Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Tidak Tega


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Rossa baru saja kembali dari sesatnya pikiran yang mengajaknya berkelana, begitu sebuah sentuhan lembut bertandang di pundaknya.


"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya mami Lusy.


Sedikit tersentak, Rossa spontan menoleh ke samping. "Duh, kaget loh, Mi!"


Perempuan dengan perut membuncit itu mengusap-usap dadanya pelan.


"Makanya, jangan suka ngelamun, Sayang! Itu tadi gak liat ada mobil yang ugal-ugalan? Gak menghindar malah diam aja," omel mami Lusy pada menantunya.


"Hah? Iya kah, Mi?" tanya Rossa tak percaya.


"Astaga, bahkan kamu sendiri gak sadar?" mami Lusy menepuk keningnya.


Anggukan kepala dari Rossa, membuat mami Lusy geregetan ingin sekali marah. Akan tetapi, wanita berusia senja itu tidak akan pernah bisa melakukannya.


"Ya, Tuhan! Sa, Alvino dan papi bisa marah besar sama mami, bahkan mami bisa dihukum kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu." Wanita paruh bayah itu tidak habis pikir.


"Maafkan Rossa yang suka ngelamun, Mi! Nih, Mami liat kan, Rossa gak kenapa-napa." Bumil cantik itu menunjukkan tubuhnya pada sang mertua, dengan sedikit berputar.


"Kan, Mi? Mami bisa liat sendiri kan?" tanya Rossa berulangkali pada mertuanya.


Mami Lusy membuang nafasnya sedikit kasar, tanpa menjawab pertanyaan Rossa, ia langsung beranjak dari hadapan menantunya.


"Mi, mau ke mana?" Rossa menahan langkah mami Lusy.


"Tunggu sebentar saja, Sayang!" Kembali ingin melangkah, tetapi Rossa dengan cepat mencegahnya.


Bumil itu bergerak dari tempatnya berdiri ke arah mertuanya.


"Mami mau ninggalin aku lagi? Nanti aku ngelamun seperti tadi, gimana?"

__ADS_1


Mami Lusy menatap perempuan hamil yang berstatus menantunya itu dengan sedikit berpikir.


"Kamu duluan tunggu mami di mobil yah, mami mau nyamperin mobil tadi. Mami mau buat perhitungan sama sopirnya," ucap mami Lusy.


Rossa sedikit kaget, tetapi sepersekian detik ia tersenyum. "Buat apa, Mi? Udah Rossa bilang kan, Rossa gak kenapa-napa. Nih, mantu Mami masih berdiri sehat di depan Mami."


"Sayang, masih mending mami yang bergerak gini. Bayangkan saja kalau suamimu tahu dan dia yang sendiri bertindak? Mau yang mana?" Wanita tua itu sungguh geram dengan pengemudi tadi.


"Usahakan jangan sampai dia tahu, Mi!" pinta Rossa.


Bumil itu menyapu sekitar sana dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Apa yang dilakukannya terbaca sistem penglihatan sang mertua. Wanita paruh baya itu tahu, bahwa menantunya sedang mencari-cari keberadaan anak buah Alvino di sekitar sana.


"Syukurlah," gumam Rossa lega. Ia mengira tidak ada penjagaan dari anak buah yang ditempatkan Alvino di dekatnya.


"Mobil yang mana sih, Mi?" tanyanya.


"Tuh," tunjuk sang mertua.


Pandangan Rossa mengikuti arah telunjuk mami Lusy. Keningnya berkerut begitu melihat mobil yang dimaksud. Sesuatu yang tidak asing seolah menyibak kembali sedikit ingatannya.


Kayak kenal mobilnya … siapa yah?


Ah, mobil model gitu kan banyak. Bukan cuman satu. Mikir apa sih, aku.


Rossa menggeleng menepis dugaannya yang tak berasas sama sekali.


"Kenapa, Sa?" tanya mami Lusy.


"Eh, eng-enggak kenapa-kenapa, Mi. Ayo, kita pulang aja! Mungkin sopirnya mabuk aku kurang sehat." Rossa mengajak mertuanya agar segera pergi dari sana.


Tidak ingin membuat sang menantu semakin kelelahan karena lama berdiri, mami Lusy pun mengikuti saran calon ibu muda itu.


Mereka kembali ke mobil dan langsung melesat dari sana. Awalnya, agenda mereka akan jalan-jalan lebih lama hari ini, tetapi kejadian tadi mengurungkan niat mami Lusy.


Ia tidak ingin membuat putranya yang pemarah dengan level emosi tak terkendali itu menggila. Lagipula, Rossa adalah prioritas seluruh keluarga besar Dharmawan. Kesehatan, kenyamanan, dan keselamatan gadis itu yang terutama bagi mereka.


Selain rasa cinta dan sayang yang besar pada gadis itu, mami Lusy pun mengingat calon penerus keluarga Dharmawan yang harus dilindungi.


Pada akhirnya, rencana mereka tidak lagi diteruskan. Mobil berbalik arah menuju kediaman Dharmawan saat itu juga.


...*****...

__ADS_1


"Kamu jangan gila, Filensya!" bentak Felix.


Wanita itu tersentak bukan main. Untuk pertama kalinya ia dibentak sang kakak. Emosinya semakin memuncak dan ia tidak ingin tinggal diam.


"Kakak yang gila! Ngapain diam saja liatin perempuan itu?" Suaranya melengking memenuhi seisi mobil.


"Kakak lupa tujuan kita? Dia salah satunya yang haru kita habisi!" pekik Filen penuh penekanan.


Felix menunduk sembari mengusap wajahnya kasar. "Tidak, Filen!"


Suara Felix mengecil, dan perkataannya membuat sang adik terbelalak tidak percaya.


"Kakak kenapa sih?" Filen ikut menurunkan nadanya.


Felix terlihat membuang nafasnya dengan kasar. "Jangan lakukan itu, Fil. Lihatlah, dia sedang mengandung, dan … kakak … kakak gak tega, Sayang!"


Felix menjatuhkan kepalanya dan membenturkan pada kemudi, sedangkan Filen tersentak tidak percaya. Kedua bola matanya membulat sempurna bahkan nyaris melompat keluar.


Matanya memicing menyorot tajam sang kakak. "A-apa yang Kakak bilang tadi? Tidak tega?"


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋🦋_____...


...Selanjutnya …....


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Hay semuanya, 👋 ketemu lagi 🤗


Pagi ini satu bab dulu yah 😁 Satu bab lagi menyusul siang atau sore yah, guys 🥰


Jangan lupa, like, komen, dan Vote!!!


Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗

__ADS_1


__ADS_2