
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
"Boleh, gak Rossa minta dia buat tinggal?" Menunjuk pelayan wanita yang diajak berkenalan waktu itu.
"Saya?" Pelayan muda yang bernama Tari, menunjuk dirinya sendiri.
Rossa mengangguk.
"Untuk apa, sih?" Nada tidak suka jelas terdengar.
"Nemenin aku. Kan nanti Kakak mau ke kantor, Papi juga banyak urusan, Mami juga harus istirahat," terang Rossa.
"Kata siapa aku ke kantor? Gak! Aku akan selalu di sini nemenin kamu. Sudah, kalian pulang saja." Mengibaskan tangannya memberi kode agar dua orang itu keluar dari ruang rawat Rossa.
"Mami, boleh yah." Merengek pada mertuanya.
Sang ibu tampak sedikit berpikir. "Hmm, boleh juga. Bukan ide yang buruk. Nanti mami yang akan menemani juga. Papi sama Vino pergi saja," putus wanita berusia senja itu menyetujui ide sang menantu.
Rossa tersenyum sedangkan Alvino membuang nafasnya kasar. Ia meletakkan makanan untuk istrinya di atas nakas.
"Aku yang suapin kalo begitu." Nadanya galak, tidak ingin dibantah.
Akhirnya, pak sopir yang pulang sendiri, dan Rossa pun makan disuapi Alvino. Sang ibu dan ayahnya teramat bahagia menyaksikan kesenjangan yang telah terpatahkan di antara hubungan kedua anak mereka. Pelayan muda itu pun turut bahagia melihatnya.
"Sini, jangan berdiri saja di situ." Rossa memanggil Tari.
"Tidak apa-apa, Nona. Saya di sini saja." Merasa sungkan. Selain itu, ia pun takut dengan tatapan Alvino. Rossa memahami itu. Dalam hatinya, semoga pagi cepat datang dan suaminya yang pemarah itu segera ke kantor.
...*****...
Hari menggulung gelap, cahaya fajar mengusir kabut. Embun menitikan tetes terakhir dan segera lari bersembunyi.
Waktu sudah pukul 06.45 pagi. Rossa masih terlelap. Setelah makan di waktu subuh tadi, rasa kantuk menyerangnya dan ia pun tertidur, dengan meminta Tari yang menemaninya. Karena ia ingin supaya suaminya pun bisa tidur sebentar sebelum pagi menyapa. Alvino pun melanjutkan tidurnya di sofa, di samping sang ayah. Sedangkan mami Lusy memilih menemani pelayan wanita yang menjaga Rossa.
__ADS_1
Pagi itu Alex datang menjemput Alvino di rumah sakit, sekaligus ingin menjenguk istri dari atasannya itu. Semalam ia tidak bisa datang karena lembur menyelesaikan pekerjaan Alvino yang banyak terbengkalai akhir-akhir ini. Ya, lelaki pemarah itu akhir-akhir ini tidak fokus dalam bekerja, sebab pikirannya terus terganggu dengan sosok sang istri. Akhirnya ketidakhadiran dirinya membuat pekerjaan Alex menumpuk.
"Masih ngantuk, Vin?" tanya Alex yang mendapati Alvino baru bangun dengan tampang acak-acakan dan pakaian dari kemarin masih melekat di badannya. "Sorry, semalam gue gak bisa datang …," ucapnya terhenti.
"Hm, gak papah, i know. Thank you, Lex." Berterima kasih karena memiliki teman baik yang selalu memahami situasinya. Ia bangkit dari sofa dan menatap ke arah ranjang. Maminya juga sedang tertidur dengan bertopang pada ranjang pasien di sana. Alvino melangkah mendekat.
"Mi, Mami," panggilnya pelan. Tidak ingin istrinya terganggu. "Pindah aja ke sofa. Kayak gini nanti Mami pegel lagi."
Wanita paruh baya itu terbangun dan mengikuti saran anaknya. Sementara Alvino mengusap kepala Rossa dengan lembut dan menghadiahkan satu kecupan di sana sebelum ia berlalu ke kamar mandi.
"Gak usah sirik," ucapnya mendapati keterkejutan di wajah temannya. Alvino langsung bergegas menutup pintu kamar mandi meninggalkan Alex yang termangu di sana.
"Eh, gue gak salah liat nih?" tanya Alex entah pada siapa.
"Mata kamu masih baik kok, Lex. Dari kemarin dia begitu pada istrinya," ucap Tuan Dharma yang baru terbangun.
"Eh, Om? Selamat pagi." Alex sedikit menunduk memberi salam. "Benarkah? Wah, bagus dong Om, Alex ikut senang mendengarnya," ucap Alex bersemangat.
Siap-siap bucin pastinya nih, ha-ha-ha. Gue gak sabar menonton pertunjukannya.
Alex tertawa dalam hati.
Tidak sampai beberapa menit, Alvino sudah keluar.
What the f**k, manusia kutub ini bahkan tidak tahu malu lagi. Ya, ya, sudah seharusnya, tapi gak ada malu-malunya sama sekali woiii …
Batin Alex memekik antara senang dan kesal, karena ia tahu bahwa Alvino sengaja melakukan itu di depannya.
"Tolong, jaga istriku baik-baik. Jangan meninggalkannya sedetikpun," pesan Alvino pada Tari, pelayan wanita itu. Sang pelayan mengangguk patuh. "Vino, berangkat, Pi." Berpamitan pada sang ayah dan segera berlalu dari sana diikuti Alex.
"Ehem, gue …."
"Jangan tanyakan apapun, Lo udah tahu jawabannya," potong Alvino.
Keduanya kini berjalan menuju parkiran rumah sakit. Alex tidak lagi bertanya. Ia memilih bungkam dan menikmati raut bahagia yang mendominasi dari raut kantuk di wajah garang atasan sekaligus temannya. Tiba di parkiran, keduanya segera masuk ke mobil dan melesat dengan cepat dari sana.
Begitu sampai di rumah, Alvino bergegas keluar dari mobil dan memasuki rumah. Langkahnya terhenti di ruang tamu melihat tumpukan barang-barang dalam kemasan besar tersusun rapi di sana.
"Apa ini?" tanyanya penasaran.
"Itu barang-barang yang dibelikan Nyonya dan Nona kemarin, Tuan. Baru datang agak sorean setelah Nona dilarikan ke rumah sakit." Kepala pelayan rumah itu menjelaskan.
__ADS_1
Alvino berbalik menatap Alex di belakangnya. "Sebanyak ini dan tidak ada notifikasi pengeluaran?" Alex menggeleng membuat Alvino membuang nafasnya kasar. Ia bisa melihat nama toko yang tertera di sana. Dari situ, ia bisa tahu apa saja isinya. Alvino menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "Nanti setelah Vino kembali dari kantor baru membereskannya. Tolong buatkan kopi, yah Bu."
Alvino langsung bergegas menaiki tangga dan menuju kamarnya. Ia mandi dan berganti dengan terburu-buru. Hanya butuh 25 menit ia kembali turun dan menikmati sarapan dengan secangkir kopi. Alex pun yang belum sempat sarapan di apartemennya, ikut sarapan bersama Alvino.
"Bu, nanti tolong buatkan sarapan juga untuk mami dan papi, yah. Makanan buat Rossa, seperti yang sudah aku bilang tadi. Tolong antarkan dengan pakaian ganti buat mereka," pinta Alvino.
"Baik, Tuan."
Hanya beberapa menit, Alvino dan Alex menyelesaikan sarapan mereka. Sebelum keluar, ia hendak mengintip kamar istrinya sejenak. Alvino membuka pintu dan masuk. Kekacauan yang ia ciptakan kemarin, semuanya sudah tertata rapi kembali. Alvino mendekat ke arah ranjang dan mendapati gawai istrinya di atas nakas.
Cepat-cepat Alvino mengambil dan mengeceknya. Mungkin saja ada sesuatu di sana yang bisa mengungkapkan identitas seseorang di balik pertengkaran hebat kemarin.
Alvino menemukan beberapa panggilan tidak terjawab dan juga beberapa pesan dari nomor tidak dikenal. Seketika gemuruh amarah menerjang dadanya begitu membaca isi pesan tersebut.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hei yooooooouuuuu, aku balik lagi 😅🤗
Lumayan lah gak bisa tidur karena hidung yang mampet 😪 Akhirnya aku teruskan saja bab selanjutnya 🥰 Baik kan aku 😅😅😅
Karena itu, Jangan lupa untuk selalu like dan Komen.
Terima kasih atas segala bentuk dukungannya yah, guys 🙏
Makasih kak @Reni Tri buat vote-nya 🙏🙏
Jangan pada bosen yah 🥰
Dan sampai jumpa lagi di episode berikutnya 🤗
__ADS_1
Ig author : @ag_sweetie0425