatian, Mi. Bilangin juga, gak usah ganjen deket-deket semua pria." Langsung berlalu masuk ke dalam dengan langkah malas, meninggalkan mami Lusy dan Rossa yang bingung dengan ucapannya.
Apaan sih? Gaje banget! Batin Rossa.
"Mau mami yang siapin atau Rossa aja?" tanya ibunya. Wanita itu bertanya dengan suara yang sedikit keras, karena Alvino semakin menjauh. Tadinya wanita paruh baya itu bingung, tapi sepersekian detik ia lalu mulai menyadari satu hal.
Rossa melotot pada mertuanya dan wanita tua itu tertawa melihat reaksi sang menantu. Tawanya pun makin menjadi ketika mendapat jawaban dari Alvino.
"Terserah!" Mengibaskan tangannya tanpa berbalik.
"Mami ...," rengek Rossa sambil menghentakkan kakinya.
Ia tahu bahwa wanita paruh baya itu akan meninggalkan dirinya, dan membiarkan ia yang menyiapkan makanan untuk Alvino.
Benar saja, mami Lusy langsung berlalu pergi meninggalkan dirinya tanpa sepatah kata. Hanya menyisakan suara tawa dan kekesalan untuknya.
Tidak punya pilihan, gadis itu ikut berlalu dari sana dengan langkah yang membawanya ke dapur.
__ADS_1
"Permisi, Bu! Rossa pinjem dapurnya bentar yah." Suara itu membuat dua pelayan yang tengah beraktivitas di dapur, terperanjat.
"Nona mau apa? Biar kami saja yang buatkan," ucap salah satu dari mereka.
"Gak papah, Bu. Rossa aja, cuman mau panasin makanan buat kak Vino." Tersenyum lalu meletakkan tasnya di meja pantry.
"Biar saya saja, Nona!" Salah seorang yang tampaknya lebih muda dari yang satunya lagi, mencegahnya.
"Gak papah, aku aja. Ini emang tugas seorang istri kan?" Perkataannya membuat dua pelayan wanita di sana tak mampu menolak lagi.
"Tapi nanti kami dimarahin nyonya," ucap mereka lagi.
"Udah, santai aja, Bu."
Bumil cantik itu mulai melakukan pekerjaannya dengan suka cita. Tanpa ia sadari, sang mertua sedang mengamati dirinya. Wanita paruh baya itu tersenyum senang.
Sepertinya akan ada kemajuan, semoga saja.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Rossa menyiapkan semuanya. Setelah selesai, ia kembali menatanya di atas meja.
"Huh, tumben-tumbennya gak nolak aku yang bikin. Semoga aja gak dibuang." Bermonolog sembari mengusap peluh di dahinya.
Rossa menoleh ke arah dapur berniat memanggil salah satu dari pelayan tadi. Tepat sekali wanita itu berdiri tidak jauh darinya, dan tengah menunggunya di sana.
"Ada yang anda perlukan lagi, Nona?" Peka sekali.
"Ah ... iya, Bu! Boleh minta tolong gak?" tanya Rossa begitu sopan. Wanita di depannya menunduk mengiyakan. "Tolong panggilkan kakak, yah! Rossa lelah, gak kuat naik tangga lagi soalnya, Bu!" Jelas sekali gurat lelah di wajah manisnya.
Wanita di depannya hanya tersenyum simpul lalu menunduk tanpa tahu harus berkata apa. Ternyata, lelaki itu sudah berdiri sejak tadi di belakang Rossa, tetapi gadis itu tidak menyadarinya.
Wanita itu semakin bingung mau bersikap seperti apa. Melihat Alvino yang mengibaskan tangan menyuruhnya pergi, ia pun segera berlalu dari sana.
Rossa terbelalak melihat tingkah pelayan itu.
"What? Kok gue ditinggal sih? Gak kasian apa liat kondisi gue kek gini? Huh, gak papah deh. Mungkin dia juga lelah." Rossa menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan dengan perlahan.
Tiba-tiba tendangan kecil di perutnya membuat bumil cantik itu sedikit meringis.
"Auhh." Mengusap perutnya dengan lembut. "Hei, kok nendang-nendang sih? Oh … mau panggilin dia yah? Baiklah, karena kamu senang ada di dekatnya, ayo kita panggilin!"
"Ehem!"
Rossa tersentak bukan main. Hampir saja ia terjatuh karena ketidakseimbangan saat refleks membalikkan tubuhnya. Untung saja tangan besar Alvino segera menahan pinggangnya dengan erat.
"Hati-hati." Suara serta tatapannya begitu datar.
Rossa langsung bergerak melepaskan diri dari rangkulan tangan Alvino. Sesuatu dalam perutnya semakin bergerak aktif seolah sedang melonjak girang di dalam sana. Namun, tidak dengan hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.
Tanpa sepatah katapun, gadis itu hendak berlalu menuju kamarnya. Ia khawatir Alvino mendengar dentuman nyaring detak jantungnya.
"Wait!" Langkahnya terhenti.
"Kemana saja hari ini? Kenapa baru pulang?"
__ADS_1
Rossa mengerutkan keningnya.
Orang aneh, bukannya semalam bilangnya gak peduli? Kenapa sekarang kepo?
Rossa tidak peduli lalu kembali melangkah pergi.
"Aku bertanya padamu!" Suaranya meninggi.
"Gak kemana-mana, cuman makan sama temen." Berhenti lagi dan menjawab tanpa berbalik.
"Sudah punya teman rupanya?" Menghampiri Rossa dan berjalan mengitari gadis manis itu.
"Jangan seenaknya kamu di sini! Keluar dan masuknya kamu di rumah ini, harus melalui izin aku. Kamu ada di sini karena ikut sama aku, bukan sama mami dan papi! Itu juga untuk kebaikan kamu, jadi jangan sembarangan kamu!" Berhenti tepat di hadapan Rosaa.
"Dan dengar ini baik-baik, aku berbaik hati padamu hanya karena permintaan dia. Bukan keinginanku. Gak usah baperan."
Streeetttt.
Jika suara itu bisa terdengar, mungkin lelaki di hadapannya akan tahu bahwa ucapannya telah merobek hati gadis manis yang tengah menunduk itu.
"Terima kasih, Kak! Aku permisi!" Hendak bergeser tuk pergi dari hadapan Alvino.
"Satu lagi!" Lagi-lagi Rossa berhenti. "Jangan coba-coba berbicara dengan pria manapun! Jangan terlihat murahan seperti tadi! Jagalah nama baik keluarga ini!" tegas Alvino dan langsung beranjak menuju meja makan.
Sementara Rossa dengan segera melangkahkan kakinya sedikit cepat menuju kamar. Belum juga sampai di sana, air mata gadis manis itu sudah lebih dulu luruh tak terbendung.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Holaaaaaaa epribadeeeh 👋 ketemu lagi 🤗
Gimana? Pasti ada yang memaki-maki Alvino yah 🤭
Calm down, semua akan indah pada waktunya menurut takdir Otor 😆
Makasih yah, genkz buat dukungannya 🙏
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak jempolnya dan komen 😍🙏
Ikuti terus yah … 😘
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗
__ADS_1
Ig author : @ag_sweetie0425