Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Ingin Dilayani Istri


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Alvino yang kesal dengan Alex beserta keluarganya, memilih keluar bersama Rossa. Lelaki itu menarik lembut tangan istrinya meninggalkan kamar calon bayi mereka.


"Budayakan ketuk pintu dan permisi," ucap Alvino ketus dan langsung berlalu dari sana.


Brakkk!


"Kenapa ke sini, Kak? Aku mau istirahat di kamar aja." Rossa bingung, ia hanya mengikuti saja ketika Alvino menariknya.


Alvino menuntun gadis itu menuju tempat tidur king size-nya, mendudukkannya dengan lembut di sana. Sesudah itu Alvino ikut merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Kamu bisa istirahat saja di sini." Menepuk sisi kosong di sebelahnya.


"Ng-nggak bisa, a-ak-aku ...." Rossa masih begitu kaku. Meski malam di rumah sakit mereka tidur bersama, tetapi tetap saja situasi ini masih teramat canggung baginya. Lagian, ini kamar Alvino.


Sejak hari pertama menjadi istri pajangan laki-laki pemarah itu, jauh sebelumnya sudah ada jurang yang membentang di hadapan keduanya. Baik Rossa maupun Alvino, menjaga privasi masing-masing dan tidak berniat untuk saling memasuki ranah pribadi.


Untuk Rossa sendiri, ia masih berdiri teguh di garis batas miliknya. Memegang erat sekat yang masih tersusun rapi di ingatannya. Sekat yang dicetuskan Alvino berbulan-bulan lalu. Kamar ini privasinya, dan Rossa tidak ingin memasuki ranah ini, tidak ingin mengusik apapun tentang kehidupan laki-laki itu.


Terlepas dari semua itu, pernikahan tanpa cinta yang memperlihatkan jelas kebencian Alvino padanya, sudah cukup membuatnya tahu diri. Agar ia mampu menahan rasa serta langkahnya untuk tetap pada posisinya yaitu bukan siapa-siapa. Ia bertahan dan teguh dalam keasingan.


Berbeda dengan Alvino yang entah dengan sengaja atau bodohnya, pura-pura lupa dengan segala aturan yang dibuatnya sendiri. Ia melanggarnya, menerobos batas yang ia ciptakan sendiri, menghalau aral yang terbentang di depan mata. Dengan tidak tahu malunya, ia masuk tanpa izin dalam ranah privasi Rossa. Berulang kali mengusik hidup gadis berparas ayu itu. Membuat Rossa hampir saja lupa bahwa pernah ada jurang yang membuat mereka begitu jauh dan terasa asing.


"Kenapa?" Alvino mengubah posisi berbaringnya menjadi lebih rileks. "Bukankah ini yang tadi kamu pikirkan tadi?"


Rossa membuang wajahnya menyembunyikan rona merah di kedua pipinya. Alvino tahu isi kepalanya.


"Kemarilah, aku juga ingin beristirahat sebentar sebelum kembali ke kantor." Alvino menarik lembut tangan Rossa dan akhirnya gadis itu berbaring di sampingnya. Tidak ingin membiarkan waktu berlalu dengan percuma, Alvino membawa tubuh padat berisi itu dalam masuk pelukannya.


Hening merajai selama hampir 10 menit. Rossa yang mengantuk tak jua terpejam. Meskipun begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa rasa nyaman tengah membalutnya.


Terdengar embus nafas yang teratur dan berirama pelan. Mata elang dengan tatapan tajam yang sering menancapkan panah di hatinya, tengah tertutup sayu dan terlihat damai. Alvino tertidur.


Hanya untuk bergerak saja Rossa takut. Takut membangunkan Alvino. Ia berdiam dengan posisi yang tidak berubah sedikitpun. Menatap seraut wajah tampan yang menurut banyak orang sangat menyebalkan, termasuk dirinya. Ah, tetap saja Rossa mencintainya.


Kalau diam begini … lebih tampan dan manis sekali.

__ADS_1


Rossa gemas sendiri melihatnya. Tangannya tidak tahan untuk menyentuh pahatan indah di wajah lelaki itu. Namun, ketika tangannya hampir mendarat dan hanya berjarak beberapa senti saja sudah menyentuh kulit wajah Alvino, ketukan di pintu berhasil menghentikannya.


Tok.


Tok.


Tok.


Rossa tertekan. Ingin menyahut, takut mengganggu tidur Alvino. Ingin menggoyangkan tubuh kekar yang sedang mengurungnya saat itu, rasa tak tega mencegah niatnya.


Tok.


Tok.


Tok.


Sekali lagi bunyi ketukan itu mengusik Rossa.


"Vin, Vino!"


Itu suara mami, duh … mana tidurnya nyenyak banget lagi.


"Vin, Alex sudah menunggu dari tadi. Katanya mau balik ke kantor." Ibunya masih mencoba memanggil.


"Sa, Rossa. Waktunya makan siang hampir lewat, Nak. Mami tunggu kalian di bawah, bilang sama suami kamu, Alex menunggunya!"


"Kak, Kakak," panggil Rossa pelan. Belum ada respon. "Kakak!" Sedikit meninggi dengan guncangan kecil di lengan Alvino. "Kak, ba …."


"Aku sudah mendengarnya, Sayang." Alvino bangkit setelah membuat jantung Rossa berdebar tak karuan. Laki-laki itu langsung menuju kamar mandi.


Hobi banget bikin orang kaget, gak permisi-permisi dulu.


Gerutu Rossa dalam hati. Lagi-lagi ia harus mendadak menahan nafas saat Alvino tiba-tiba menautkan bibir keduanya tanpa permisi. Rossa belum terbiasa dan selalu dibuat kaget dengan hal itu.


Tidak lama Alvino sudah kembali dari kamar mandi dengan wajah yang sudah segar. Handuk kecil di tangannya ia berikan untuk Rossa.


"Tolongin, Sayang." Alvino berjongkok di depan istrinya yang tengah duduk di bibir ranjang. Rossa dengan cepat mengambil handuk kecil itu lalu mengeringkan bulir-bulir air yang menetes di wajah serta ujung rambut suaminya.


"Sudah," ucap Rossa singkat dengan senyuman. Alvino berdiri dan menuju ruang ganti. Tidak lama ia keluar dengan kemeja yang lain.


Rossa menundukkan wajahnya kala melihat lelaki itu berjalan ke arahnya dengan semua kancing yang masih terbuka. Sepertinya ia sengaja.


Ia berdiri menjulang di depan istrinya. "Tolong dikancingkan, Honey," pinta Alvino.


"I-itu Kakak 'kan punya tangan." Ia terbata masih terus menunduk.

__ADS_1


"Tanganku sakit, lagian tidak serapih tanganmu, Hon." Alasan. "Please, aku juga ingin merasakan dilayani istriku. Apa aku salah?" Menaikan wajah Rossa dengan telunjuknya.


Secuil hati Rossa terenyuh mendengar perkataan suaminya yang terkesan merengek manja. Bukan suatu paksaan atau tuntutan atas sebuah kewajiban.


Rossa berdiri dengan perlahan. Meskipun wajah ayunya terasa panas karena menahan malu, tetapi ia tetap melakukan apa yang diminta lelaki itu dengan gerakan kaku dan sedikit gemetaran. Setelah susah payah meyelesaikan tugas pertamanya, Alvino kembali menjulurkan kedua tangannya. Rossa paham dan langsung menggulung lengan baju suaminya sampai sebatas siku.


"Thank you, Honey!" Tidak lupa kecupan singkat berlabuh sebentar di bibir mungil Rossa.


Alvino berbalik menghadap cermin lalu ia merapikan rambutnya hanya dengan menggunakan jemari. Tidak lupa sentuhan parfum ia tebarkan pada tubuhnya. Aroma musk menguar memenuhi penciuman Rossa. Ah, sekali lagi ia jatuh cinta pada. Hanya dengan wangi tubuhnya saja Rossa jatuh cinta.


Alvino berbalik dan menangkap senyum kecil serta gelengan kepala gadis itu.


"Aku tahu aku tampan. Kau mengakuinya kan?" Alvino tersenyum dengan satu kedipan.


Rossa membuang pandangannya ke sembarang arah mengusir gugup yang tak bisa terelakkan. Alvino meraih tangannya lalu mereka bergegas keluar.


"Benar tidak mau mengakui ketampananku?" tanya Alvino iseng menggoda istrinya.


"Iya, sangat tampan dan juga menyebalkan." Rossa langsung menutup mulutnya sendiri.


Alvino tergelak. "Never mind! Yang penting kau mencintaiku." Ia sedikit membungkuk. "It's more than enough for me," bisik Alvino.


Keduanya terus melangkah menuruni anakan tangga dengan binar wajah penuh cinta dan bahagia.


..._____πŸ¦‹πŸ¦‹ MR πŸ¦‹πŸ¦‹_____...


...Selanjutnya …...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Hay semuanya πŸ‘‹ Ketemu lagi πŸ€—


Maap kemarin gak up 🀭 Maaaaaaapppp banget 😘


Terima kasih buat kalian yang selalu setia menunggu πŸ™πŸ€—


Jangan lupa like dan komen yah sayang²ku 😘

__ADS_1


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425


__ADS_2