Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Menua Bersamamu


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


...*...


Buana kembali diselimuti gelap. Angin malam menerbangkan hembusan khasnya yang menusuk. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Alvino tidak mau berpindah sedikit pun dari sisi istrinya. Sejak pulang kantor dari siang sampai pertengkaran dan sekarang berakhir di rumah sakit, lelaki tampan itu belum juga mandi dan makan.


Sudah beberapa kali diajak ayah dan ibunya, tetapi jawabnya tetap sama, belum lapar. Ia takut beranjak sedikitpun dari sana. Duduknya saja dengan jemari yang terus bertaut. Padahal dokter sudah mengatakan jika saat ini kondisi istrinya sudah stabil, hanya saja masih tertidur dengan pengaruh obat yang diberikan dokter.


"Vin, kamu dari tadi belum makan dan mandi, kamu juga harus istirahat, Nak." Untuk yang kesekian kalinya sang ibu membujuk Alvino.


Alvino menggeleng dengan kepala yang tertunduk bertumpu pada bibir ranjang pasien. Ia tengah memejamkan matanya sekedar menghilangkan lelah.


"Kamu tidak percaya sama mami? Mami ada di sini untuk menjaganya." Mami Lusy belum juga menyerah.


"Mami sama Papi pulang aja. Biar Vino yang di sini." Malas berdebat dengan ibunya.


"Kalo gitu mami juga akan tetap di sini. Papi aja yang pulang." Putus mami Lusy yang lelah membujuk Alvino. Wanita paruh baya itu kembali menuju sofa dan merebahkan tubuh lelahnya di sana.


"Papi juga mau di sini saja. Udah ah, Papi mau istirahat." Menyusul istrinya ke sofa. "Vin, jagain mantu papi, yah. Awas kalau sampai dia bangun dan tidak ada orang, kamu papi pecat dari perusahaan." Ancaman yang bukan benar-benar ancaman.


Alvino mengangkat kepalanya dan memutar bola matanya. "Memangnya ada yang bisa gantiin Vino? Siapa lagi yang Papi andalkan untuk mengurus perusahaan dan bisnis Papi? Siapa, hah? Udah deh, jangan sok ngancem," ucap Alvino dan kembali merebahkan kepalanya.


"Lah, ini anak, gak tau emang kalo papi udah punya calon pemimpin baru, hah? Papi pastikan dia lebih hebat daripada kamu. Biar papi kasih ingat kalo kamu lupa. Dia cucu papi. Penerus papi selanjutnya. Jangan macam-macam kamu." Lelaki tua itu lalu bergegas tidur dengan senyum yang menghiasi wajah keriputnya.


Mendengar itu, Alvino terkekeh pelan lalu mengangkat kepalanya lagi dengan mata yang tertuju ke perut Rossa.


"Hai, calon pemimpin. Kamu dengar 'kan? Betapa mereka sangat menantikan kehadiranmu. Tetaplah kuat dan sehat di dalam sana sampai lahir nanti, yah" Mengusap perut istrinya. "Belum lahir saja kamu sudah berhasil menyita perhatian mereka, bahkan ingin menyingkirkan aku?" Alvino tersenyum lebar. "Kalau sama perhatian mereka boleh saja, aku tidak keberatan. Tapi kalau perhatian mami kamu … ayo, kita saingan!" Lagi Alvino terkikik sambil mengusap perut besar istrinya. Sejak tadi ia merasa terhibur dengan mengajak bicara makhluk kecil di dalam sana.


Ia menoleh ke belakang melihat kedua orangtuanya yang sudah berbaring berdempetan di sofa. Ada sebuah perasaan bahagia yang memercikan satu harapan yang sama kala melihat pemandangan itu.

__ADS_1


Kembali ia menatap wajah damai Rossa. Tangan yang tidak pernah ia lepaskan itu, diangkatnya lalu ditempelkan ke pipinya.


"Maafkan aku yang selalu menyakitimu." Sesalnya. "Tapi sekarang, aku ingin menua bersamamu seperti mami dan papi," bisik Alvino sangat pelan. "Tapi kenapa belum bangun, sih? Udah tidur dari tadi juga," gerutunya. Benar, ia sedikit kesal menunggu sang istri yang belum juga bangun dari tidurnya. Bukannya bosan, tetapi Alvino ingin memastikan jika istrinya memang baik-baik saja. Juga ia ingin mengatakan banyak hal untuk gadis cantik yang masih lelap dalam tidurnya itu.


Malam kian larut, dan rasa kantuk mulai menjerat Alvino. Tidak sanggup mengelak dan membebaskan diri, Alvino menyerah dan terseret dalam tidur yang membuai dengan tangan yang tidak pernah lepas menggenggam tangan Rossa.


...*****...


Di kesunyian jauh malam pada pukul 2 dini hari, seseorang baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya. Matanya terbuka perlahan dan mengerjap berulang kali menyesuaikan dengan pencahayaan dalam ruangan. Saat ia ingin melepaskan alat penyambung oksigen di hidungnya, ia merasakan berat menindih sebelah tangannya yang terbebas infus.


Gadis yang tidak lain adalah Rossa, berusaha menundukan pandangannya, dan ia tertegun melihat siapa yang tengah tertidur beralaskan telapak tangannya.


Dia? …


Sejujurnya Rossa ingin menikmati rasa senang yang mulai berlomba-lomba menghampirinya, tetepi kembali ia menyadarkan dirinya, bahwa ia tidak berhak untuk mengecap rasa bahagia itu. Sebab pikirnya, lelaki itu tidak akan pernah bisa membuka hatinya, lelaki itu tidak akan pernah menganggap dirinya ada.


Mungkin dia hanya kasihan melihat aku yang terbaring lemah.


Ia tersenyum perih.


Mengingat pertengkaran mereka tadi di rumah. Tidak ingin terus berspekulasi dengan pikirannya sendiri, Rossa berusaha melepaskan penyambung oksigen dari hidungnya dengan sebelah tangan yang tertancap infus. Gerakan kecil yang ia lakukan, rupanya berhasil mengusik tidur Alvino.


Lelaki itu terbangun dan kaget mendapati istrinya yang tengah berusaha melepaskan benda yang masih terpasang di hidung bangirnya. Spontan Alvino pun berdiri dan membantu melepaskan benda tersebut.


"Makasih, Kak," ucap Rossa sangat pelan hampir berbisik.


Alvino tersenyum sembari menunduk dan mengusap kepala istrinya. "Kenapa gak bangunin aku?" tanyanya lembut. Rossa membuang wajahnya ke samping tidak sanggup melihat wajah Alvino yang berada tepat di atasnya.


Lelaki itu semakin tersenyum lebar melihat sikap acuh dan malu-malu sang istri.


"Ada yang kamu butuhkan?" tanya Alvino lagi.


Rossa menggeleng lemah. "Gak ada. Kakak tidur aja. Ini masih jauh malam. Kan besok kakak harus ke kantor," ucap Rossa tanpa menoleh memandangi lawan bicaranya.


Alvino semakin menunduk lalu menangkup lembut pipi Rossa dengan sebelah tangannya, mengarahkan ke wajahnya. Terpaan nafas hangatnya memberikan getaran di hati Rossa.


"Kenapa khawatirkan aku, hm? Aku yang mengkhawatirkan diri kamu." Menatap mata sayu Rossa dengan lembut penuh cinta. "Aku di sini untuk menjaga dan menemani kamu." Tatapan Alvino menilisik manik coklat Rossa, menembus hatinya dan dengan mudah meruntuhkan semua benteng kokoh yang dibangun, untuk melindungi sekeping hatinya yang telah lama rapuh.

__ADS_1


Rossa terpaku dan terperosok dalam rasa yang ditawarkan Alvino lewat tatapannya. Ia terdiam bahkan tidak memiliki daya meski hanya secuil untuk mengalihkan pandangannya.


"Sekarang katakan, kamu butuh apa?" tuturnya masih saja lembut.


"A-ak-aku mau mi-mi-num." Rossa terbata gugup, tidak bisa menghindar.


"Baiklah, Nyonya Alvino! Wait for a moment." Sebelum beranjak, tidak lupa ia memberikan satu kecupan di kening istrinya.


Alvino menegakan badannya dan berlalu dari hadapan Rossa dengan senyum kemenangan. Sedangkan wajah pucat yang sedari tadi terpampang di sana, mandadak berubah dihiasi rona merah yang menyembul di kedua pipinya.


Bangunkan aku dari tidurku, aku takut tenggelam dalam mimpi. Haruskah aku memaafkannya?


..._____πŸ¦‹πŸ¦‹ MR πŸ¦‹πŸ¦‹_____...


...Selanjutnya …...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Hay semuanya πŸ‘‹ ketemu lagi πŸ€—


Tidak bosan-bosannya aku mau ngucapin Terima kasih buat kalian yang selalu setia menunggu cerita ini.


Jangan pada bosan mampir dimari yah, sayang²ku 😘


Perbiasakan untuk tinggalkan jejaknya (like, komen, kembang, vote dan favoritkan) like dan komen aja udah lebih dari cukup kok, sayang πŸ₯°


Sampai jumpa di episode berikutnya yah πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425

__ADS_1


__ADS_2