Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Keputusan Alvino


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...____________________...


...*...


...*...


...*...


Suana mencekam di depan ruang IGD saat itu, berganti ricuh dengan perdebatan antara Alvino dan kedua orang tuanya. Dia bersikeras tidak ingin memilih salah satu dari keduanya.


"Lakukan apapun, Dokter. Selamatkan anak dan istri saya. Dokter pasti bisa menyelamatkan keduanya. Akan saya bayar berapapun yang Anda mau. Semua harta saya bahkan jika itu tak cukup, ambil saja nyawaku. Ambil, Dokter!" Alvino terisak memohon di kaki sang dokter.


Tidak tahan melihat putranya yang terlihat begitu menyedihkan, papi Dharma ikut sujud dan memeluk putra semata wayangnya itu.


"Sadar, Vin. Rossa semakin tidak tertolong di dalam sana. Berikan persetujuan kamu, atau kamu akan kehilangan dia selamanya."


Alvino langsung mengangkat pandangannya menatap sang ayah. Papi Dharma pun menangkup wajah putranya, lalu balas menatap dengan sorot tegas.


"Kamu seorang pemimpin yang luar biasa. Kamu cukup bijak menyikapi setiap permasalahan baik pribadi maupun di perusahaan. Kamu bisa menentukan keputusan besar yang sudah banyak menguntungkan perusahaan kita selama ini. Maka berikan keputusan terbaik kamu saat ini juga. Papi percaya sama kamu. Mana jagoan papi yang selalu menegakkan kepalanya? Mana Vino-nya papi yang tidak pernah tunduk pada siapapun? Kamu pernah hancur karena mengalah pada takdir, kali ini jangan lagi, Nak. Tentukan takdir kamu sendiri, dan jangan pernah menyerah terhadap apapun." Papi Dharma memberikan kekuatan lewat lisan, bersama dengan beberapa tepukan kuat pada pundak kekar putranya yang tengah lemah saat itu.


Setiap ucapan sang ayah yang menelusup ke telinganya, bagai dering alarm membangunkan jiwa yang tadi sempat mati. Alvino mengusap jejak basah pada pipinya. Baru saja mulutnya hendak berucap, seorang perawat wanita berlari keluar dari dalam ruang IGD, mengagetkan semua yang ada di sana.


"Maaf, Dokter, kondisi pasien sudah sangat lemah," ucap sang perawat dengan cepat dan tampak panik.


"Selamatkan istri saya, Dokter!" Alvino bangkit kemudian secepat kilat meraih tangan sang dokter, lalu berucap dengan sangat berat dan terpaksa.

__ADS_1


Saat dokter mengangguk dan hendak berbalik, suara Reza kembali membuat tegang suasana yang sangat mendesak kala itu.


"Tunggu, Dokter! Maaf, tapi Nona Rossa berpesan untuk menyelamatkan anaknya."


Semua mata langsung tertuju padanya. "Tidak! Selamatkan putri saya, Dokter. Sekarang juga, jangan dengarkan apapun lagi!" Tegas papi Dharma.


Beliau harus bertindak tegas begitu melihat Alvino yang kembali goyah. Dokter pun segera berlalu masuk ke dalam sana, tapi Alvino menahan langkahnya.


"Izinkan saya masuk menemani istri saya, Dokter! Saya tidak akan melakukan apapun, hanya akan diam di sampingnya." Alvino menatap harap.


...*****...


Satu jam berlalu, pintu ruang IGD belum juga terbuka. Sepasang suami-istri paruh baya masih setia menunggu di sana. Reza dan tiga orang yang tadi dihajar Alvino juga masih berdiri tegak tanpa beranjak sedikitpun dari sana.


Semua mereka menanti dalam diam yang penuh harap. Sementara itu, jauh beberapa meter dari tempat di mana mami Lusi dan lainnya berada, tampak dua gadis tengah menangis menyaksikan semua yang terjadi di depan ruang IGD tersebut.


Jenn yang paling terpukul saat itu. Ia merasa dejavu, mengingat insiden dirinya yang keguguran sepuluh bulan yang lalu. Membayangkan itu, Jenn takut, sangat takut, hal yang sama terhadap sahabatnya.


Selamatkan Rossa dan bayinya, Tuhan. Jangan biarkan dia merasakan kehilangan yang sama sepertiku dulu! Selamatkan dia dan bayinya, selamatkan dia dan bayinya ....


Berulangkali Jenn mengucapkan perkataan yang sama, di sela-sela tangisnya.


Berbeda lagi dengan suasana di dalam ruang IGD. Alvino berdiri di dekat kepala istrinya, menggenggam tangan halus dan lembut itu penuh cinta berbalut ketakutan dan rasa hancur. Tak hanya itu, ada ketidakrelaan yang bersarang di dalam dadanya.


Tidak ingin melihat kenyataan yang menyakitkan, lelaki itu berdiri dalam diam sambil menenggelamkan kepalanya di dekat sang istri. Ia begitu mendekatkan kepala mereka bahkan saling menempel, dengan genggaman tangan yang tidak mengendur sedikitpun.


Kuatlah dan bertahanlah untukku! Kau telah berjanji untuk selalu ada di sampingku, menemaniku hingga rambut kita memutih bersama.

__ADS_1


Jangan lagi menghancurkan duniaku! Bagaimana kau berpikir untuk menyelematkanya, dan malah meninggalkan aku? Kau yang telah membawa terang dalam hidupku, kau adalah penawar untuk setiap racun yang menggerogoti jiwaku. Kau menjadi tabib yang menyembuhkan setiap sakit dan lukaku.


Jika kau tak lagi ada, lantas untuk apa aku hidup? Hampa, gelap, dan tak ada artinya. Bertahanlah untukku, kuatlah untuk lelaki yang tak berdaya ini. Bangunlah dan membalas genggamanku, menanami langkahku menyusuri musim dan waktu di kehidupan ini ....


Alvino masih kuat menahan diri agar tidak lagi menangis. Matanya terus terpejam, hingga satu jam lebih berlalu sudah, ia masih tetap setia dalam posisinya. Hening yang melingkupi seisi ruangan itu, tiba-tiba terpecah dengan suara tangisan nyaring nan merdu.


"Tuan!"


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya .......


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Holaaaa, AG kambek 😁


Jangan lupa like dan komen yah 😍


Semoga puas dan, sampai jumpa di episode berikutnya 🤗

__ADS_1


__ADS_2