
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Suasana di depan unit gawat darurat sore itu begitu mencekam. Alvino bersama orangtuanya masih setia menunggu dalam diam. Tidak ada seorang pun dari mereka yang berniat membuka mulut.
Alvino tertunduk begitu dalam dengan tatapan yang tertumbuk pada lantai dingin. Pantulan dirinya di bawah sana, mengingatkan dia tentang pertengkaran tadi saat di rumah. Ingatan tentang perlakuan kasarnya pada Rossa tadi membuatnya menyesal.
Tolong jaga dia! Jika kamu belum bisa untuk mencintainya, setidaknya jangan sakiti dia, baik jiwa maupun raganya.
Suara itu, kata-kata itu terus terngiang di telinga Alvino. Suara lembut dari wanita cantik yang masih saja menduduki sebagian besar singgasana hatinya, bak dengung lonceng yang menggemakan penyesalan.
Besar? Ya, masih sebagian besar, dan sebagian kecilnya lagi? Pastinya yang kecil itu sudah terselip satu nama lain di sana. Rossa. Meskipun kecil, tapi nama Rossa sudah berhasil bersanding di antara satu nama di dalam sana.
Tidak mudah memang, dan Alvino butuh waktu untuk me-reset hatinya. Lelaki tampan berlesung pipi ini, masih berusaha keras mencabut paku yang mematri lekat nama Jenn di hatinya.
Maafkan aku yang sudah menyakiti hati dan tubuhnya. Ajarkan aku cara melupakanmu tanpa menyisakan trauma. Aku ingin mencintainya lebih dari aku yang pernah mencintaimu. Aku sungguh menginginkannya, tapi aku takut terluka dan kehilangan lagi. Sangat takut.
Batin Alvino berbisik pilu. Ia menyesal karena belum bisa mencintai Rossa sepenuhnya. Namun, ia juga bersyukur, meskipun sedikit, setidaknya hatinya mulai tertuju pada wanita yang telah menjadi istrinya itu. Bukan masalah sedikit atau banyaknya rasa yang sudah terpupuk.
Alvino hanya terlambat menyadari perasaannya yang mulai tumbuh perlahan karena terhalang trauma. Kegagalan dalam hal mencinta membuat lelaki tampan berlesung pipi ini takut untuk membuka hati.
Ia takut mencintai sosok yang baru lagi, takut dikhianati untuk kesekian kali. Luka itu masih terasa, dan belum ada ramuan yang benar-benar menjadi penawar.
Selain itu, mami Lusy pun tengah larut dalam pikiran-pikiran yang menakutinya. Tanpa suami dan putranya ketahui, wanita cantik di usia senjanya ini tengah tersiksa tertindih bongkahan ketakutan. Mulutnya terkatup kaku, tetapi hati lancar merapalkan doa tanpa spasi.
Sedangkan Tuan Dharma masih menduga-duga, apa yang sebenarnya terjadi dengan menantunya.
Satu jam berlalu dan pintu ruangan itu terbuka sudah. Dokter muda tadi keluar membawa kekejutan dan harapan bagi keluarga Dharmawan.
Alvino refleks bangkit dan mendekati sang Dokter, dengan tatapan penuh tanya, serta cemas yang tercetak jelas di wajah tampannya.
"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Alvino tak sabar.
"Apa yang terjadi dengan menantu saya, Dokter?" tanya Tuan Dharma.
Alvino dan ayahnya sama-sama bertanya, tetapi telinga sang dokter tidak fokus pada pertanyaan-pertanyaan dua lelaki itu. Matanya lurus tertuju pada sosok wanita paruh baya yang tampak panik dan pasi.
"Saya butuh penjelasan Anda, Nyonya. Kenapa sampai hal ini bisa terjadi?" tanya dokter muda itu. Mami Lusy tergugu tidak tahu apa yang harus ia katakan.
__ADS_1
Kembali sang Dokter menatap dua pria berbeda generasi yang tengah cemas menunggu jawabannya.
"Kondisi pasien saat ini sudah stabil. Sesak nafasnya terjadi karena tekanan darah yang naik secara tiba-tiba," terang dokter tersebut.
Alvino dan ayahnya terkejut, sedangkan mami Lusy semakin tercekat.
Bersamaan dengan itu, para perawat keluar sambil mendorong ranjang Rossa dengan pelan. Alvino berpindah dari hadapan dokter dan menghampiri ranjang sang istri.
Setumpuk kelegaan kini tersedot jiwanya, begitu melihat sang istri yang tampak sudah lebih tenang dari yang tadi. Bumil cantik itu tengah tertidur damai. Hembusan nafasnya teratur dengan bantuan oksigen yang terpasang di hidung, juga selang infus menghiasi sebelah tangannya.
Hati Alvino tersentil melihat itu. Rasa bersalah menggerogoti. Tangannya terangkat meraih jemari Rossa lalu mengelus lembut.
"Pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan. Istri anda harus dirawat inap beberapa hari hingga tekanan darahnya stabil. Setelah ini, saya menunggu anda di ruang kerja saya. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan," ucap sang Dokter pada Alvino.
Lelaki arogan itu hanya mengangguk lemah lalu mengikuti para perawat membawa istrinya ke sebuah ruang perawatan kelas terbaik di rumah sakit tersebut.
Rossa sudah berada di ruang perawatan VVIP. Alvino yang terlihat seperti orang bodoh, hanya diam di samping istrinya dengan jemari yang terus bertaut, serta tatapan yang tidak lepas sedikit pun dari wajah damai itu.
"Kamu harus temui dokternya, Vin. Biar mami sama papi yang jagain Rossa," ucap mami Lusy.
Alvino bergeming menatap ibunya. Sedetik kemudian ia mengangguk berat lalu bangkit dari duduknya. Saat hendak melangkah pergi, sang ibu lebih dulu menyentuh pundaknya.
"Maafkan mami, Vin!"
Wanita paruh baya itu menunduk dalam penyesalan, sementara Alvino mengerutkan keningnya bingung.
Lelaki itu lalu beranjak pergi meski tak paham dengan maksud permintaan maaf ibunya.
"Maksud mami apa?" tanya Tuan Dharma pada sang istri begitu Alvino sudah pergi. "Mami menyembunyikan sesuatu dari papi dan Alvino?"
Wanita paruh baya itu masih setia dalam diam. Tidak tahu harus memulainya dari mana. Melihat kekalutan di wajah sang istri, Tuan Dharma tidak berniat untuk meneruskan pertanyaannya lagi.
Namun, sedikit ia mulai mengerti, bahwa mungkin ada sesuatu yang serius tentang menantunya, yang takut untuk diungkapkan sang istri.
...*****...
"Silahkan duduk, Tuan!"
Dokter mempersilahkan Alvino yang baru saja masuk ke ruangan kerjanya untuk duduk pada kursi yang tersedia di depannya. Namun, ia masih juga menatap ke arah pintu seolah mencari yang lain.
"Maaf, Nyonya Dharmawan mana?" Mencari ibunya Alvino.
Alvino mengangkat sebelah alisnya. "Sedang menjaga menantunya. Apa perlu beliau kemari?" Balik bertanya.
"Ya tentu saja, karena beliau yang selalu menemani menantunya melakukan pemeriksaan setiap bulan." Alvino tertampar rasa malu.
__ADS_1
"Karena itulah, beliau adalah satu-satunya orang yang sudah mengetahui tentang kondisi pasien." Alvino tersentak. Ia menatap sang dokter dengan tatapan penuh tanya.
"Maka dari itu, saya perlu juga untuk berbicara dengan beliau sekaligus."
Mami menyembunyikan sesuatu dariku? Kenapa, mi?
...*****...
Lima menit setelah itu, mami Lusy terlihat masuk ke dalam ruang kerjanya dokter kandungan yang menangani Rossa.
Alvino menatap ibunya dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di dadanya.
"Langsung saja, Dokter. Apa ada hal yang serius dengan istri saya?" tanya Alvino yang sudah tidak sabaran.
Dokter itu menatap Alvino lekat dan bergantian dengan mami Lusy. "Ya, ini serius, menyangkut kondisi kesehatan istri anda dan juga bayinya."
Lagi-lagi Alvino dibuat tersentak. Kekhawatiran mulai meracuni pikirannya dengan dugaan-dugaan buruk. Ketakutan lagi-lagi memeluknya erat membuat sesak. Ia menoleh sejenak ke arah ibunya. Perasaan marah menyembul pelan dari balik dadanya.
"Tolong katakan apa yang sebenarnya terjadi dengan istri saya, Dokter?"
..._____π¦π¦ MR π¦π¦_____...
...Selanjutnya β¦....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Holaaaaaaa π ketemu lagi π€π₯°
Terima kasih buat yang selalu menunggu π
Gimana nih gimana? Alvino mau dimaafin gak nih π€£ atau mau di kasih hukuman apa yang cocok kiraΒ² π
Jangan lupa like dan komen yah π₯°π
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
MudahΒ²an nanti malam bisa up lagi π
__ADS_1
Ig author : @ag_sweetie0425